Tinggalkan
negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah,
kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah,
manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku
melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika
mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa
jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak
panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika
matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu
manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih
emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu
gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
(Imam
Syafii’, 767-820 M)
Dari
kata mutiara di atas aku kembali tersadar, bahwa merantau menjadi bagian dari
perjuangan para penuntut ilmu dan yang selalu berusaha mengabdi dan bermanfaat.
Kata mutiara itu aku kutip dari salah satu novel karya A. Fuadi, dimana
sebetulnya novel itu sudah aku punya dari tahun 2011, ketika aku masih di
bangku SMA. Tetapi sekarang aku baru menyadari maknanya. Tarulah dalam arti ku
sekarang bukan masalah jangkauan beda negara untuk merantaunya, atau bisa jadi
belum, tetapi tetap tidak mengurangi maknanya. Aku agak sedikit merasa janggal
setelah menulis tulisan ku sebelumnya yang didalamnya ada kalimat “takut
menjadi terasing”. Berulang kali aku ingin menghapus atau mengeditnya, tetapi
kuurungkan. Biarlah itu kemarin menjadi pengingat, untuk menjadi bahan bakar ke
depannya. Langkah tidak selalu mudah, tetapi Allah selalu melimpahkan karunia
dan pertolonganNya. Maka, bismillah sekarang aku paham, dan memang benar. Kalau
kita mau jujur dan lebih membuka mata hati, betapa lebih banyak hal baik yang
Allah titipkan kepada kita dibandingkan sedikit rasa ketakutan atau
kekhawatiran apapun. Maka hati yang lapang bukanlah sesuatu yang hanya
diucapkan, terlebih adalah sesuatu yang sungguh terasa dan terwujud dari hati
yang selalu ikhlas dan ridho, serta tidak pernah lupa untuk bersyukur. Maka
untuk segala amanah yang Allah masih percayakan kepada kita, dan Allah masih
memberikan kita waktu untuk menunaikan amanah tersebut, insya Allah aku akan
mensyukurinya dengan menjalankan dengan sungguh-sungguh dan melakukan yang
terbaik karena Allah. Aku menyayangi banyak hal di setiap hari-hariku kini,
terlebih Allah limpahkan kasih sayangnya dari hal-hal yang ku sayangi itu
kembali menyayangiku dengan lebih. Maka selalu begitu, ketika semua yang kita
sayangi adalah semata-mata agar Allah ridho dan sebagai bukti sayang kita
kepada Allah, maka tanpa ada setitikpun ragu kasih sayang Allah pasti lebih
membanjiri hati kita. Subhanallah...walhamdulillah... Benarlah pada hadist
qudsi kurang lebih: “Jika kita mendekat kepada Allah sejengkal, Allah akan
mendekat kepada kita sehasta. Jika kita mendekat kepada Allah dengan berjalan
kaki, Allah akan mendekat kepada kita dengan berlari” Allahu akbar...
subhanallah...walhamdulillah.....
Maka
di sini aku insya Allah merupakan pribadi yang insya Allah siap untuk Allah
tempatkan dimana saja. Aku pun kembali teringat bahwa do’aku dulu yang sering
kupanjatkan diantaranya adalah “semoga Allah tempatkan ku di tempat yang
terbaik menurut Allah, dan Allah memberikan aku kekuatan untuk melakukan yang
terbaik di dalamnya,” aamiin....
Btw luar negeri dulu merupakan sesuatu yang
aku enggan untuk pergi kesana (studi misalnya kuliah), dulu ku bilang “aku
tidak melihat impianku di luar sana” dan dengan alibi bahwa orang tuaku tidak
mau aku jauh (kecuali ada yang tanggung jawab, a.ka suami, hehe). Selanjutnya
aku pun pada fase yang bilang, semoga Mekah adalah luar negeri yang pertama
kali kupijak (dalam artian menunaikan ibadah umrah/haji), baru kemudian
negara lainnya (alhamdulillah Allah
kabulkan untuk Mekah). Selanjutnya tahap dimana aku ingin “bisa ke luar negeri
untuk mewakili atau dengan alasan pelatihan guru di Jepang, misalnya”. Sampai
juga aku ingin double degree di upi dan hiroshima university dengan konsekuensi
aku harus ambil pend. Ipa bukan pend. Fisika (maka aku pun sempat menjadi pejuang
LPDP untuk pend. IPA), hehe... Sampai tahap sekarang sesederhana aku melihat
gunung dari sepeda motor yang kukendarai ketika aku akan menuju ke sekolah
tempatku mengajar, aku membayangkan bahwa suatu hari adalah gunung Fuji yang
aku lihat, hehehe... Aku pun sempat sedikit terhenyak, seorang kakak tingkat ku
bilang kepadaku bahwa salah satu negara yang akan ia ingin jadikan tempat
melanjutkan studi adalah Mesir (disitu kenapa aku terhenyak karena dulu aku pun
begitu ingin ke Mesir, ke Al-Azhar meski aku belum tau jurusan sainsnya disana
bagaimana, tetapi aku ingin karena termotovasi a.k.a kebita dari novel-novelnya
kang Abik, hehe). Benua biru, juga merupakan salah satu status seseorang yang
dulu aku sering stalkingin medsosnya ketika aku SMA dan kuliah S1, hehe..
Bahkan Univ. Harvard dan MIT merupakan dua universitas yang diinginkan oleh
kedua sahabat baikku. Dipikir-pikir mimpi-mimpi itu sempat terurai, meski belum
kini kita sampai. Karena satu dan lain hal. Tapi aku percaya, bahwa Allah
selalu menjawab do’a kita dan memberikan hikmah dibalik itu semua. Dari novel
teman imaji bilang “jawaban do’a selalu iya: iya sekarang, iya tapi nanti, atau
iya tapi yang lain”. Namun kesemua itu kuyakin intinya aku ingin “pergi untuk
kembali”, kembali untuk negeriku, maka begitu pula dengan kampung halamanku.
Semoga suatu saat aku pun dapat kembali ke kampung halamanku dengan membawa
kemanfaatan dari ilmu dan pengalaman yang aku dapatkan dari luar kampung
halamanku. Walau dengan apapun nanti caranya, baik cara yang besar ataupun cara
yang sederhana. Karena motovasi terbesarku sebenarnya adalah dulu aku sekolah
di daerah, aku merasa ketinggalan ini itu dan pada beberapa hal merasakan
diskriminasi ketika lomba, hehe.. juga merasa amat gereget karena teman-temanku
yang mencintai ilmu tetapi belum bisa kuliah, karena hal ini dan itu yang
menurutku andai saja dari pihak sekolah ada yang membantu memperjuangkan atau
memberikan jalan, mungkin insya Allah akan ada jalan yang lebih baik untuk
pendidikan mereka. Maka dari dulu misi aku salah satunya adalah untuk hal itu,
jika ku kembali ke kampung halamanku. Namun alhamdulillah, sepertinya sedikit
banyak sekarang sekolah di daerah ku sudah semakin maju. Sehingga mungkin lahan
aku untuk berbakti belum saatnya disana. Maka disinilah di sekolah ku yang
sekarang, aku menemukan begitu banyak mutiara dan pengalaman yang tidak mungkin
bisa ku temukan jika di tempat lain (insya Allah suatu hari kuceritakan). Maka,
alhamdulillahi rabbil ‘alamiin... alhamdulillah ‘ala kulli hal...
Semoga
Alllah senantiasa meridhoi langkah kita semua, dan senantiasa menjadikan kita
hamba Allah yang tidak lelah menggapai impian-impian kita, aamiin....
(VT_OKTA)
(VT_OKTA)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar