Minggu, 16 Oktober 2016

teruntuk Calon Imamku yang masih dirahasiakan-Nya ^_^


Apa kabar imanmu hari ini calon imamku? :D
semoga selalu dekat dan dalam kasih sayang-Nya.
Calon imamku, siapa kamu masih belum aku tahu. Apakah kau orang yang telah lama ku kenal, atau sama sekali belum aku kenal. Apakah rumah kita jauh atau justru masih terbilang dekat. Apakah kamu tau bagaimana setiap hari-hariku, tangis tawaku, warna favoritku, atau sama sekali tidak tau apapun tentangku sebelumnya. Jangan khawatir calon imamku, bagiku tetap ada do’amu yang telah turut mengiringi setiap langkahku, walau mungkin kau tidak merasa mendo’akanku.

Calon imamku, aku belajar untuk berdamai dengan kenyataan bahwa setiap dari kita ditakdirkan untuk bertemu banyak insan, sebelum akhirnya berlabuh pada insan yang paling tepat dari-Nya. Bila aku telah begitu banyak bertemu insan yang mungkin pernah aku turutkan perhatian pada mereka, percayalah bahwa perhatian itu tidak lebih dari perhatian kepada teman, sahabat atau kepada sesama saudara seiman. Kalaupun memang dunia pernah bersaksi bahwa aku pernah dekat lebih dari sekedar teman dengan mereka, Allah yang lebih tau. Allah yang maha tahu bagaimana aku berupaya menjaga agar tidak memberikan rasa yang tidak pada koridor ketentuan-Nya. Meski akupun tidak menyangkal bahwa sebagai insan biasa aku mungkin tidak sempurna dalam menjaga diri ini, banyak sekali tingkahku yang masih salah, yang masih membuat orang lain merasakan sesuatu kepadaku. Mohon maafkanlah aku, calon imamku. Kelak setelah Ia menunjukkan dirimu, maka segala hal yang baik yang pernah aku rasakan karena orang lain, untuk orang lain, semoga dapat sepenuhnya beralih karenamu, untukmu, satu saja. Insya Allah akan aku limpahkan segala perhatian, do’a, cinta dan sayangku hanya satu padamu.

Calon imamku, aku tidak tahu bagaimana perjuanganmu hingga kelak dapat menemukanku. Mungkin engkau sama sepertiku, pernah dikelilingi oleh berbagai insan yang juga menaruh perhatian dan rasa padamu. Sekalipun aku tidak dapat melihat betapa besar upayamu untuk tetap menjaga cintamu, tidak akan meruntuhkan percayaku padamu. Bilapun pernah suatu waktu kau hampir pula memberikan rasamu itu pada yang lain, aku tak masalah selama kau kini telah tuntas menghilangkannya, atau mengganti curahannya padaku kelak. Karena aku percaya setiap mozaik kehidupan kita kadang perlu membuat kita pernah mengalami ini dan itu agar dapat memahami suatu hikmah atau bahkan banyak hikmah. Tetapi bila kau sungguh juara dalam menjaga dirimu, syukurku panjatkan pada Allah yang tiada hingga. Engkau begitu baik, engkau tidak sempurna tetapi engkau senantiasa mendekat pada yang Maha Sempurna sehingga dapat menjaga diri dan kesucian cintamu dengan sempuran untukku yang masih jauh dari sempurna.

Calon imamku, aku tidak tahu sudah sampai mana kini perjalananmu. Terimakasih pada Allah atas waktu penantian yang masih Allah berikan kepadaku. Dalam masa penantian ini, aku percaya engkau sedang sibuk mempersiapkan segalanya untuk menjemputku, untuk merenda masa depanmu yang kelak tidak akan sendiri lagi. Setiap malam engkau berdo’a pada-Nya, setiap hari engkau belajar banyak hikmah dari lembaran harimu, dari begitu banyak buku yang kau baca, begitu banyak teladan Rasul yang kau contoh. Calon suamiku, tahukah kamu  bahwa aku cukup memiliki satu kategori untuk menerima pinanganmu kelak yakni insan yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Cukup bagiku satu kategori itu karena segala kebaikan dunia dan akhirat akan ter-cover dengan satu kategori itu saja. Calon suamiku, kategori itu aku buat bukan berarti aku menginginkan seorang sholeh yang telah begitu soleh atau segalanya telah baik, karena bagiku mencintai adalah proses  berkelanjutan bukan hasil akhir. Setiap orang bisa mencintai-Nya dan mencintai Rasul-Nya, sebagai apapun ia. Tetapi bukan berarti aku akan menerima begitu saja semua orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah yang akan tunjukkan pada ku, tidak perlu engkau yang berupaya menunjukkanya. Allah Maha teliti menerangi mata hati untuk hamba-Nya. Semoga aku termasuk hamba-Nya yang senantiasa memiliki ketajaman mata hati. Kelak aku akan melihatmu, mengenalmu sebagai kategori itu lewat cahaya-Nya, insya Allah. Semoga begitupula dirimu.

Calon suamiku, aku disini sedang belajar untuk menyambut kedatanganmu kelak dan mengumpulkan perbekalan untuk bahtera rumah tangga kelak. Aku masih banyak kekurangan, belum bisa ini dan itu, belum memahami ini dan itu. Maka waktu penantianku padamu semoga dapat aku manfaatkan dan optimalkan sebaik-baiknya untuk memperbaiki kekuranganku itu, kebelum bisaanku itu. Tidak lupa, insya Allah akan selalu aku do’akanmu dalam setiap langkahmu. Aku begitu percaya segala keselamatan yang Allah berikan padaku, diadalamnya turut pula karena do’amu, meski kita belum pernah bertemu atau mungkin telah berteman sejak dulu. Semoga pula do’aku turut berperan andil dalam setiap langkahmu, aamiin :D
Di waktu yang telah Allah tentukan dan tetapkan, semoga Allah pertemukan kita dalam ikatan yang diridhoi-Nya,  aamiin :D


                                                 Salam rindu dari: Calon penyejuk mata &penawar hatimu (calon istrimu)


Vita Oktaviani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar