Senin, 10 Oktober 2016

Filsafat Sains

Dalam logika sains:
a)      Penemuan Sains (Context of Scientific Discovery)

b)      Pembenaran (Context of Justification)

MODERN AWAL
Francis Bacon (1561-1626): Metode sebagai Kunci Kepada Pengetahuan (Induktif & Observatif)

A.      Gagasan:
1.       Mereformasi filsafat dan sains
2.       Menghilangkan pengetahuan tradisional dengan pengetahuan baru menggunakan metode baru untuk menyusun dan menjelaskan berbagai fakta
3.       Membebaskan sains dari lilitan pengetahuan tradisional (takhayul, dll)
4.       Menciptakan filsafat baru yang didasarkan pada metode pengamatan baru dan penafsiran baru atas alam
5.       Kelemahan utama: tidak ada hipotesis, karena agar betul-betul dapat memperbaiki pemikiran Aristoteles dan karena Eropa akan terjebak oleh hipotesis.

B.      Context of Justification:
1.       Advancement of learning & Novum organum (alat observasi ilmu baru/pengamatan)
2.       Bersihkan dulu pikirannya (idol-idol pikiran, penyakit pengetahuan)
3.       Metode induktif (melalui kemungkinan memperoleh hukum-hukum dari observasi sederhana tentang fakta-fakta serta urutannya.

C.      Context of Discovery:
1.       Lingkup kebudayaan:
Masyarakat dapat terlepas dari pemikiran takhayul dan mulai berpikir logis
2.       Lingkup islam:
Umat islam mulai meninggalkan hal-hal takhayul.
3.       Lingkup pendidikan:
Ilmuwan harus jujur, bersih dari prasangka-prasangka terutama pengaruh agama. Siswa diarahkan kepada pengetahuan yang benar dengan sebelumnya diluruskan dulu dari hal-hal yang berbau takhayul.
                                                                                              #HILANGKAN PRASANGKA :D





Rene Decrates (1596-1650): Kepastian & Batas-batas Pengetahuan (Rasio atau Akal)


A.      Gagasan
1.       Ia meragukan kebenaran filusuf sebelumnya, sehingga munculah keinginan yang kuat untuk menemukan sesuatu yang baru dan abadi dalam sains di dalam dunia filsafat.
2.       Ia memandang dirinya sebagai seorang yang tidak memiliki indera apa-apa. Semua tindakan yang ia lakukan (seperti: makan, berjalan, dsb ) tersebut berasal dari jiwa.
3.       Sumber pengetahuan manusia adalah akal atau ide.
4.       Akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal.

B.      Context of Justification
1.       Menempatkan segala hal dalam keraguan (metode keraguan)
2.       Keraguan memunculkan kepastian (sifat ilmu pasti)
3.       Meneliti segala sesuatu secara teliti

C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan:
Kebudayaan yang baru.
2.        Lingkup islam:
Adanya Ijtihad (keberanian untuk berpikir bebas), dan membuktikan kebenaran hakikat Tuhan.
3.       Lingkup pendidikan:
Tidak mudah menerima pendidikan, harus diteliti dulu.

                #Sumber Ilmu Akal => batas-batas pengetahuan (ujung ilmu = akal)





John Locke (1632-1704): Empirisme di Inggris (Pengalaman cara kerja rasio dengan objek-objek sains)

A.      Gagasan
1.       Pengetahuan didapatkan dari pengalaman (hasil interaksi antara indera dan akal) dan bukan dari bawaan lahir.
2.       Pengalaman memberikan dua sumber pengetahuan yaitu ‘sensasi ‘ dan ‘refleksi’
3.       Kualitas primer dan kualitas sekunder digunakan untuk menjelaskan bagaimana mendapatkan suatu gagasan.
4.       Kualitas suatu ide atau gagasan tergantung pada sesuatu yang mendasarinya atau tergantung pada subtansinya.

