Kamis, 27 Oktober 2016

Menulis? Mengenal Tiga Varian KTI (Jurnal ilmiah, Prosiding, Paper Conference)

 




“Nun, Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (QS. Al-Qalam: 1)

Pena. ya pena. Pena untuk menulis. 
Allah memerintahkan kepada kita untuk menulis, disamping membaca. 

Ada pepatah mengatakan: 
“Jika kamu ingin mengenal dunia, maka membacalah. Jika kamu ingin dikenal dunia maka menulislah.”

Lalu menulis apa saja? Bisa apa saja. Mulai dari yang sederhana, buku harian misalnya. Dari kata-kata itu akan lebih mampu mengurai makna dari peristiwa yang kita alami atau bahkan dari hal-hal kecil sekalipun.

Kesempatan ini, saya akan sedikit memaparkan tentag menulis ilmiah, yang dikenal  dengan karya tulis ilmiah (KTI). Sebagai akademisi, baik siswa, mahasiswa, guru, dosen atau peneliti, sebaiknya dapat menuangkan isi pikiran dan atau hasil penelitiannya dalam bentuk karya tulis ilmiah. Bukan hanya karena tuntutan lomba atau kenaikan pangkat, tetapi ternyata banyak sekali fungsi lainnya lhoo.


                                 



Disini saya akan membahas tiga jenis KTI yaitu jurnal ilmiah, prosiding, dan paper conference.
a.  Jurnal Ilmiah
Menurut Wikipedia jurnal ilmiah merupakan salah satu jenis jurnal akademik di mana penulis (umumnya peneliti) mempublikasikan artikel ilmiah yang biasanya memberikan kontribusi terhadap teori atau penerarapan ilmu.
Jurnal ilmiah adalah sebuah kumpulan dari jurnal hasil penelitian. Bentuknya biasanya kurang lebih mirip majalah, namun dengan format berisi kumpulan rangkuman karya ilmiah yang dibuat masing-masing peneliti. Ia terbit dala.m setiap jangka waktu tertentu (bisa bulanan, bisa dwi bulanan, atau bahkan tahunan). Diterbitkan oleh lembaga publikasi ilmiah, baik berupa kampus, perusahaan, ataupun media lainnya.
Terdapat berbagai jurnal ilmiah yang mencakup semua bidang ilmu, juga ilmu sosial dan humaniora. Penerbitan dalam bentuk artikel ilmiah biasanya lebih penting untuk bidang ilmu pengetahuan alam maupun kedokteran dibandingkan dengan bidang akademik lain.
Salah satu ciri utama dari Jurnal Ilmiah adalah adanya peer review dari seseorang atau sekelompok orang ahli. Peer review itu adalah hasil karya kita akan di review, untuk menilai seberapa valid dan layak karya tulisan terbit di jurnal tersebut. Diterima / ditolak, dlsb. Proses peer review kurang lebih akan seperti proses bimbingan skripsi / thesis dimana kita diminta untuk melakukan perbaikan ini dan itu.
Tujuan Penulisan Jurnal Ilmiah
-   Menjadi acuan untuk penelitian selanjutnya, bekerja sama, atau untuk menghindari kesamaan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti lain.
-          suatu upaya untuk memasyarakatkan IPTEK. 
Tips Lolos Jurnal Ilmiah
diantaranya yaitu memenuhi aturan yang diberikan, seperti lingkup ilmu, panduan pengetikan, dan yang tidak kalah pentingnya adalah kualitas.

b.     Prosiding

Prosiding memiliki banyak kemiripan dengan jurnal ilmiah. Perbedaan mendasar yaitu biasanya  prosiding adalah hasil dari konferensi ilmiah.  Tidak seperti jurnal yang merupakan khusus untuk publikasi ilmiah. Ibaratkan jurnal itu majalah, maka prosiding ibarat ada seminar, lalu makalah-makalah seminar itu dikumpulkan dan diterbitkan.
Standar sebuah prosiding tidak seketat pada jurnal ilmiah, bahkan ada pula prosiding yang tidak mengalami peer review. Penerbit prosiding umumnya dapat mengetahui apakah prosiding yang ingin ia submit mengalami proses peer reviewe atau tidak. Hal ini membuat tingkat ke-ilmiahan prosiding sedikit lebih dibandingkan dengan jurnal ilmiah.

c.      Paper Conference

Pembeda utama paper conference dengan jurnal ilmiah yang bisa sangat panjang (rata-rata jurnal minimal 6 halaman, sedangkan paper conference 2-5 halaman).
Ciri utama dengan Jurnal Ilmiah adalah selain dipublikasikan dalam bentuk jurnal, Paper Conference juga diseminarkan dalam sebuah forum conference ilmiah. Selain presentasi, materi peneliti akan dipublikasikan dikumpulannya, menjadi sebuah Paper Conference. Dalam paper conference, menyesuaikan conference yang diadakan, terkadang ada yang terdapat peer review, namun kadang pula ada yang tidak.


            Demikianlah pembahasan tentang tiga jenis KTI, semoga ada sedikit gugahan semangat untuk mulai belajar menulis, terutama menulis karya tulis ilmiah. Oh iya, sekedar tips agar kita ada gambaran tentang bagaimana itu jurnal ilmiah, prosiding, atau paper conference, cobalah dahulu untuk menjadi peserta pendengar di kegiatan seminar paper atau lainnya. Insya Allah akan lebih membuat kita yakin untuk meneliti dan menulis. Ajak pula rekan-rekan kita untuk melakukan penelitian, terutama mintalah bimbingan kepada yang lebih ahli dan pengalaman dari kita, yaitu guru, dosen, atau peneliti lainnya.

Semangat literasi, semangat meneliti.
Semangat menebar ilmu dan manfaat. :D


Referensi:
Jurnal ilmiah. (2016, Juni 29). Di Wikipedia, Ensiklopedia Bebas. Diakses pada 03:50, Juni 29, 2016, dari https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Jurnal_ilmiah&oldid=11699128













Selasa, 18 Oktober 2016

Satu Ruang, Satu Orang




Satu ruang kini telah lebih tertata
Satu ruang yang menjadi tempat spesial hanya untuk satu orang kelak
Satu orang yang belum aku menemukannya hingga sekarang
Satu orang yang sedang berjuang mempersiapkan perbekalan
Satu orang yang senantiasa memperbaiki diri dan berdo’a penuh ketulusan
                                Satu orang saja...
                                Ya satu orang saja yang akan aku tempatkan di ruang hati ini
                                Hampir saja ruang itu terbuka oleh orang lain
                                Begitu banyak orang yang mencoba memasuki ruang hati itu
                                Mengetuknya dengan berbagai kebaikan
                                Mencokel pintu atau jendelanya dengan berbagai perhatian
                                Untungnya Allah segera menyelamatkan
                                Allah kuatkan pintu dan jendelanya
                                Allah terangi ruang itu sehingga ku melihat orang yang ada di luar
                                Bahwa mereka bukanlah satu orang itu
                                Ia belum sampai pada ruang ini
                                Ia mungkin masih di perjalanan membenah diri
Baiklah..
Akan aku gunakan waktu yang masih Allah berikan ini
Untuk lebih mempercantik ruangan ini
Menyalakan lebih terang cahaya cinta-Nya dan cahaya cinta kepada Rasul-Nya
Akan aku bersihkan, rapikan, hiasi, ku beri wewangian dna ku buat ternyaman
Agar kelak ketika satu orang itu tiba,
Ia takjub dan ridho lillahi ta’ala untuk menempati ruang ini
Dan ia pun ridho lillahi ta’ala mengijinkan aku masuk
Menjadi satu orang di ruang yang telah ia jaga
    Meski kini ruang ini harus menjalani hari dengan sepi
                Tanpa ada perduli lagi dari orang-orang yang lalu lalang
                Bagaikan rumah tak bertuan yang akan semakin dijauhi orang kebanyakan
                Aku percaya bahwa itu hanya sedikit pengorbanan..
                Sedikiti kesabaran,,
                Untuk kelak datangnya satu orang dari-Nya
    yang akan menghidupkan ruangan ini dengan penuh cinta kasihnya
    yang akan menjaga sepenuh jiwanya
    yang akan membimbing agar cahaya-Nya terus menyala
    yang akan mebimbing dalam meneladani Rasul-Nya
    yang akan menempatinya selamanya meski cuaca berubah
    Meski halang rintang gangguan menerpa
Satu orang itu dengan dasar cinta Allah dan cinta kepada Rasul-Nya
Akan senatiasa membawa kebahagiaan yang hakiki
Akan mampu mempertahankan ruang ini hingga nanti
Hingga saat pulang kehadirat illahi
Hingga berterima kasih pada illahi
Dan diijinkan terjaga bersama cinta illahi rabbi
Satu orang itu adalah imamku nanti

