Apa kabar sahabat matahariku?
Semoga selalu cerah sehingga
sinarmu memberikan energi yang baik untuk semua yang di bumi.
Kini aku menyadari hal yang berarti lagi akan “ketegaran”
yang ternyata selama ini engkau ajarkan. Dulu ketika kita masih sering bersua
di bangku kuliah, aku sering merasa bahwa kamu memiliki banyak energi sehingga
akupun menyebutmu sahabat matahari. Bahkan
saking banyaknya itu aku pernah berpikir bahwa kadang terlalu berlebihan.
Sehingga membuat ku merasa tidak akan pernah bisa satu tujuan denganmu. Lebih
kepada satu sisi yaitu terlalu mempercayakan kekuatan pemikiran logis sedang
aku cenderung kuat juga secara nonlogis (insting).
Aku terlalu sering beralibi bahwa semuanya harus dengan
pertimbangan yang baik, tapi aku lupa tentang pertimbangan yang tepat. Tidak
semua yang baik itu harus lambat dan lembut. Mungkin banyaknya lambat itu
menimbulkan kegoyahan sehingga ketidaktepatannya semakin banyak dan semakin
besar. Sedangkan kamu selalu cepat dan itu pun sering menjadi tepat. Tetapi aku
terlalu enggan untuk mengambil pelajaran itu darimu.
Sahabat matahariku, kini aku mulai mengerti hal yang
berarti. Ketepatanmu selama ini yang cenderung tidak mudah, keras, adalah
sebaik-baik upayamu untuk mewujudkan harapanmu, yang juga harapan keluargamu.
Kamu rela berpayah-payah, demi kelak kebahagian bagi keluarga. Sedang aku
pernah menganggapnya sebagai kesan yang kurang hangat bagi keluarga.
Kamu sering mengurai impianmu kepada dunia, sedang aku
cenderung tidak banyak berceloteh kepada dunia. Aku tidak mempersoalkan hal
ini, semuanya punya tujuan dan alasan masing-masing. Tetapi di sini aku
teringat dulu, kamu sering bertanya padaku, sedang aku selalu tidak mau berurai
padamu. Yang aku tangkap sekarang adalah bahwa jangan sampai aku tidak memiliki
tapak-tapak impian yang jelas. Dari hal ini mungkin maksudmu adalah kita harus
menitinya dengan baik, dengan jelas.
Kamu bukan orang yang mudah percaya, kamu skeptis. Tidak
akan percaya sebelum benar-benar ada penjelasannya, teorinya, hehe. Sehingga aku
pernah berkata padamu bahwa kamu sering tidak percaya padaku. Disini karena aku
pernah bahkan sering tidak memperlihatkannya padamu, hanya sebatas perkataan
yang tetiba menanjak di langit, hehe. Ada alasan kenapa aku tidak menunjukkan
semuanya, tetapi bukan hal itu yang menjadi persoalan. Melainkan bahwa
pembuktian itu merupakan suatu keniscayaan dan keharusan bagi orang-orang yang
berakal. Bukan hanya berasakan kepercayan. Itu yang kutangkap kini dari
sikapmu.
Ya, itu semua adalah didikan yang aku bilang “keseimbangan
benda tegar”, hehe..
Benar kata salah seorang sahabatku yang lain, ia pernah
berkata mungkin kamu itu ingin mendidikku. Dan inilah didikan yang baru aku
sadari. Walaupun secara tidak langsung atau secara tidak sempurna aku
mengartikan didikan tersebut bahkan terlambat sekali aku menyadarinya, tetapi
aku bersyukur sekali Allah memberikan aku pemahaman pada titik ini tentang
didikan itu. Alhamdulillah..
Dan hal ini amat meringankan langkah dan hatiku yang sempat
tersendat karena sesuatu. Aku pernah menciptakan dinding tinggi dan menjulang
denganmu. Aku pernah berpikiran bahwa kita bukan hanya tidak sejalan melainkan
juga berlawanan arah yang tidak akan membuat bertemu di tujuan. Tetapi dari hal
ini aku menyadari bahwa jalan yang berlawanan pun bila tujuan yang dituju sama,
maka insya Allah tetap akan bertemu pada tujuan, dalam artian keridhoanNya,
bahagia kehidupan. Bukan berarti harus bersama nantinya, tetapi sama-sama
mencapai ridho-Nya, dengan ruang, waktu, dan teman yang berbeda ataupun sama
nantinya, semoga, aamiin :)
Terimakasih sahabat matahariku, karena darimu ku kini
belajar bukan hanya tentang kesemangatan tetapi juga ketegaran yang menguatkan. ^_^


Tidak ada komentar:
Posting Komentar