Subang atau Bandung
Dua kota pilihan ku saat ini
untuk belajar mengajar yang masih aku usahakan. Kenapa hanya dua kota itu? Pertanyaan
itu kini akan aku balik kenapa bisa dua kota itu? Bukankah pertanyaan itu akan
lebih mendekatkanku pada rasa bersyukur? Aku mulai belajar dan masih terus
belajar mendewasa dengan membijak, memandang segala sesuatu dari kacamata
positif. Banyak hal di dunia ini yang masih harus terus aku gali hikmahnya.
Mungkin itulah mengapa salah satu guruku pernah berkata bahwa selama manusia
hidup, selama itu pula lah proses
pendewasaannya. Kini ku rasa bahwa mendewasa itu terkait dengan membijak.
Pernah aku uraikan sebelumnya tentang alibi ku terkait yang tidak mau optimal
yang aku jadikan itu bukanlah alibi, karena aku sungguh bisa memilih untuk
lebih menjadikannya sebenar-benar alasan yang membuat hidup lebih nyaman. Maka
kini terkait kota tempat ku ingin mengabdi pun aku memilih untuk menggunakan
kacamata positif dan kesyukuran. Karena dengan itulah Allah mendatangkan rasa
ketenangan dan keyakinan berkali lipat daripada aku melihatnya dengan kacamata “hanya”
(negatif).
Sebenarnya disini aku ingin
mencoba memetik hikmah dari dua kota itu. Dulu ketika aku baru wisuda dan
memang sudah aku rencanakan dari sejak dulu bahwa aku ingin kelak dapat
mengabdi (belajar mengajar) itu di Subang, karena aku merasa di Bandung sudah
banyak guru, sedang di kota kelahiran sendiri masih banyak “PR” yang harus
dikerjakan, aku pernah menyebutnya dengan “Subang adalah sebuah PR besar”.
Akupun sedikit tersadarkan akan ucapan salah satu temanku yang berkata bahwa
kebanyakan orang yang dia tanyakan tentang karir setelah lulus, hampir semua
menjawab akan di luar Subang, lebih tepatnya Bandung, dll. Walaupun adapula
keraguanku akan mengajar dimana kalau di Subang, tetapi aku merasa begitu
terpanggil untuk mengabdi di Subang. Salah satu sahabatku yang telah mengabdi
di Bandung sempat berucap padaku, kenapa tidak mencoba mengajar di Bandung saja,
aku dulu dengan mantap berkata tidak, aku memilih di Subang. Mungkin pada saat
itu aku kurang bijak dan terlalu merasa kepedean, hingga seolah aku termakan
oleh perkataan ku sendiri. Seiring kenyataan yang ada dan setelah dipikirkan
lebih baik adalah akan lebih baik kalau aku mengajar di Bandung mengingat nanti
insya Allah aku juga akan mulai kuliah lagi di Bandung. Aku jadi teringat
beberapa kejadian yang hampir serupa yaitu tentang menentukan pilihan. Diantaranya
yang aku ingat adalah tentang kuliah S1, aku dulu ingin sekali kuliahnya di UPI
dan entah mengapa ketika melihat jas almamater UIN dulu di salah satu akun
facebook kaka kelasku, aku merasa tidak mau ke UIN, tetapi ternyata Allah
menghendaki yang sebaliknya, Allah berikan kesempatan kepadaku untuk berkuliah
S1 di UIN dengan sangat nyaman dan semoga barokah. Mahsa Allah.. Mundur lagi ke
belakang, ketika aku sekolah menengah, SMP, awalnya aku ingin sekali bisa di
pesantren di Al-Muhajirin Purwakarta seperti teteh aku, tetapi Allah memberikan
aku kesempatan bersekolah di SMPN 1 Purwadadi namun dengan dapat mengaji di
At-Tarbiyyah. Lalu ketika SMA, aku sempat ingin masuk SMANSA, tapi Allah
memberikan aku SMADI dengan segala karunia dari Nya. Oh iya, bahkan tempat
ngaji pun, dulunya aku ada pikiran mau mengaji di salah satu tempat ngaji yang
sama dengan tetehku, tetapi Allah memberiku kesempatan untuk dapat mengaji
bahkan hingga aku hendak masuk perguruan tinggi dengan sahabat-sahabat yang
super, dibimbing guru-guru ngaji yang juga super. Aku dulu berniat mau ikut
organisasi HMP lalu naik ke Senat, tetapi Allah memberikan amanah HMP dengan
sangat lengkap. Kostan, tadinya aku berniat mau pindah kostan ke kostan A, dan
Allah memberikan aku keluarga di kostan B yang sangat menentramkan. Aku
berharap kelak yang dapat maju ketika wisuda dengan predikat cum laude itu
banyak, dan Allah memberikan aku hadiah yang tidak terduga, Allah memberikanku
kesempatan untuk maju mewakili begitu banyak sahabatku yang juga cum laude jadi
hanya yang ‘terbaik’ versi prodi (hmp) lah yang maju. Allahu akbar...
Dan aku tadinya berniat ingin jurusan pend. IPA S2 nya agar aku bisa ikutan beasiswa ataupun sampai bisa double degree, Allah kembali memberikan yang lebih baik untukku yakni pend. Fisika. Allah selalu punya pilihan yang terbaik, Allah Maha Baik sekali pada aku. Dari segalanya itu, hakikatnya yang aku rasakan adalah semua yang Allah berikan merupakan yang aku butuhkan. Aku boleh saja berencana A atau B, atau A-Z, tetapi Allah senantiasa Maha Tahu yang terbaik. Tetapi hal baik itu hanya dapat diperoleh atau disadari oleh hati yang terbuka oleh cahayaNya, hati dan jiwa yang telah begitu berusaha dan berdo’a dengan sungguh-sungguh. Maka inilah aku yang kini memohon padaNya agar Allah menguatkanku untuk dapat mengabdi di tempat yang terbaik yang dipilihkan-Nya. Begitupula tentang sang imam (jodoh) ku kelak. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosaku yang pernah berkata tidak mau ini atau itu, sementara aku pun belum tentu lebih baik dari yang dimaksudkan. Maka tugas yang harus selalu manusia lakukan sebagai hamba Allah adalah berusaha dan berdo’a dengan sungguh-sungguh dan senantiasa memohon petunjuk Allah. Segala takdir yang baik yang merupakan pilihan terbaik dari Allah itu tidak akan mampu terjadi bila tanpa rahmatNya kepada kita, semua hanya karena kemurahan dan kasih sayang Allah. Maka selalu ingatlah wahai diri, lakukan segala sesuatu untuk Allah, karena, bersama, dan untuk Allah.
Subang ataupun Bandung nanti, semoga disitulah Allah semakin ridho dan mencurahkan rahmatNya kepadaku, aamiin ^^