Dan satu ruang ini adalah hati 
                                                                                      VT_OKTA

Senin, 17 Oktober 2016

teruntuk sahabat matahari ku




Terimakasih banyak sahabatku, atas segala kebaikanmu. Kau tahu dulu kau adalah matahari bagiku. Kau bagaikan penyengat setiap hariku. Tetapi kini aku menyadari hal yang amat berarti. Bahwa aku bintang kecil yang hadir dan bisa bersinar hanya di malam hari. Malam adalah saat kamu tidak ada. Matahari dan bintang tidak akan pernah bertemu. Karena bila bertemu berarti dunia ini akan berkahir. Pernah pula aku menganggapmu sebagai langitku. Yang telah melindungiku meski bagaiamanapun sikapmu kepadaku. Tetapi kini aku menyadari hal yang berarti, bahwa langit dan bumi itu amat jauh. Tidak untuk menjadi dekat. Biarlah aku tetap di bumi dan kau di langit. Biarlah kau tetap menjadi mentari yang sinarnya banyak bermanfaat dan maksimal di siang hari dan aku menjadi bintang kecil yang akan membuat indah gelapnya malam. 


Mulai sekarang aku menyadari bahwa kita tidak akan dapat bersama. Bilapun hatimu telah terpaut karena ulahku, aku mohon maafkan kealpaanku dalam menjaga diri dan menjaga hati, juga menjaga perkataan dan perbuatan. Sempat aku berkata padamu, sama ratakanlah saja aku dengan teman-teman yang lain, sedang nanti itu adalah tugasmu, akan menjemputku dengan berbagai hati yang telah bersabar dan bersiap, atau menghilangkan perasaanmu. Maafkan aku, kini kumohon dengan sangat, hapuslah saja aku sepenuhnya dari hatimu, bila perlu dengan sesakit-sakitnya pada ku tidak mengapa. Karena aku sungguh tidak mampu lagi untuk berjalan beriringan denganmu.  Bukan karena kekuranganmu, apapun negatif tentangmu, bukan. Aku ingin mundur dan pergi dan diganti saja karena aku menyadari hal yang berarti, bahwa hatiku tidak cukup kuat lagi memahamimu, memahami caramu berkalimat, memahami caramu berpikir. Aku bukan yang terbaik untukmu. Aku putuskan untuk tidak lagi menjadi warna di dalam hari-harimu. Sebagai apapun itu, aku akan berdo’a semoga Allah selalu melindungimu, dan menuntunmu menjemput belahan hati dan jiwamu yang terbaik menurut-Nya, aamiin..



Semoga pula tidak sampai pada masa dimana engkau tersakiti oleh ku. Semoga bila kelak aku bertemu dengan imamku, tidak ada setitikpun sakit yang tergores pada hatimu karena pada saat itu kau telah bertemu pula dengan calon istrimu. Semua hal yang menyangkut tentang ku yang pernah begitu mengusik ketenangan hidupmu semoga dihapuskan Allah , dan Allah menggantinya dengan limpahan kebahagiaan dan keberkahan pada hidupmu, aamiin...

Minggu, 16 Oktober 2016

teruntuk Calon Imamku yang masih dirahasiakan-Nya ^_^


Apa kabar imanmu hari ini calon imamku? :D
semoga selalu dekat dan dalam kasih sayang-Nya.
Calon imamku, siapa kamu masih belum aku tahu. Apakah kau orang yang telah lama ku kenal, atau sama sekali belum aku kenal. Apakah rumah kita jauh atau justru masih terbilang dekat. Apakah kamu tau bagaimana setiap hari-hariku, tangis tawaku, warna favoritku, atau sama sekali tidak tau apapun tentangku sebelumnya. Jangan khawatir calon imamku, bagiku tetap ada do’amu yang telah turut mengiringi setiap langkahku, walau mungkin kau tidak merasa mendo’akanku.

Calon imamku, aku belajar untuk berdamai dengan kenyataan bahwa setiap dari kita ditakdirkan untuk bertemu banyak insan, sebelum akhirnya berlabuh pada insan yang paling tepat dari-Nya. Bila aku telah begitu banyak bertemu insan yang mungkin pernah aku turutkan perhatian pada mereka, percayalah bahwa perhatian itu tidak lebih dari perhatian kepada teman, sahabat atau kepada sesama saudara seiman. Kalaupun memang dunia pernah bersaksi bahwa aku pernah dekat lebih dari sekedar teman dengan mereka, Allah yang lebih tau. Allah yang maha tahu bagaimana aku berupaya menjaga agar tidak memberikan rasa yang tidak pada koridor ketentuan-Nya. Meski akupun tidak menyangkal bahwa sebagai insan biasa aku mungkin tidak sempurna dalam menjaga diri ini, banyak sekali tingkahku yang masih salah, yang masih membuat orang lain merasakan sesuatu kepadaku. Mohon maafkanlah aku, calon imamku. Kelak setelah Ia menunjukkan dirimu, maka segala hal yang baik yang pernah aku rasakan karena orang lain, untuk orang lain, semoga dapat sepenuhnya beralih karenamu, untukmu, satu saja. Insya Allah akan aku limpahkan segala perhatian, do’a, cinta dan sayangku hanya satu padamu.

Calon imamku, aku tidak tahu bagaimana perjuanganmu hingga kelak dapat menemukanku. Mungkin engkau sama sepertiku, pernah dikelilingi oleh berbagai insan yang juga menaruh perhatian dan rasa padamu. Sekalipun aku tidak dapat melihat betapa besar upayamu untuk tetap menjaga cintamu, tidak akan meruntuhkan percayaku padamu. Bilapun pernah suatu waktu kau hampir pula memberikan rasamu itu pada yang lain, aku tak masalah selama kau kini telah tuntas menghilangkannya, atau mengganti curahannya padaku kelak. Karena aku percaya setiap mozaik kehidupan kita kadang perlu membuat kita pernah mengalami ini dan itu agar dapat memahami suatu hikmah atau bahkan banyak hikmah. Tetapi bila kau sungguh juara dalam menjaga dirimu, syukurku panjatkan pada Allah yang tiada hingga. Engkau begitu baik, engkau tidak sempurna tetapi engkau senantiasa mendekat pada yang Maha Sempurna sehingga dapat menjaga diri dan kesucian cintamu dengan sempuran untukku yang masih jauh dari sempurna.

Calon imamku, aku tidak tahu sudah sampai mana kini perjalananmu. Terimakasih pada Allah atas waktu penantian yang masih Allah berikan kepadaku. Dalam masa penantian ini, aku percaya engkau sedang sibuk mempersiapkan segalanya untuk menjemputku, untuk merenda masa depanmu yang kelak tidak akan sendiri lagi. Setiap malam engkau berdo’a pada-Nya, setiap hari engkau belajar banyak hikmah dari lembaran harimu, dari begitu banyak buku yang kau baca, begitu banyak teladan Rasul yang kau contoh. Calon suamiku, tahukah kamu  bahwa aku cukup memiliki satu kategori untuk menerima pinanganmu kelak yakni insan yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Cukup bagiku satu kategori itu karena segala kebaikan dunia dan akhirat akan ter-cover dengan satu kategori itu saja. Calon suamiku, kategori itu aku buat bukan berarti aku menginginkan seorang sholeh yang telah begitu soleh atau segalanya telah baik, karena bagiku mencintai adalah proses  berkelanjutan bukan hasil akhir. Setiap orang bisa mencintai-Nya dan mencintai Rasul-Nya, sebagai apapun ia. Tetapi bukan berarti aku akan menerima begitu saja semua orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah yang akan tunjukkan pada ku, tidak perlu engkau yang berupaya menunjukkanya. Allah Maha teliti menerangi mata hati untuk hamba-Nya. Semoga aku termasuk hamba-Nya yang senantiasa memiliki ketajaman mata hati. Kelak aku akan melihatmu, mengenalmu sebagai kategori itu lewat cahaya-Nya, insya Allah. Semoga begitupula dirimu.

Calon suamiku, aku disini sedang belajar untuk menyambut kedatanganmu kelak dan mengumpulkan perbekalan untuk bahtera rumah tangga kelak. Aku masih banyak kekurangan, belum bisa ini dan itu, belum memahami ini dan itu. Maka waktu penantianku padamu semoga dapat aku manfaatkan dan optimalkan sebaik-baiknya untuk memperbaiki kekuranganku itu, kebelum bisaanku itu. Tidak lupa, insya Allah akan selalu aku do’akanmu dalam setiap langkahmu. Aku begitu percaya segala keselamatan yang Allah berikan padaku, diadalamnya turut pula karena do’amu, meski kita belum pernah bertemu atau mungkin telah berteman sejak dulu. Semoga pula do’aku turut berperan andil dalam setiap langkahmu, aamiin :D
Di waktu yang telah Allah tentukan dan tetapkan, semoga Allah pertemukan kita dalam ikatan yang diridhoi-Nya,  aamiin :D


                                                 Salam rindu dari: Calon penyejuk mata &penawar hatimu (calon istrimu)


Vita Oktaviani

Senin, 10 Oktober 2016

Filsafat Sains

Dalam logika sains:
a)      Penemuan Sains (Context of Scientific Discovery)

b)      Pembenaran (Context of Justification)

MODERN AWAL
Francis Bacon (1561-1626): Metode sebagai Kunci Kepada Pengetahuan (Induktif & Observatif)

A.      Gagasan:
1.       Mereformasi filsafat dan sains
2.       Menghilangkan pengetahuan tradisional dengan pengetahuan baru menggunakan metode baru untuk menyusun dan menjelaskan berbagai fakta
3.       Membebaskan sains dari lilitan pengetahuan tradisional (takhayul, dll)
4.       Menciptakan filsafat baru yang didasarkan pada metode pengamatan baru dan penafsiran baru atas alam
5.       Kelemahan utama: tidak ada hipotesis, karena agar betul-betul dapat memperbaiki pemikiran Aristoteles dan karena Eropa akan terjebak oleh hipotesis.

B.      Context of Justification:
1.       Advancement of learning & Novum organum (alat observasi ilmu baru/pengamatan)
2.       Bersihkan dulu pikirannya (idol-idol pikiran, penyakit pengetahuan)
3.       Metode induktif (melalui kemungkinan memperoleh hukum-hukum dari observasi sederhana tentang fakta-fakta serta urutannya.

C.      Context of Discovery:
1.       Lingkup kebudayaan:
Masyarakat dapat terlepas dari pemikiran takhayul dan mulai berpikir logis
2.       Lingkup islam:
Umat islam mulai meninggalkan hal-hal takhayul.
3.       Lingkup pendidikan:
Ilmuwan harus jujur, bersih dari prasangka-prasangka terutama pengaruh agama. Siswa diarahkan kepada pengetahuan yang benar dengan sebelumnya diluruskan dulu dari hal-hal yang berbau takhayul.
                                                                                              #HILANGKAN PRASANGKA :D





Rene Decrates (1596-1650): Kepastian & Batas-batas Pengetahuan (Rasio atau Akal)


A.      Gagasan
1.       Ia meragukan kebenaran filusuf sebelumnya, sehingga munculah keinginan yang kuat untuk menemukan sesuatu yang baru dan abadi dalam sains di dalam dunia filsafat.
2.       Ia memandang dirinya sebagai seorang yang tidak memiliki indera apa-apa. Semua tindakan yang ia lakukan (seperti: makan, berjalan, dsb ) tersebut berasal dari jiwa.
3.       Sumber pengetahuan manusia adalah akal atau ide.
4.       Akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal.

B.      Context of Justification
1.       Menempatkan segala hal dalam keraguan (metode keraguan)
2.       Keraguan memunculkan kepastian (sifat ilmu pasti)
3.       Meneliti segala sesuatu secara teliti

C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan:
Kebudayaan yang baru.
2.        Lingkup islam:
Adanya Ijtihad (keberanian untuk berpikir bebas), dan membuktikan kebenaran hakikat Tuhan.
3.       Lingkup pendidikan:
Tidak mudah menerima pendidikan, harus diteliti dulu.

                #Sumber Ilmu Akal => batas-batas pengetahuan (ujung ilmu = akal)





John Locke (1632-1704): Empirisme di Inggris (Pengalaman cara kerja rasio dengan objek-objek sains)

A.      Gagasan
1.       Pengetahuan didapatkan dari pengalaman (hasil interaksi antara indera dan akal) dan bukan dari bawaan lahir.
2.       Pengalaman memberikan dua sumber pengetahuan yaitu ‘sensasi ‘ dan ‘refleksi’
3.       Kualitas primer dan kualitas sekunder digunakan untuk menjelaskan bagaimana mendapatkan suatu gagasan.
4.       Kualitas suatu ide atau gagasan tergantung pada sesuatu yang mendasarinya atau tergantung pada subtansinya.

B.       Context of Justification
1.       Locke menyatakan bahwa seluruh pengetahuan bersumber dari pengalaman manusia dan bukan dari bawaan.
2.       Pandangan Locke mengenai agama bersifat deisme (pandangan hidup atau ajaran yang mengakui adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta, tetapi tidak mengakui agama karena ajarannya berdasarkan atas keyakinannya pada akal dan kenyataan hidup).
3.       Tingkatan-tingkatan pengetahuan:
a.       Intituitive knowledge (serta merta)
ð  kepastian kita ada
b.      Demostrative knowledge (pikiran kita masuk kedalam percobaan untuk menemukan kesesuaian atau ketidaksesuaian ide-ide dengan meminta perhatian atas ide-ide lain)
ð  Mengindikasikan bahwa Tuhan ada
c.       Sensitive knowledge
ð  Orang dan benda yang lain eksis tapi hanya sebagaimana adanya mereka pada saat kita mengalami mereka.

C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan
Budaya masyarakatnya selalu dalam situasi harmonis, dimana semua manusia memiliki kebebasan dan kesamaan hak yang sama.
2.       Lingkup islam
Berdasarkan pembuktian, manusia merupakan makhluk yang berakal budi sehingga pastilah disebabkan adanya tokoh pencipta yang mutlak dan Maha Kuasa.
3.       Lingkup pendidikan
Adanya rasa ingin tahu mengenai ilmu pengetahuan, sehingga dilakukan penelitian-penelitian ilmiah yang dilakukan melalui serangkaian eksperimen.







David Hume (1711-1766): Empirisme & Batas-batas Pengetahuan (Hukum Sebab Akibat dalam Sains)


A.      Gagasan
1.       Pengetahuan yang berangkat dari sejumlah hasil observasi pengalaman yang ditentukan oleh ditentukan oleh hukum sebab-akibat.
2.       Sebab dan akibat bisa ditemukan, tidak oleh akal tetapi oleh pengalaman, akan dengan mudah diakui dengan memandang objek tertentu.
B.      Context of Justification
1.       Metode sebab-akibat
2.       Metode pengalaman
C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan => karena terpengaruh jaman dulu
2.       Lingkup islam => akibat perbuatan buruk = dosa/siksa, akibat perbuatan baik = pahala/selamat
3.       Lingkup pendidikan => bila siswa rajin = pandai, bila siswa malas = bodoh.




PUNCAK MODERNISME

Immanuel Kant (1724-1804): Seperti apa kiranya pengetahuan itu? (Sintesa Aprio sebagai Dasar Ilmiah)


A.      Gagasan
1.       Pengetahuan merupakan hasil kerja sama 2 unsur, yaitu pengalaman inderawi (a posteriori) dan keaktifan rasio (a priori/logis, pengetahuan murni)
2.       Sifat operasional a posteriori adalah sintesis (menghubungkan), sedangkan a priori adalah analisis (analisa subjek)
3.       Putusan analitis adalah putusan yang didalamnya keterkaitan predikat dengan subjek dipikirkan melalui identitas sedangkan putusan sintesis adalah keterkaitan yang dipikirkan tanpa identitas.
4.       Menurut sains teoritis, semua penalaran putusan sintesis a prior berisi prinsip-prinsip:
a.       Proposisi matematis secara mutlak selalu disebut putusan a prior karena mereka membawa keputusannya.
b.      Sains alam (fisika) berisi putusan sintesis a priori sebagai prinsip-prinsip (semua hub. gerak, aksi dan reaksi harus selalu sama).
c.       Metafisika, sebagai suatu sains yang diperlukan harus berisi pengetahuan sintesis a priori.
B.      Context of Justification
1.       Baik rasionalisme maupun empirisme kedua-duanya berat sebelah. Pengetahuan merupakan hasil kerja sama dua unsur, yaitu pengalaman inderawi (a posteriori) dan keaktifan rasio (a priori)
2.       Syarat dasar bagi ilmu pengetahuan adalah bersifat umum (universal) dan bersifat perlu mutlak, dan memberi pengetahuan baru. Baik empirisme maupun rasionalisme tidak memenuhi syarat-syarat yang dituntut oleh ilmu pengetahuan.

C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan
Sesuatu budaya tapi kadang disesuaikan dengan keadaan.
2.       Lingkup islam
Hukum-hukum fiqh dalam Al-Qur’an diterjemahkan.
3.       Lingkup pendidikan
Metode pembelajaran, seorang guru harus dapat menyesuaikan dengan kondisi peserta didiknya dan mampu mengembangkan metode tersebut sedemikian rupa, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.




Auguste Comte (1798-....): Munculnya Positivisme di Prancis (Fenomena & Positivisme)


A.      Gagasan
1.       Filsafat Comte anti metafisis sehingga ia hanya menerima fakta yang ditemukan secara postive ilmiah, yaitu dari gejala-gejala.
2.       Gagasan humanitas dalam agama (religion of humanity) yang mengatakan bahwa manusia adalah pengganti Tuhan di dunia dan agam diciptakan untuk Tuhan tapi untuk manusia.
3.       Unsur afeksi memainkan peran yang paling penting dalam kehidupan
4.       Tujuan utama Comte adalah mereorganisasikan total masyarakat.
5.       Positivisme berbasis faktawi yang sifatnya empiris => similitude

B.      Context of Justification
1.       Teori postivisme memiliki dua ciri pokok:
a.       Bersifat negatif
   Yaitu menolak asumsi bahwa alam memiliki beberapa tujuan tertinggi atau tujuan akhir.
b.      Positivisme mementingkan suatu usaha untuk menemukan ‘esensi’ dan sebab-sebab rahasia tentang berbagai hal
2.       Hukum tentang fenomena:
“Kita tidak memiliki pengetahuan tentang apapun kecuali fenomena, dan pengetahuan kita tentang fenomena itu relatif, tidak absolut”.
3.       Hukum tiga tahap:
a.       Tahap teologis, fenomena dijelaskan sebagai pengada yang disebabkan oleh kekuatan ilahiah.
b.      Tahap metafisis, konsep tentang keilahiahan diganti dengan kekuatan abstrak dan impersonal.
c.       Tahap positivistik atau ilmiah, hanya relasi yang konstan antar fenomenalah yang dipertimbangkan dan semua usaha untuk menjelaskan hal-hal tersebut yang mengacu pada pengada di balik pengalaman kita dihentikan.
4.       Sains Sosiologi. Ada dua hal yang mendominasi: komponen statis dan komponen dinamis.
5.       Comte menerjemahkan konsep kemahakuasaan. Kekuasaan manusia memiliki tiga bagian utama: wanita, kependataan, dan ploretariat.
6.       Mendirikan agama versi sekuler katolik Roma (agama kemanusiaan).

C.       Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan:
Masyarakat menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan tidak bergantung mitos dan berbagai legenda karena semua itu akan membawa masyarakat menjadi bodoh. Jadi, kehidupan harus bergantung pada kehidupan  yang nyata, pasti, dan rasional.
2.       Lingkup islam:
Umat islam harus lebih berijtihad bukan hanya sekedar taqlid. Ijtihad itu didasarkan pada pemikiran yang rasional, berbagai penelitian yang ilmiah, dan berdasarkan sesuatu yang nyata, bukan metafisika.
3.       Lingkup pendidikan
Pendidikan diarahkan pada suatu tujuan yang realistis. Pengembangan kurikulum ditekankan suatu proses penciptaan siswa yang rasional dan empiris. Sehingga penelitian harus berbasis pada penelitian dan kebenaran yang pasti dan inderawi.





MODERN AKHIR
Alfred Jules Ayer (1910-.....): Test Verifikasi (Verifikasi)

A.      Gagasan
1.       Positivisme yang dianut Ayer adalah Positivisme Logis yang lebih menaruh perhatian pada logika dan bahasa sains.
2.       Hanya pemikiran yang dapat diperiksa kebenaran secara empirislah yang memiliki makna.
3.       Menjadikan verifikasi sebagai tolak ukur untuk menentukan konsep tentang makna.

B.      Context of Justification
1.       Prinsip verifikasi =>  Hanya pemikiran yang dapat diperiksa kebenaran secara empirislah yang memiliki makna
2.       Suatu kalimat secara faktawi bermakna bagi seseorang jika dan hanya jika dia dapat mengetahui bagaimana cara menguji kalimat tersebut.
3.       Kriteria yang digunakan untuk menguji keaslian pernyataan-pernyataan yang menampilkan fakta (kenyataan) adalah kriteria verifiabilitas.

C.      Context of Discovery
1.      Lingkup kebudayaan
Interaksi masyarakat yang dilakukan secara verbal akan lebih mementingkan makna yang harus dipahami oleh lawan interaksi, sehingga menjadi berkurangnya obrolan masyarakat yang tidak berguna.
2.       Lingkup islam
Umat islam akan selalu mencari kebenaran tentang apa yang mereka percayai didasarkan pada pemikiran yang rasional (berijtihad).
3.       Lingkup pendidikan
Jika pemikiran Ayer tentang makna diintegrasikan dalam suatu kurikulum maka akan menghasilkan prilaku siswa yang berkarakter, seperti jujur, sopan santun dalam berbicara, dll.



Karl Raimund Popper (1902-....): Permasalahan Teori Metode Ilmiah (Falsifikasi)


A.      Gagasan
1.       Suatu teori dikatakan ilmiah bukan karena sudah dibuktikan tetapi dapat diuji.
2.       Popper mengusulkan untuk mengadopsi aturan-aturan yaitu yang disebut popper “metode empiris” yang berkaitan erat dengan kriteria demakrasi untuk menentukan ketahanan daya uji pernyataan ilmiah, yang diseut juga falsifiabiti.
3.       Ilmu pengetahuan harus digolongkan dengan menggunakan sebuah metode (menghadapkannya dengan sebuah sistem ilmiah).

B.      Context of Justification
1.       Propper menolak asas verifiabilitas (Ayer) dan menemukan teori falsifiabilitas “kemungkinan bisa diujinya suatu teori”.
2.       Menolak metode induktif dan menggantinya dengan metode sains empiris.

C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan: sistematis, aturan.
2.       Lingkup islam: penalaran logis (ijtihad).
3.       Lingkup pendidikan: metode ilmiah.




POSTMODERN

Thomas S. Khun (1922-....): Hakikat & Keniscayaan Revolusi Ilmiah

[Paradigma & Incommensurability (antara paradigma yang satu tidak bisa saling mendahului)]
A.      Gagasan
1.       Sains berjalan utamanya dengan menafsirkan secar revolusioner bentuk-bentuk suatu paradigma ilmiah menggantikan paradigma yang lain.
2.       Tujuan Khun utamanya historis bukan filosofis.
3.       Tanpa komitmen pada suatu paradigma tidak akan ada sains yang normal.
4.       Sejarah dapat menyajikan informasi esensial tentang hakikat sains.

B.      Context of Justification
1.       Khun berargumentasi bahwa paradigma itu esensial bagi sains.
2.       Paradigma bukan hanya diselesaikanoleh logika dan eksperimen tetapi juga oleh sejarah.

C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan:
Menjadikan masyarakat tidak melupakan sejarah/kebudayaan Indonesia.
2.       Lingkup islam: bergantung paradigma dan akulturasi budaya
3.       Lingkup pendidikan: dalam mempelajari paradigma, dapat diperoleh teori, metode dan standar bersama-sama.






Richard Rorty (1951-....): Solidaritas atau Objektivitas (Menyoal Objektivitas dalam Sains)


A.      Gagasan
1.       Objektivitas merupakan sebagian bentuk yang tersembunyi dari ketakutan atas kematian komunitas.
2.       Kebenaran dapat disederhanakan kedalam pembenaran.

B.      Context of Justification
1.       Tak ada satupun yang kebal dari kritik.
2.       Menghentikan perbedaan tradisional antara pengetahuan dan opini ynag terbangun.
3.       Anti fondasionalisme (anti kemapanan) => tidak ada pondasi yang kokoh.
4.       Solidaritas => kesepemahaman dalam ilmu.

C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan:
Tidak mudah menerima dan menolak suatu kebudayaan baru, musyawarah (mencari solusi terbaik).
2.      Lingkup islam:
Keyakinan terhadap Tuhan selalu mengalami peningkatan karena adanya pembuktian baru.
3.       Lingkup pendidikan
Metode dialogis yaitu memperbicangkan bahan ajar dari berbagai pandangan.





 Referensi:
Irawan. 2013. Tokoh-tokoh Filsafat Sains dari Masa ke Masa. Bandung: Intelekia Pratama