Minggu, 04 Juli 2021

LURUS

 

Bismillah...

Dimulai dari sebuah keinginan kecil dalam hati dulu semasa masih menjadi mahasiswa, aku berkesempatan melihat gagahnya sebuah institusi yang di dalamnya terharmoni prestasi dan juga pribadi islami. Aku mulai mengenal sekolah tempatku belajar mengabdi kini. Betapa luas, megah, dan yang paling aku iri adalah mereka semua santri. Sebuah status yang dulu akupun inginkan, namun karena negosiasi dengan orang tuaku dulu, belum aku berkesempatan untuk menyandangnya. Ketika itu kulihat mereka sungguh beruntung karena berada di lingkungan yang islami, yang mendukung segala upaya untuk tegaknya kalam Allah di sanubari dan kehidupan sehari-hari. Aku ingat, dulu aku pernah ikut shalat di salah satu masjid akhwat, aku melihat barisan sandal yang banyak, hiruk pikuk santri yang menggunakannya untuk bersegera ke masjid. Aku terawang bangunan terdekat masjid itu yang kutebak sepertinya itu adalah bangunan sekolah. Pohon-pohon besar yang melambai seolah turut berdzikir bersama para santri. Pada barisan sepatu yang rapih di depan asrma/kelas putra. Pada kerudung panjang yang terbentang, rok kotak-kotak abu yang menjadi kekhasan, dan pada keceriaan serta kekompakan santrinya ketika ada suatu acara. Pada keunikan nama-nama jalan yang diambil dari nama-nama daerah di timur tengah. Pada jalan panjang yang turun naik berbelok. Pada udaranya yang sejuk. Pada keramahan setiap sapaan dan senyuman para pegawainya. Akupun mengingat dulu salah satu kelompok yang masuk seleksi lomba Cerdas Tangkas Matematika UPI ketika aku SMA adalah dari sini. Maka akupun agak kepo, apalagi ketika aku kuliah, anak dosen fisika ku, anak guru fisika ku pun turut bersekolah di sini. Terbentuklah dalam pikiranku mungkin inilah salah satu bukti bahwa sekolah islam yang berprestasi itu ya ini salah satunya, dan alhamdulillah ternyata berlokasi di Subang.

Entah bagaimana belum terpikirkan jalan bergabung dengan sekolah ini, sempat tertunda karena aku mau melanjutkan studi ku dulu. Ternyata setelah aku lulus studi S2, Allah berikan pula rasa terimakasih yang genap pada sekolah awalku belajar mengabdi. Maka aku perpanjang dulu mengajarku hingga 3 tahun di sekolahku itu. Ternyata di tahun 2020 itu ada penerimaan kembali dan ada formasi yang cocok denganku. Maka walaupun belum yakin, aku mencoba daftar dan mengikuti segala prosesnya dengan memohon bimbingan Allah. Ternyata pengumuman hasil akhirnya mengalami pengunduran waktu yang cukup lama dan hal itu kembali menimbulkan ragu padaku. Pada dasarnya aku memiliki beberapa pertimbangan. Karena jujur saja bisa dibilang di sekolah lama ku itu juga sudah merupakan zona nyaman bagiku, alhamdulillah dengan segala amanah yang sudah dan akan dipercayakan kepadaku, juga dengan pertimbangan data dapodik yang sudah rapi di sana. Aku konsultasi dulu dengan beberapa rekan guru, meminta masukkan dan pertimbangannya. Aku sempat tidak terlalu percaya diri dengan hasil akhir tesnya karena pada saat wawancara aku merasa belum maksimal, dan pas ditanya tentang CPNS aku dengan jujur dan yakin berkata kalau ada kesempatan aku akan ikut, hehe. Aku tau itu pasti jadi poin minus banget, karena kalau di yayasan kan integritas itu nomor satu, hehe. Namun alhamdulillah kejujujuran itulah yang selama ini menjadi penguatku. Walaupun aku sampaikan pula dengan redaksi kalimat yang baik, jika ada kesempatan mau ikutan tetapi amanah yang duluan dimiliki pun akan ditunaikan dengan baik, insya Allah.

Selama masa menunggu pengumuman itu akupun mencari penguatan, agar apapun hasilnya nanti aku telah siap. Bahkan aku cenderung bersiap dengan kemungkinan aku lanjut di sekolah yang lama. Dan ketika pengumuman tiba, nama aku ada di bagian cadangan II. Disitu posisiku baru habis dari Cimahi, kalau tidak salah habis rapat persiapan tahun pelajaran baru. Perasaanku bercampur aduk, ada rasa syukur walaupun cuman cadangan tidak menyangka juga bisa sampai posisi ini. Ada rasa lega karena di Cimahi pun aku lanjutkan. Bahkan aku sudah ikut masa orientasi sekolah untuk murid baru. Ternyata beberapa hari kemudian aku dihubungi oleh bu Elva, katanya calon pegawai tersebut mengundurkan diri, dua orang, sehingga aku masuk. Ada kebimbangan lagi, antara syukur dan istigfar. Karena aku sudah ttd sama sekolah yang lama. Akupun sampaikan hal itu kepada mama. Selama ini mama juga tahu sekali kalau aku sangat ingin mengajar di sana. Akupun kembali menghubungi beberapa rekan guru, untuk berkonsultasi. Memang berat untuk melepaskan amanah di sekolah yang lama, tetapi aku juga ingin mewujudkan salah satu impianku. Di dalam hatiku ada cita-cita pengintegrasian sains dan islam yang ingin aku coba dan semoga bisa aku terapkan, yang semoga dengan melalui sekolah inilah salah satu jalannya. Akupun ingin terus tumbuh dan berkembang memperbaiki diriku dalam segala aspek, terutama bekal untuk alam akhirat kelak. Alhamdulillah, Allah memberikan aku kekuatan dan kucoba sampaikan dulu ke ibu wakasek kurikulum sekolah lamaku, dan ternyata di luar dugaan, beliau menyampaikan turut bahagia dan lega juga, beliau mengizinkanku, bahkan mendukungku. Maka dengan berurai air mata aku mengucapkan terimakasih kepada beliau. Dan beliau titip tolong carikan guru penggantinya. Akupun mencarinya. Sungguh akupun tidak bermaksud untuk menelantarkan begitu saja amanahku sebelumnya. Maka alhamdulillah, Allah bimbingku untuk menggenapkan dulu mengajar di bulan tersebut, karena masih online dan ada beberapa pertemuan yang ketika aku PPGB. Alhamdulillah, semuanya genap dan lancar, dan semoga berkah.

Sekarang aku ada di sini, kurang lebih insya Allah Agustus nanti adalah genap satu tahun. Aku ditempatkan di Wanareja, sekolah rintisan baru yang masih cukup muda. Di sini cuaca mungkin lebih panas dari cagak, kondisi berbeda pada beberapa hal dibandingkan dengan di cagak. Tapi disinilah atmosfer yang terbaik untukku. Di sini aku memiliki rekan-rekan yang satu frekuensi denganku. Di sini aku belajar bahwa untuk mengajar semuanya belajar lagi, semuanya persiapan dengan sungguh-sungguh. Untuk shalat dhuha aku tidak perlu mencuri-curi waktu lagi. Bisa memiliki waktu banyak untuk tilawah, almatsurat, bahkan liqo dan belajar tahfidz. Ditambah lagi untuk tidur siang sejenakpun alhamdulillah bisa, hehe... Sungguh begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan padaku. Aku malu jika sampai saat ini masih begitu banyak mengeluh dan membandingkan dengan orang lain baik sengaja ataupun hanya pikiran sekelebat. Astagfirullah..ampunilah hamba ya ghafar..

Memang sifat dasar manusia adalah tidak pernah puas. Di sini tentu saja tidak semuanya enak dan berjalan mulus. Banyak hal yang membuat ku menjadi bertanya kenapa begini, kok bisa begitu. Berpikir harusnya jangan begini, harusnya bukan begitu. Ya itu semua wajar, karena semua itu jugalah yang membuat kita terus belajar mengambil hikmahnya. Akupun tidak sempurna dan banyak kekurangan dan kesalahan, tetapi yang terpenting adalah sejauh mana dan setajam apa mata hatiku Allah bukakan untuk dapat merefleksi dan mengevaluasi diri. Aku malu, selama ini hanya karena Allah tutupi kesalahan dan kelalaianku, maka mungkin bisa jadi orang lain hanya melihat hal yang baiknya saja dariku, astagfirullah... Sedangkan misal ada kesalahan orang lain yang jelas nampak, mungkin oleh Allah sembunyikan kebaikannya agar mereka terjaga dari sifat-sifat sombong dan semacamnya. Ya Allah, ampunilah hamba. Ampunilah segala dosa-dosa hamba. Maka sebagai manusia biasa sebisa mungkin ingatlah bahwa kita tidak boleh sekalipun merendahkan orang lain atau memandang buruk pada orang lain, ini salah satu pesan dari rekanku di sini yang luar biasa. Allah sudah menakar kelebihan dan kekurangan seseorang itu dengan ukuran yang terbaiknya. Sebagai hambaNya, kita harus terus memperbaiki diri, melupakan kebaikan kita dan mengingat kesalahan kita. Pun sebaliknya, melupakan kesalahan orang lain dan mengingat kebaikannya. Masih banyak hal yang menjadi PR bagiku, masih banyak yang harus dievaluasi, dimuhasabahi, dan diperbaiki.

Ada sebuah persimpangan lagi di depan sana, namun aku masih dalam kondisi belum bisa memutuskannya. Jalan mana yang akan aku ambil. Aku ingin sungguh-sungguh menata kembali niat dan impian dalam hatiku ini, dan memohon petunjuk pada Allah. Agar jalan manapun itu kelak kujalani dengan ridho-Nya, dengan tuntunan dan genggaman tanganNya. Pada dasarnya tidak ada jalan yang salah, semua jalan ada resiko dan tantanganya tersendiri. Namun, semoga Allah berkenan menunjukkan kepadaku jalan mana yang paling dekat denganNya, yang sungguh-sungguh jalan yang lurus. Seperti ayat yang selalu kita baca “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus”. Alhamdulillah pada webinar kemarin bersama prof. Agus Purwanto dijelaskan salah satunya tentang yang dimaksud jalan yang lurus ini, yaitu :


Semoga Allah selalu menuntun langkah kaki kita semua, aamiin...


Allahumma wafiqna ya Allah...









By : Vietha_Okta