B.       Context of Justification
1.       Locke menyatakan bahwa seluruh pengetahuan bersumber dari pengalaman manusia dan bukan dari bawaan.
2.       Pandangan Locke mengenai agama bersifat deisme (pandangan hidup atau ajaran yang mengakui adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta, tetapi tidak mengakui agama karena ajarannya berdasarkan atas keyakinannya pada akal dan kenyataan hidup).
3.       Tingkatan-tingkatan pengetahuan:
a.       Intituitive knowledge (serta merta)
ð  kepastian kita ada
b.      Demostrative knowledge (pikiran kita masuk kedalam percobaan untuk menemukan kesesuaian atau ketidaksesuaian ide-ide dengan meminta perhatian atas ide-ide lain)
ð  Mengindikasikan bahwa Tuhan ada
c.       Sensitive knowledge
ð  Orang dan benda yang lain eksis tapi hanya sebagaimana adanya mereka pada saat kita mengalami mereka.

C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan
Budaya masyarakatnya selalu dalam situasi harmonis, dimana semua manusia memiliki kebebasan dan kesamaan hak yang sama.
2.       Lingkup islam
Berdasarkan pembuktian, manusia merupakan makhluk yang berakal budi sehingga pastilah disebabkan adanya tokoh pencipta yang mutlak dan Maha Kuasa.
3.       Lingkup pendidikan
Adanya rasa ingin tahu mengenai ilmu pengetahuan, sehingga dilakukan penelitian-penelitian ilmiah yang dilakukan melalui serangkaian eksperimen.







David Hume (1711-1766): Empirisme & Batas-batas Pengetahuan (Hukum Sebab Akibat dalam Sains)


A.      Gagasan
1.       Pengetahuan yang berangkat dari sejumlah hasil observasi pengalaman yang ditentukan oleh ditentukan oleh hukum sebab-akibat.
2.       Sebab dan akibat bisa ditemukan, tidak oleh akal tetapi oleh pengalaman, akan dengan mudah diakui dengan memandang objek tertentu.
B.      Context of Justification
1.       Metode sebab-akibat
2.       Metode pengalaman
C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan => karena terpengaruh jaman dulu
2.       Lingkup islam => akibat perbuatan buruk = dosa/siksa, akibat perbuatan baik = pahala/selamat
3.       Lingkup pendidikan => bila siswa rajin = pandai, bila siswa malas = bodoh.




PUNCAK MODERNISME

Immanuel Kant (1724-1804): Seperti apa kiranya pengetahuan itu? (Sintesa Aprio sebagai Dasar Ilmiah)


A.      Gagasan
1.       Pengetahuan merupakan hasil kerja sama 2 unsur, yaitu pengalaman inderawi (a posteriori) dan keaktifan rasio (a priori/logis, pengetahuan murni)
2.       Sifat operasional a posteriori adalah sintesis (menghubungkan), sedangkan a priori adalah analisis (analisa subjek)
3.       Putusan analitis adalah putusan yang didalamnya keterkaitan predikat dengan subjek dipikirkan melalui identitas sedangkan putusan sintesis adalah keterkaitan yang dipikirkan tanpa identitas.
4.       Menurut sains teoritis, semua penalaran putusan sintesis a prior berisi prinsip-prinsip:
a.       Proposisi matematis secara mutlak selalu disebut putusan a prior karena mereka membawa keputusannya.
b.      Sains alam (fisika) berisi putusan sintesis a priori sebagai prinsip-prinsip (semua hub. gerak, aksi dan reaksi harus selalu sama).
c.       Metafisika, sebagai suatu sains yang diperlukan harus berisi pengetahuan sintesis a priori.
B.      Context of Justification
1.       Baik rasionalisme maupun empirisme kedua-duanya berat sebelah. Pengetahuan merupakan hasil kerja sama dua unsur, yaitu pengalaman inderawi (a posteriori) dan keaktifan rasio (a priori)
2.       Syarat dasar bagi ilmu pengetahuan adalah bersifat umum (universal) dan bersifat perlu mutlak, dan memberi pengetahuan baru. Baik empirisme maupun rasionalisme tidak memenuhi syarat-syarat yang dituntut oleh ilmu pengetahuan.

C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan
Sesuatu budaya tapi kadang disesuaikan dengan keadaan.
2.       Lingkup islam
Hukum-hukum fiqh dalam Al-Qur’an diterjemahkan.
3.       Lingkup pendidikan
Metode pembelajaran, seorang guru harus dapat menyesuaikan dengan kondisi peserta didiknya dan mampu mengembangkan metode tersebut sedemikian rupa, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.




Auguste Comte (1798-....): Munculnya Positivisme di Prancis (Fenomena & Positivisme)


A.      Gagasan
1.       Filsafat Comte anti metafisis sehingga ia hanya menerima fakta yang ditemukan secara postive ilmiah, yaitu dari gejala-gejala.
2.       Gagasan humanitas dalam agama (religion of humanity) yang mengatakan bahwa manusia adalah pengganti Tuhan di dunia dan agam diciptakan untuk Tuhan tapi untuk manusia.
3.       Unsur afeksi memainkan peran yang paling penting dalam kehidupan
4.       Tujuan utama Comte adalah mereorganisasikan total masyarakat.
5.       Positivisme berbasis faktawi yang sifatnya empiris => similitude

B.      Context of Justification
1.       Teori postivisme memiliki dua ciri pokok:
a.       Bersifat negatif
   Yaitu menolak asumsi bahwa alam memiliki beberapa tujuan tertinggi atau tujuan akhir.
b.      Positivisme mementingkan suatu usaha untuk menemukan ‘esensi’ dan sebab-sebab rahasia tentang berbagai hal
2.       Hukum tentang fenomena:
“Kita tidak memiliki pengetahuan tentang apapun kecuali fenomena, dan pengetahuan kita tentang fenomena itu relatif, tidak absolut”.
3.       Hukum tiga tahap:
a.       Tahap teologis, fenomena dijelaskan sebagai pengada yang disebabkan oleh kekuatan ilahiah.
b.      Tahap metafisis, konsep tentang keilahiahan diganti dengan kekuatan abstrak dan impersonal.
c.       Tahap positivistik atau ilmiah, hanya relasi yang konstan antar fenomenalah yang dipertimbangkan dan semua usaha untuk menjelaskan hal-hal tersebut yang mengacu pada pengada di balik pengalaman kita dihentikan.
4.       Sains Sosiologi. Ada dua hal yang mendominasi: komponen statis dan komponen dinamis.
5.       Comte menerjemahkan konsep kemahakuasaan. Kekuasaan manusia memiliki tiga bagian utama: wanita, kependataan, dan ploretariat.
6.       Mendirikan agama versi sekuler katolik Roma (agama kemanusiaan).

C.       Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan:
Masyarakat menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan tidak bergantung mitos dan berbagai legenda karena semua itu akan membawa masyarakat menjadi bodoh. Jadi, kehidupan harus bergantung pada kehidupan  yang nyata, pasti, dan rasional.
2.       Lingkup islam:
Umat islam harus lebih berijtihad bukan hanya sekedar taqlid. Ijtihad itu didasarkan pada pemikiran yang rasional, berbagai penelitian yang ilmiah, dan berdasarkan sesuatu yang nyata, bukan metafisika.
3.       Lingkup pendidikan
Pendidikan diarahkan pada suatu tujuan yang realistis. Pengembangan kurikulum ditekankan suatu proses penciptaan siswa yang rasional dan empiris. Sehingga penelitian harus berbasis pada penelitian dan kebenaran yang pasti dan inderawi.





MODERN AKHIR
Alfred Jules Ayer (1910-.....): Test Verifikasi (Verifikasi)

A.      Gagasan
1.       Positivisme yang dianut Ayer adalah Positivisme Logis yang lebih menaruh perhatian pada logika dan bahasa sains.
2.       Hanya pemikiran yang dapat diperiksa kebenaran secara empirislah yang memiliki makna.
3.       Menjadikan verifikasi sebagai tolak ukur untuk menentukan konsep tentang makna.

B.      Context of Justification
1.       Prinsip verifikasi =>  Hanya pemikiran yang dapat diperiksa kebenaran secara empirislah yang memiliki makna
2.       Suatu kalimat secara faktawi bermakna bagi seseorang jika dan hanya jika dia dapat mengetahui bagaimana cara menguji kalimat tersebut.
3.       Kriteria yang digunakan untuk menguji keaslian pernyataan-pernyataan yang menampilkan fakta (kenyataan) adalah kriteria verifiabilitas.

C.      Context of Discovery
1.      Lingkup kebudayaan
Interaksi masyarakat yang dilakukan secara verbal akan lebih mementingkan makna yang harus dipahami oleh lawan interaksi, sehingga menjadi berkurangnya obrolan masyarakat yang tidak berguna.
2.       Lingkup islam
Umat islam akan selalu mencari kebenaran tentang apa yang mereka percayai didasarkan pada pemikiran yang rasional (berijtihad).
3.       Lingkup pendidikan
Jika pemikiran Ayer tentang makna diintegrasikan dalam suatu kurikulum maka akan menghasilkan prilaku siswa yang berkarakter, seperti jujur, sopan santun dalam berbicara, dll.



Karl Raimund Popper (1902-....): Permasalahan Teori Metode Ilmiah (Falsifikasi)


A.      Gagasan
1.       Suatu teori dikatakan ilmiah bukan karena sudah dibuktikan tetapi dapat diuji.
2.       Popper mengusulkan untuk mengadopsi aturan-aturan yaitu yang disebut popper “metode empiris” yang berkaitan erat dengan kriteria demakrasi untuk menentukan ketahanan daya uji pernyataan ilmiah, yang diseut juga falsifiabiti.
3.       Ilmu pengetahuan harus digolongkan dengan menggunakan sebuah metode (menghadapkannya dengan sebuah sistem ilmiah).

B.      Context of Justification
1.       Propper menolak asas verifiabilitas (Ayer) dan menemukan teori falsifiabilitas “kemungkinan bisa diujinya suatu teori”.
2.       Menolak metode induktif dan menggantinya dengan metode sains empiris.

C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan: sistematis, aturan.
2.       Lingkup islam: penalaran logis (ijtihad).
3.       Lingkup pendidikan: metode ilmiah.




POSTMODERN

Thomas S. Khun (1922-....): Hakikat & Keniscayaan Revolusi Ilmiah

[Paradigma & Incommensurability (antara paradigma yang satu tidak bisa saling mendahului)]
A.      Gagasan
1.       Sains berjalan utamanya dengan menafsirkan secar revolusioner bentuk-bentuk suatu paradigma ilmiah menggantikan paradigma yang lain.
2.       Tujuan Khun utamanya historis bukan filosofis.
3.       Tanpa komitmen pada suatu paradigma tidak akan ada sains yang normal.
4.       Sejarah dapat menyajikan informasi esensial tentang hakikat sains.

B.      Context of Justification
1.       Khun berargumentasi bahwa paradigma itu esensial bagi sains.
2.       Paradigma bukan hanya diselesaikanoleh logika dan eksperimen tetapi juga oleh sejarah.

C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan:
Menjadikan masyarakat tidak melupakan sejarah/kebudayaan Indonesia.
2.       Lingkup islam: bergantung paradigma dan akulturasi budaya
3.       Lingkup pendidikan: dalam mempelajari paradigma, dapat diperoleh teori, metode dan standar bersama-sama.






Richard Rorty (1951-....): Solidaritas atau Objektivitas (Menyoal Objektivitas dalam Sains)


A.      Gagasan
1.       Objektivitas merupakan sebagian bentuk yang tersembunyi dari ketakutan atas kematian komunitas.
2.       Kebenaran dapat disederhanakan kedalam pembenaran.

B.      Context of Justification
1.       Tak ada satupun yang kebal dari kritik.
2.       Menghentikan perbedaan tradisional antara pengetahuan dan opini ynag terbangun.
3.       Anti fondasionalisme (anti kemapanan) => tidak ada pondasi yang kokoh.
4.       Solidaritas => kesepemahaman dalam ilmu.

C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan:
Tidak mudah menerima dan menolak suatu kebudayaan baru, musyawarah (mencari solusi terbaik).
2.      Lingkup islam:
Keyakinan terhadap Tuhan selalu mengalami peningkatan karena adanya pembuktian baru.
3.       Lingkup pendidikan
Metode dialogis yaitu memperbicangkan bahan ajar dari berbagai pandangan.





 Referensi:
Irawan. 2013. Tokoh-tokoh Filsafat Sains dari Masa ke Masa. Bandung: Intelekia Pratama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar