Selasa, 08 November 2016

Bukan Islamisasi Sains, melainkan Integrasi atau Harmonisasi Sains & Agama

                        
Pernahkah Anda mendengar istilah “islamisasi sains”? Mungkin Anda pernah mendengar atau mengetahui ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan sains? Tetapi tidak semua ayat dalam Al-Qur’an yang berhubungan dengan sains dapat kita pahami dan jelaskan dengan detil sesuai dengan ilmu sains. Lantas bagaimanakah cara kita agar kita dapat memahami sains dengan senantiasa bertambah keimanan kepada Allah? Apalagi sebagai umat islam, hendaknya segala ilmu yang kita punya semakin mendekatkan kita pada ketakwaan kepada Allah. Ditambah lagi kita sebagai pendidik ilmu IPA, apakah bisa dengan menjelaskan sains membuat peserta didik bertambah pula kecerdasa spiritualnya? Yuk cari tahu bersama apa dan bagaimana sebenarnya kaitan agama dengan sains, sains dan al-Qur’an dari catatan kecil ketika saya kuliah filsafat sains :)  D
imulai dari pengertian ilmu dan pengetahuan yaa :)

A.   Pengertian Ilmu
Ilmu (non-akademis): jauh dari kesan ilmiah, jauh dari objek yang bersifat empiris, proyek percobaan dan verifikasi.
Ilmu (akademis): pengetahuan yang terdiri atas fakta-fakta yang didapat melalui sejumlah metode tertentu yang terorganisir disertai dengan prosedur yang masuk akal dan melalui verifikasi yang terukur.
Sebagian kalangan umat islam: ilmu sangat khusus => berasal dari Allah swt, bahasa surga.
‘ilmu => al ‘ilmi, cenderung yang disucikan.
Al-ulum ad-din => hanya pengetahuan yang berhubungan dengan agama yang benar-benar ilmu. (ilmu sejati), yang lain tidak benar-benar diakui ilmu (terlalu mengutamakan aspek duniawi/ keterampilan mengelola dunia).





#Penjernihan istilah “ilmu”
          Ilmu menandakan ada dinamika pemahaman berjalan momentumnya sendiri.
Kata ilmu berasal dari bahasa Arab : ‘ulum = kejelasan
Ilmu => segala daya upaya manusia mencari kejelasan (luas makna ilmu)
Artinya apapun bentuk tindakan mengenal, memikirkan serta memahami yang dilakukan manusia terhadap suatu objek bisa dikategorikan kedalam ilmu.
Hanya Menurut Quraish Shihab:
“lebih banyak kata ilmu melekat pada Tuhan, diantaranya ‘alim, ya’lam, sedangkan pada manusia ‘arafa (mengetahui), arif (yang mengetahui), ma’rifah (pengetahuan).”
Dari hal ini nampak bahwa ilmu sepadan dengan pengetahuan.

B.   Pengetian Pengetahuan
Menurut Aristoteles (dalam karnyanya, ‘Metaphysica) => “manusia pada dasarnya selalu ingin tahu.” (tentang dirinya, dunia & sekitarnya).





Karena melibatkan subjek (manusia yang senantiasa berubah) => pengetahuan bersifat dinamis.
Menurut Prof. Ahmad Tafsir:
“Pengetahuan adalah semua yang diketahui oleh manusia.”
Contoh: bayi dalam kandungan dan setelah lahir.
Pengetahuan bersifat menyejarah, berkembang, dan bertambah sesuai dengan kapasitas potensi individu.
*Perubahan & kemajuan
Menurut Blaise Pascal => perubahan dan kemajuan tidak hanya pada setiap individu tetapi umat manusia sebagai satu keseluruhan yang utuh
Jadi makna dinamis bisa berarti individu dan kelompok.
Itulah penyebab pengetahuan bukan kata benda semata. Pengetahuan lebih dimaknai sebagai suatu rangkaian aktivitas atau proses manusia dalam pengembaraannya dari lahir sampai meninggal dunia. (kata kerja)

C.   Tradisi Sains Muslim
Dalam pembelajaran sains di madrasah/sekolah setiap materi sains yang diajarkan (misalnya fisika):
diberikan penjelasan tentang fisikawan muslim, teori-teori yang ditemukannya, menumbuhkan tradisi sains islam kepada peserta didik yaitu meneliti (eksperimen), sehingga tertanam dalam diri peserta didik bahwa ilmuwan muslim pun menggunakan metode yang ilmiah (tradisi sains muslim). Imuwan muslim senantiasa meneliti (bereksperimen), berpikir ilmiah, dan menerapkan sikap ilmiah.
Disamping itu dapat pula memanfaatkan kemampuan bahasa Arab yang dimiliki oleh peserta didik untuk mengkaji ilmu-ilmu fisika dalam kitab-kitab yang ditulis oleh ilmuwan muslim.
Intinya:
Al-Qur’an itu sebagai spirit untuk terus menuntut ilmu dan metode ilmiah sebagai cara untuk menuntut ilmu tersebut.
Jadi, bukan hanya sekedar menempelkan ayat pada suatu teori.
Inilah kurang lebih yang dimaksud dengan harmonisasi sains dan agama yang sebaiknya dapat diterapkan oleh semua penggiat sains yang beragama islam, dengan harapan dapat berjalan beriringan antara bertambahnya ilmu sains bertambah pula keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, dan menjadikan kegiatan menuntut ilmu (termasuk belajar sains) merupakan suatu kegiatan yang bernilai ibadah kepada Allah. 


Wallahu ‘alam bishowaab







Tidak ada komentar:

Posting Komentar