فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا
وَتَقۡوَىٰهَا ٨
8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan
ketakwaannya
Dua jalan yang berbeda sebagaimana yang disebutkan di
atas. Ini menjadikan kita sebagai manusia diberikan pilihan oleh Allah, akan menempuh
jalan fasik atau takwa. Allah hanya meridhoi jalan ketakwaan. Tinggal
manusianya itu sendiri, sungguhkan ingin dan mampu untuk menuju keridhoanNya,
atau justru memilih sebaliknya. Dua keadaan yang apabila kita tidak berada di
salah satunya, maka kita ada di sisi satu yang lain. Tidak mungkin ada
seseorang yang mengaku diridhoi Allah tetapi menempuh jalan yang fasik. Jalan
takwa itu mungkin tidak mudah, bahkan mendaki dan sukar. Sebagaimana firman
Allah pada surat AL-Balad:
وَهَدَيۡنَٰهُ
ٱلنَّجۡدَيۡنِ ١٠ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ
١١
10. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan
dan kejahatan)
11. Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi
sukar.
Maka jika kita ingin meraih keridhoan Allah, ingin
disayangi Allah, mari kita tempuh jalan ketakwaan (kebajikan), meski jalan itu
mendaki dan sukar. Tidak mudah, bahkan mungkin membuat ingin menyerah, ingin
mencari jalan yang ringan-ringan saja, jangan kalah. Karena layaknya mendaki
gunung yang tinggi dan perjalanan menuju kesana yang tidak mudah dan cukup
berat, tetapi jika kita terus mendaki maka insya Allah akan kita dapati
pemandangan yang menakjubkan, udara yang sungguh tak terkatakan, dan rasa
syukur yang tak dapat dinilai. Begitu pula dengan pendakian di jalan ketakwaan
ini, teruslah mendaki, walau mungkin nanti kita akan merasakan kerikil-kerikil
tajam godaan, bebatuan ujian, insya Allah yakin kelak kita akan Allah sampaikan
untuk dapat melihat “wajah” Allah, rasa hangat dekapan keridhoanNya, dan rasa
syukur yang diterima oleh Nya. Aamiin ya rabbal ‘alamiin...
Selalulah waspada dan renungi dirimu sedang ada di jalan
yang mana?
Wallahu 'alam bishawab..
VT_oktha
VT_oktha