Apa kabar imanmu hari ini calon
imamku? :D
semoga selalu dekat dan dalam kasih sayang-Nya.
Calon imamku, siapa kamu masih
belum aku tahu. Apakah kau orang yang telah lama ku kenal, atau sama sekali
belum aku kenal. Apakah rumah kita jauh atau justru masih terbilang dekat.
Apakah kamu tau bagaimana setiap hari-hariku, tangis tawaku, warna favoritku,
atau sama sekali tidak tau apapun tentangku sebelumnya. Jangan khawatir calon
imamku, bagiku tetap ada do’amu yang telah turut mengiringi setiap langkahku,
walau mungkin kau tidak merasa mendo’akanku.
Calon imamku, aku belajar untuk
berdamai dengan kenyataan bahwa setiap dari kita ditakdirkan untuk bertemu
banyak insan, sebelum akhirnya berlabuh pada insan yang paling tepat dari-Nya.
Bila aku telah begitu banyak bertemu insan yang mungkin pernah aku turutkan
perhatian pada mereka, percayalah bahwa perhatian itu tidak lebih dari
perhatian kepada teman, sahabat atau kepada sesama saudara seiman. Kalaupun
memang dunia pernah bersaksi bahwa aku pernah dekat lebih dari sekedar teman
dengan mereka, Allah yang lebih tau. Allah yang maha tahu bagaimana aku
berupaya menjaga agar tidak memberikan rasa yang tidak pada koridor
ketentuan-Nya. Meski akupun tidak menyangkal bahwa sebagai insan biasa aku
mungkin tidak sempurna dalam menjaga diri ini, banyak sekali tingkahku yang
masih salah, yang masih membuat orang lain merasakan sesuatu kepadaku. Mohon
maafkanlah aku, calon imamku. Kelak setelah Ia menunjukkan dirimu, maka segala
hal yang baik yang pernah aku rasakan karena orang lain, untuk orang lain, semoga
dapat sepenuhnya beralih karenamu, untukmu, satu saja. Insya Allah akan aku
limpahkan segala perhatian, do’a, cinta dan sayangku hanya satu padamu.
Calon imamku, aku tidak tahu
bagaimana perjuanganmu hingga kelak dapat menemukanku. Mungkin engkau sama
sepertiku, pernah dikelilingi oleh berbagai insan yang juga menaruh perhatian
dan rasa padamu. Sekalipun aku tidak dapat melihat betapa besar upayamu untuk
tetap menjaga cintamu, tidak akan meruntuhkan percayaku padamu. Bilapun pernah
suatu waktu kau hampir pula memberikan rasamu itu pada yang lain, aku tak
masalah selama kau kini telah tuntas menghilangkannya, atau mengganti
curahannya padaku kelak. Karena aku percaya setiap mozaik kehidupan kita kadang
perlu membuat kita pernah mengalami ini dan itu agar dapat memahami suatu hikmah
atau bahkan banyak hikmah. Tetapi bila kau sungguh juara dalam menjaga dirimu,
syukurku panjatkan pada Allah yang tiada hingga. Engkau begitu baik, engkau
tidak sempurna tetapi engkau senantiasa mendekat pada yang Maha Sempurna
sehingga dapat menjaga diri dan kesucian cintamu dengan sempuran untukku yang
masih jauh dari sempurna.
Calon imamku, aku tidak tahu sudah
sampai mana kini perjalananmu. Terimakasih pada Allah atas waktu penantian yang
masih Allah berikan kepadaku. Dalam masa penantian ini, aku percaya engkau
sedang sibuk mempersiapkan segalanya untuk menjemputku, untuk merenda masa
depanmu yang kelak tidak akan sendiri lagi. Setiap malam engkau berdo’a
pada-Nya, setiap hari engkau belajar banyak hikmah dari lembaran harimu, dari
begitu banyak buku yang kau baca, begitu banyak teladan Rasul yang kau contoh.
Calon suamiku, tahukah kamu bahwa aku
cukup memiliki satu kategori untuk menerima pinanganmu kelak yakni insan yang mencintai
Allah dan Rasul-Nya. Cukup bagiku satu kategori itu karena segala kebaikan
dunia dan akhirat akan ter-cover
dengan satu kategori itu saja. Calon suamiku, kategori itu aku buat bukan
berarti aku menginginkan seorang sholeh yang telah begitu soleh atau segalanya
telah baik, karena bagiku mencintai adalah proses berkelanjutan bukan hasil akhir. Setiap orang
bisa mencintai-Nya dan mencintai Rasul-Nya, sebagai apapun ia. Tetapi bukan
berarti aku akan menerima begitu saja semua orang yang mencintai Allah dan
Rasul-Nya. Allah yang akan tunjukkan pada ku, tidak perlu engkau yang berupaya
menunjukkanya. Allah Maha teliti menerangi mata hati untuk hamba-Nya. Semoga aku
termasuk hamba-Nya yang senantiasa memiliki ketajaman mata hati. Kelak aku akan
melihatmu, mengenalmu sebagai kategori itu lewat cahaya-Nya, insya Allah. Semoga
begitupula dirimu.
Calon suamiku, aku disini sedang
belajar untuk menyambut kedatanganmu kelak dan mengumpulkan perbekalan untuk
bahtera rumah tangga kelak. Aku masih banyak kekurangan, belum bisa ini dan
itu, belum memahami ini dan itu. Maka waktu penantianku padamu semoga dapat aku
manfaatkan dan optimalkan
sebaik-baiknya untuk memperbaiki kekuranganku itu, kebelum bisaanku itu. Tidak
lupa, insya Allah akan selalu aku do’akanmu dalam setiap langkahmu. Aku begitu
percaya segala keselamatan yang Allah berikan padaku, diadalamnya turut pula
karena do’amu, meski kita belum pernah bertemu atau mungkin telah berteman
sejak dulu. Semoga pula do’aku turut berperan andil dalam setiap langkahmu,
aamiin :D
Di waktu yang telah Allah tentukan
dan tetapkan, semoga Allah pertemukan kita dalam ikatan yang diridhoi-Nya, aamiin :D
Salam
rindu dari: Calon penyejuk mata &penawar hatimu (calon istrimu)
Vita Oktaviani

Tidak ada komentar:
Posting Komentar