Dalam logika sains:
a) Penemuan
Sains (Context of Scientific Discovery)
b) Pembenaran
(Context of Justification)
MODERN AWAL
Francis Bacon (1561-1626): Metode
sebagai Kunci Kepada Pengetahuan (Induktif & Observatif)
A. Gagasan:
1.
Mereformasi filsafat dan sains
2.
Menghilangkan pengetahuan tradisional dengan
pengetahuan baru menggunakan metode baru untuk menyusun dan menjelaskan
berbagai fakta
3.
Membebaskan sains dari lilitan pengetahuan
tradisional (takhayul, dll)
4.
Menciptakan filsafat baru yang didasarkan pada
metode pengamatan baru dan penafsiran baru atas alam
5.
Kelemahan utama: tidak ada hipotesis, karena
agar betul-betul dapat memperbaiki pemikiran Aristoteles dan karena Eropa akan
terjebak oleh hipotesis.
B. Context of Justification:
1.
Advancement
of learning & Novum organum (alat observasi ilmu baru/pengamatan)
2.
Bersihkan dulu pikirannya (idol-idol pikiran,
penyakit pengetahuan)
3.
Metode induktif (melalui kemungkinan memperoleh
hukum-hukum dari observasi sederhana tentang fakta-fakta serta urutannya.
C. Context of Discovery:
1.
Lingkup kebudayaan:
Masyarakat dapat terlepas dari pemikiran takhayul dan
mulai berpikir logis
2.
Lingkup islam:
Umat islam mulai meninggalkan hal-hal takhayul.
3.
Lingkup pendidikan:
Ilmuwan harus jujur, bersih dari
prasangka-prasangka terutama pengaruh agama. Siswa diarahkan kepada pengetahuan
yang benar dengan sebelumnya diluruskan dulu dari hal-hal yang berbau takhayul.
#HILANGKAN
PRASANGKA :D
Rene Decrates
(1596-1650): Kepastian & Batas-batas Pengetahuan (Rasio atau Akal)
A.
Gagasan
1.
Ia meragukan kebenaran filusuf sebelumnya,
sehingga munculah keinginan yang kuat untuk menemukan sesuatu yang baru dan
abadi dalam sains di dalam dunia filsafat.
2.
Ia memandang dirinya sebagai seorang yang tidak
memiliki indera apa-apa. Semua tindakan yang ia lakukan (seperti: makan,
berjalan, dsb ) tersebut berasal dari jiwa.
3.
Sumber pengetahuan manusia adalah akal atau ide.
4.
Akal adalah dasar kepastian pengetahuan.
Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal.
B. Context of Justification
1.
Menempatkan segala hal dalam keraguan (metode
keraguan)
2.
Keraguan memunculkan kepastian (sifat ilmu
pasti)
3.
Meneliti segala sesuatu secara teliti
C. Context of Discovery
1.
Lingkup kebudayaan:
Kebudayaan yang baru.
2.
Lingkup
islam:
Adanya Ijtihad (keberanian untuk
berpikir bebas), dan membuktikan kebenaran hakikat Tuhan.
3.
Lingkup pendidikan:
Tidak mudah menerima pendidikan, harus diteliti dulu.
#Sumber
Ilmu Akal => batas-batas pengetahuan (ujung ilmu = akal)
John Locke (1632-1704): Empirisme
di Inggris (Pengalaman cara kerja rasio dengan objek-objek sains)
A.
Gagasan
1.
Pengetahuan didapatkan dari pengalaman (hasil
interaksi antara indera dan akal) dan bukan dari bawaan lahir.
2.
Pengalaman memberikan dua sumber pengetahuan
yaitu ‘sensasi ‘ dan ‘refleksi’
3.
Kualitas primer dan kualitas sekunder digunakan
untuk menjelaskan bagaimana mendapatkan suatu gagasan.
4.
Kualitas suatu ide atau gagasan tergantung pada
sesuatu yang mendasarinya atau tergantung pada subtansinya.
B.
Context of Justification
1.
Locke menyatakan bahwa seluruh pengetahuan
bersumber dari pengalaman manusia dan bukan dari bawaan.
2.
Pandangan Locke mengenai agama bersifat deisme
(pandangan hidup atau ajaran yang mengakui adanya Tuhan sebagai pencipta alam
semesta, tetapi tidak mengakui agama karena ajarannya berdasarkan atas
keyakinannya pada akal dan kenyataan hidup).
3.
Tingkatan-tingkatan pengetahuan:
a.
Intituitive
knowledge (serta merta)
ð
kepastian kita ada
b.
Demostrative
knowledge (pikiran kita masuk kedalam percobaan untuk menemukan kesesuaian
atau ketidaksesuaian ide-ide dengan meminta perhatian atas ide-ide lain)
ð
Mengindikasikan bahwa Tuhan ada
c. Sensitive knowledge
ð
Orang dan benda yang lain eksis tapi hanya
sebagaimana adanya mereka pada saat kita mengalami mereka.
C.
Context of Discovery
1.
Lingkup kebudayaan
Budaya masyarakatnya selalu dalam
situasi harmonis, dimana semua manusia memiliki kebebasan dan kesamaan hak yang
sama.
2.
Lingkup islam
Berdasarkan pembuktian, manusia
merupakan makhluk yang berakal budi sehingga pastilah disebabkan adanya tokoh
pencipta yang mutlak dan Maha Kuasa.
3.
Lingkup pendidikan
Adanya rasa ingin tahu mengenai
ilmu pengetahuan, sehingga dilakukan penelitian-penelitian ilmiah yang dilakukan
melalui serangkaian eksperimen.
David Hume (1711-1766): Empirisme &
Batas-batas Pengetahuan (Hukum Sebab Akibat dalam Sains)
A.
Gagasan
1.
Pengetahuan yang berangkat dari sejumlah hasil
observasi pengalaman yang ditentukan oleh ditentukan oleh hukum sebab-akibat.
2.
Sebab dan akibat bisa ditemukan, tidak oleh akal
tetapi oleh pengalaman, akan dengan mudah diakui dengan memandang objek
tertentu.
B. Context of Justification
1.
Metode sebab-akibat
2.
Metode pengalaman
C. Context of Discovery
1.
Lingkup kebudayaan => karena terpengaruh
jaman dulu
2.
Lingkup islam => akibat perbuatan buruk =
dosa/siksa, akibat perbuatan baik = pahala/selamat
3.
Lingkup pendidikan => bila siswa rajin =
pandai, bila siswa malas = bodoh.
PUNCAK MODERNISME
Immanuel Kant (1724-1804): Seperti apa kiranya pengetahuan
itu? (Sintesa Aprio sebagai Dasar Ilmiah)
A. Gagasan
1.
Pengetahuan merupakan hasil kerja sama 2 unsur,
yaitu pengalaman inderawi (a posteriori) dan keaktifan rasio (a priori/logis,
pengetahuan murni)
2.
Sifat operasional a posteriori adalah sintesis
(menghubungkan), sedangkan a priori adalah analisis (analisa subjek)
3.
Putusan analitis adalah putusan yang didalamnya
keterkaitan predikat dengan subjek dipikirkan melalui identitas sedangkan
putusan sintesis adalah keterkaitan yang dipikirkan tanpa identitas.
4.
Menurut sains teoritis, semua penalaran putusan
sintesis a prior berisi prinsip-prinsip:
a.
Proposisi matematis secara mutlak selalu disebut
putusan a prior karena mereka membawa keputusannya.
b.
Sains alam (fisika) berisi putusan sintesis a
priori sebagai prinsip-prinsip (semua hub. gerak, aksi dan reaksi harus selalu
sama).
c.
Metafisika, sebagai suatu sains yang diperlukan
harus berisi pengetahuan sintesis a priori.
B.
Context
of Justification
1.
Baik rasionalisme maupun empirisme kedua-duanya
berat sebelah. Pengetahuan merupakan hasil kerja sama dua unsur, yaitu
pengalaman inderawi (a posteriori) dan keaktifan rasio (a priori)
2.
Syarat dasar bagi ilmu pengetahuan adalah
bersifat umum (universal) dan bersifat perlu mutlak, dan memberi pengetahuan
baru. Baik empirisme maupun rasionalisme tidak memenuhi syarat-syarat yang
dituntut oleh ilmu pengetahuan.
C.
Context
of Discovery
1.
Lingkup kebudayaan
Sesuatu budaya tapi kadang disesuaikan dengan keadaan.
2.
Lingkup islam
Hukum-hukum fiqh dalam Al-Qur’an diterjemahkan.
3.
Lingkup pendidikan
Metode pembelajaran, seorang guru harus
dapat menyesuaikan dengan kondisi peserta didiknya dan mampu mengembangkan
metode tersebut sedemikian rupa, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Auguste Comte (1798-....): Munculnya
Positivisme di Prancis (Fenomena & Positivisme)
A.
Gagasan
1.
Filsafat Comte anti metafisis sehingga ia hanya
menerima fakta yang ditemukan secara postive ilmiah, yaitu dari gejala-gejala.
2.
Gagasan humanitas dalam agama (religion of
humanity) yang mengatakan bahwa manusia adalah pengganti Tuhan di dunia dan
agam diciptakan untuk Tuhan tapi untuk manusia.
3.
Unsur afeksi memainkan peran yang paling penting
dalam kehidupan
4.
Tujuan utama Comte adalah mereorganisasikan
total masyarakat.
5.
Positivisme berbasis faktawi yang sifatnya
empiris => similitude
B. Context of Justification
1.
Teori postivisme memiliki dua ciri pokok:
a.
Bersifat negatif
Yaitu menolak
asumsi bahwa alam memiliki beberapa tujuan tertinggi atau tujuan akhir.
b.
Positivisme mementingkan suatu usaha untuk
menemukan ‘esensi’ dan sebab-sebab rahasia tentang berbagai hal
2.
Hukum tentang fenomena:
“Kita tidak memiliki pengetahuan tentang apapun
kecuali fenomena, dan pengetahuan kita tentang fenomena itu relatif, tidak
absolut”.
3.
Hukum tiga tahap:
a.
Tahap teologis, fenomena dijelaskan sebagai
pengada yang disebabkan oleh kekuatan ilahiah.
b.
Tahap metafisis, konsep tentang keilahiahan
diganti dengan kekuatan abstrak dan impersonal.
c.
Tahap positivistik atau ilmiah, hanya relasi
yang konstan antar fenomenalah yang dipertimbangkan dan semua usaha untuk
menjelaskan hal-hal tersebut yang mengacu pada pengada di balik pengalaman kita
dihentikan.
4.
Sains Sosiologi. Ada dua hal yang mendominasi:
komponen statis dan komponen dinamis.
5.
Comte menerjemahkan konsep kemahakuasaan.
Kekuasaan manusia memiliki tiga bagian utama: wanita, kependataan, dan
ploretariat.
6.
Mendirikan agama versi sekuler katolik Roma
(agama kemanusiaan).
C. Context
of Discovery
1.
Lingkup kebudayaan:
Masyarakat menyadari sepenuhnya
bahwa kehidupan tidak bergantung mitos dan berbagai legenda karena semua itu
akan membawa masyarakat menjadi bodoh. Jadi, kehidupan harus bergantung pada
kehidupan yang nyata, pasti, dan rasional.
2.
Lingkup islam:
Umat islam harus lebih berijtihad
bukan hanya sekedar taqlid. Ijtihad itu didasarkan pada pemikiran yang
rasional, berbagai penelitian yang ilmiah, dan berdasarkan sesuatu yang nyata,
bukan metafisika.
3.
Lingkup pendidikan
Pendidikan diarahkan pada suatu
tujuan yang realistis. Pengembangan kurikulum ditekankan suatu proses
penciptaan siswa yang rasional dan empiris. Sehingga penelitian harus berbasis
pada penelitian dan kebenaran yang pasti dan inderawi.
MODERN AKHIR
Alfred Jules
Ayer (1910-.....): Test Verifikasi (Verifikasi)
A.
Gagasan
1.
Positivisme yang dianut Ayer adalah Positivisme
Logis yang lebih menaruh perhatian pada logika dan bahasa sains.
2.
Hanya pemikiran yang dapat diperiksa kebenaran
secara empirislah yang memiliki makna.
3.
Menjadikan verifikasi sebagai tolak ukur untuk
menentukan konsep tentang makna.
B. Context of Justification
1.
Prinsip verifikasi => Hanya pemikiran yang dapat diperiksa
kebenaran secara empirislah yang memiliki makna
2.
Suatu kalimat secara faktawi bermakna bagi seseorang
jika dan hanya jika dia dapat mengetahui bagaimana cara menguji kalimat
tersebut.
3.
Kriteria yang digunakan untuk menguji keaslian
pernyataan-pernyataan yang menampilkan fakta (kenyataan) adalah kriteria
verifiabilitas.
C.
Context of
Discovery
1.
