Rabu, 16 Agustus 2017

Merdeka 72 Tahun Indonesia Kita


DIRGAHAYU RI ke 72 :D

Merdeka, atas berkat rahmat  Allah yang Maha Kuasa. Alhamdulillah hari ini negeri kita Indonesia genap 72 tahun merdeka. Segala pengorbanan dan perjuangan para pendahulu kita semoga Allah balas dengan pahala yang terus mengalir, aamiin. Segala kesalahan dan kerusakan yang mungkin pernah kita lakukan sebagai generasi saat ini, semoga Allah ampuni. Semoga Allah limpahkan karunia dan keberkahan-Nya kepada kita semua bangsa Indonesia dimanapun berada, aamiin.

Berawal dari mencoba mendefinisikan arti merdeka. Betapa ada makna yang berhubungan dengan pondasi kehidupan kita yaitu tauhid. Kita dikatakan sudah merdeka yang sebenarnya bila kita sudah benar-benar memurnikan niat kita hanya karena Allah, merdeka dari segala macam sifat ingin dilihat orang lain, ingin mendapatkan penilaian dan pengakuan dari orang lain. Kenapa begitu? Karena itulah sendi utama kehidupan kita. Permasalahan dunia, berbangsa bernegara, bahkan urusan akhirat semuanya bertolak dari tauhid. Rasulullah SAW diutus untuk menegakkan kalimat tauhid. Maka sebagai seseorang yang ingin menjadi hamba Allah yang sejati dan ingin terdaftar sebagai umat Nabi Muhammad SAW, sudah menjadi tugas kita jugalah untuk dapat menegakkan tauhid di dunia ini. Dimulai dari diri sendiri tentunya.

Aku ingin bercerita tentang kaitan tauhid ini dengan rasa yang pernah ada pada seorang perempuan biasa sepertiku. Jujur aku tidak lepas dari rasa menyukai seorang insan. Walaupun sering aku elakkan dan aku nyatakan bahwa hal itu bukanlah suka yang berlebihan. Tetapi tetap saja kini aku sadari bahwa hal itupun berimbas pada hidupku, mungkin juga pada niatku. Astagfirullah...hamba memohon ampunan kepada Allah. Sekarang alhamdulillah, aku rasa Allah sudah sungguh-sungguh memerdekakan hatiku dari berharap kepada makhluk. Mengenai fitrah mencinta, aku bukannya tidak ingin, hanya ini belumlah saatnya. Juga aku tidak mau kalau sampai kecintaanku kelak pada seseorang atau sesuatu, melebihi kecintaanku kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka untuk kondisi hati yang insya Allah sungguh telah steril dari harap-harap pada selain Allah, aku bersyukur. Bukan berart kita tidak boleh berharap, tetapi sekarang aku sadar bahwa mengharapkan cinta Allah adalah yang utama dan selalu utama, sedang yang lain hanyalah penunjang menguatnya cinta pada Allah. Semoga Allah meridhoi kita semua, dan melimpahkan karuaniaNya untuk dapat sungguh-sungguh memiliki dan mencapai keadaaan mencintai karena Allah, kepada siapapun itu dan apapun itu, aamiin...

Tak lupa, semoga momen kemerdekaan ini juga menjadikan kita semakin mengevaluasi diri, sudah sejauh manakah kontribusi kita untuk negeri. Semoga seiring bertambahnya usia bumi pertiwi ini, bertambah pula dedikasi kita untuk menjadi bagian yang mewujudkan cita-cita kemerdekaan, dan berkah Allah selalu mengiringi, aamiin...

 Dirgahayu Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 


                                                                                  VT_Okta


sumber foto: instagram Teladan Rasul