Lingkup kebudayaan
Interaksi masyarakat yang
dilakukan secara verbal akan lebih mementingkan makna yang harus dipahami oleh
lawan interaksi, sehingga menjadi berkurangnya obrolan masyarakat yang tidak
berguna.
2.
Lingkup islam
Umat islam akan selalu mencari
kebenaran tentang apa yang mereka percayai didasarkan pada pemikiran yang
rasional (berijtihad).
3.
Lingkup pendidikan
Jika pemikiran Ayer tentang makna diintegrasikan
dalam suatu kurikulum maka akan menghasilkan prilaku siswa yang berkarakter,
seperti jujur, sopan santun dalam berbicara, dll.
Karl Raimund Popper (1902-....):
Permasalahan Teori Metode Ilmiah (Falsifikasi)
A.
Gagasan
1.
Suatu teori dikatakan ilmiah bukan karena sudah
dibuktikan tetapi dapat diuji.
2.
Popper mengusulkan untuk mengadopsi
aturan-aturan yaitu yang disebut popper “metode empiris” yang berkaitan erat
dengan kriteria demakrasi untuk menentukan ketahanan daya uji pernyataan
ilmiah, yang diseut juga falsifiabiti.
3.
Ilmu pengetahuan harus digolongkan dengan
menggunakan sebuah metode (menghadapkannya dengan sebuah sistem ilmiah).
B. Context of Justification
1.
Propper menolak asas verifiabilitas (Ayer) dan
menemukan teori falsifiabilitas “kemungkinan bisa diujinya suatu teori”.
2.
Menolak metode induktif dan menggantinya dengan
metode sains empiris.
C.
Context of
Discovery
1.
Lingkup kebudayaan: sistematis, aturan.
2.
Lingkup islam: penalaran logis (ijtihad).
3.
Lingkup pendidikan: metode ilmiah.
POSTMODERN
Thomas S. Khun (1922-....):
Hakikat & Keniscayaan Revolusi Ilmiah
[Paradigma & Incommensurability (antara paradigma yang satu tidak bisa
saling mendahului)]
A. Gagasan
1.
Sains berjalan utamanya dengan menafsirkan secar
revolusioner bentuk-bentuk suatu paradigma ilmiah menggantikan paradigma yang
lain.
2.
Tujuan Khun utamanya historis bukan filosofis.
3.
Tanpa komitmen pada suatu paradigma tidak akan
ada sains yang normal.
4.
Sejarah dapat menyajikan informasi esensial
tentang hakikat sains.
B.
Context
of Justification
1.
Khun berargumentasi bahwa paradigma itu esensial
bagi sains.
2.
Paradigma bukan hanya diselesaikanoleh logika
dan eksperimen tetapi juga oleh sejarah.
C. Context of Discovery
1.
Lingkup kebudayaan:
Menjadikan masyarakat tidak melupakan
sejarah/kebudayaan Indonesia.
2.
Lingkup islam: bergantung paradigma dan
akulturasi budaya
3.
Lingkup pendidikan: dalam mempelajari paradigma,
dapat diperoleh teori, metode dan standar bersama-sama.
Richard Rorty (1951-....): Solidaritas
atau Objektivitas (Menyoal Objektivitas dalam Sains)
A.
Gagasan
1.
Objektivitas merupakan sebagian bentuk yang
tersembunyi dari ketakutan atas kematian komunitas.
2.
Kebenaran dapat disederhanakan kedalam
pembenaran.
B. Context of Justification
1.
Tak ada satupun yang kebal dari kritik.
2.
Menghentikan perbedaan tradisional antara
pengetahuan dan opini ynag terbangun.
3.
Anti fondasionalisme (anti kemapanan) =>
tidak ada pondasi yang kokoh.
4.
Solidaritas => kesepemahaman dalam ilmu.
C.
Context of
Discovery
1. Lingkup
kebudayaan:
Tidak mudah menerima dan menolak
suatu kebudayaan baru, musyawarah (mencari solusi terbaik).
2. Lingkup
islam:
Keyakinan terhadap Tuhan selalu
mengalami peningkatan karena adanya pembuktian baru.
3. Lingkup
pendidikan
Metode dialogis yaitu memperbicangkan bahan ajar dari
berbagai pandangan.
Referensi:
Irawan. 2013. Tokoh-tokoh Filsafat Sains dari Masa ke Masa. Bandung: Intelekia Pratama