Minggu, 20 November 2016

Memilih Setia ^^ .... Fisika


Bismillah...
aku mau cerita bukan tentang ia yang masih dirahasiakan-Nya. Ini tentang sebuah jalan hidup menjadi pohon yang rindang dan kalau bisa tinggi. Filosofi pohon ini sangat aku suka, dan sangat menampar diri ini untuk mengoreksi diri apakah termasuk ke dalam golongan pohon yang mana. Saat ini aku merasa masih menjadi pohon yang kecil. Ya, sarjana tidak selalu berarti telah siap untuk memetik segala panen. Justru sarjana saat ini kurasakan barulah merupakan tunas yang hendak tumbuh. Akankah ia tumbuh menjadi pohon yang rindang dan kalau bisa tinggi, ataukah akan tetap menjadi pohon yang kecil hingga usia yang tidak muda lagi.

Fisika, adalah amanah yang Allah berikan saat ini padaku, yang disandangkan dengan pendidikan. Aku belumlah menjalankan amanah ini dengan baik. Aku belum ada di medan yang mampu menjadikan amanah ini tertunaikan. Aku masih berada di zona nyamanku yang kalau aku cukup bijak seharusnya dapat menjadikan tempat dan waktu untuk menempaku lebih cukup bekal. Alasan ku yang telah aku anggap alibi beberapa hari yang lalu kini akan kujadikan itu bukanlah alibi, melainkan sebenar-benarnya alasan. Aku belum memilih medan manapun bukan berarti aku tidak menginginkan keluar dari zona nyamanku, aku sungguh tidak ingin setengah-setengah. Maka tidak ada yang lain yang bisa aku lakukan selain bersabar yang sangat dan bersyukur yang banyak. Memang aku begini, bisa dikatakan berbeda dari orang kebanyakan. Tidak mengapa dunia akan berkata apa, tetapi aku yakin Allah akan menuntunku yang mencoba untuk melakukan yang terbaik yang Allah mampukan padaku. Aku sangat bersyukur memiliki keluarga yang luar biasa bagiku. Papa mama ku tiada henti mendukungku. Mereka sangat baik padaku dan mempercayaiku. Mereka tidak pernah menuntutku hal yang tidak menyenangkan untukku. Bahkan yang mereka khawatirkan adalah ketidak nyamananku, ketidak bahagiaanku. Betapa dosanya aku yang masih berleha-leha, yang kadang masih mengeluh dan ingin menyerah, padahal ada mereka yang begitu menjagaku dengan doanya.

Beasiswa, adalah kata yang hingga saat ini belum pernah bersahabat denganku. Di akhir masa perjuangan spd ku, aku mendapatkan kesemangatan untuk meraihnya. Bahkan luar negeri, negeri sakura, yang sama sekali aku belum pernah impikan, kini menjelma sebagai my little dream. Tes apapun aku jalani dengan hati dan langkah yang ringan. Walau hasil salah satu tes terpenting belum aku mencapai standarnya, tetapi sungguh tidak menyakiti hati ku. Langkahku berubah bukan karena tes itu. Langkah ku berubah karena Allah mengingatkanku akan yang terpenting dari tujuan beasiswaku ini. Pend. IPA, bukanlah amanah yang telah ada padaku. Ketika aku telusuri lebih dalam tentang IPA dan fisika betapa hati ini amat ingin fisika. Aku tersadarkan akan hakikat ku kenapa ingin lanjut kuliah, yaitu untuk ilmu. Bukan untuk beasiswa semata, atau gelar semata. Apalah artinya itu semua bila aku tidak bisa dengan sepenuh hati menggapai ilmunya. Maka kebimbangan sempat menjelma. Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk mengurai kebimbangan itu kepada keluargaku.  Maka disitulah jalan yang terang kembali tercipta. Bismillah ku tetap mencoba untuk setia, memilih fisika. Semoga pilihan yang kupilih ini merupakan pilihan yang dipilihkan-Nya. Aamiin :)

Meski ku tahu bahwa akan ada beberapa yang aku lepaskan yaitu beasiswa dan luar negeri. Tidak mengapa bagiku daripada kelak aku harus belajar tanpa keridhoan-Nya, tanpa kesungguh-sungguhan. Aku mencoba untuk mengartikan bahwa master itu sudah sangat harus mendalami, mulai untuk menjadi ahli. Bila aku berbasic IPA ketika sarjana mungkin itu masih akan sangat mungkin aku untuk mengambil IPA lagi. Tetapi ketika aku fisika, rasanya aku berat hati bila tidak menghiraukan perjuangannya, fisika. Biarlah aku harus mengarungi jalan yang tidak mudah lagi, bahkan tidak jelas bagaimana beasiswa akan ada, atau luar negeri bahkan menteri pendidikan. Ya menteri pendidikan, tetiba asa itu muncul beberapa bulan yang lalu, saat aku merasa bingung akan memilih di kota mana aku mengabdi. Pohon yang tinggi lewat IPA mungkin bukan itu yang aku butuhkan. Semoga pohon rindang fisika lah yang sedang aku berusaha tumbuhkan. Yang kalau bisa tinggi. Maka urusan rindang atau tinggi dahulu inipun sepertinya akan tampak beda bagiku. Yang aku rasakan saat ini aku belum bisa menjadi pohon yang rindang, maka aku akan belajar untuk menjadi pohon yang tinggi dulu. Tetapi sungguh bila ada waktu jeda aku akan berusaha dan berdo’a untuk mulai merindangkannya pula, agar ketika angin besar semakin menggoyah, dedaunan ku yang rindang akan menguatkannya. Bismillah...semoga ini merupakan yang aku butuhkan, yang akan diberikanNya, yang diridhoi-Nya, aamiin :)

Karena, bersama, dan untuk Allah.

Do everything lillah, persembahkan yang terbaik untuk Allah.



Sabtu, 19 November 2016

teruntuk sahabat matahariku (season 2)




Apa kabar sahabat matahariku? 
Semoga selalu cerah sehingga sinarmu memberikan energi yang baik untuk semua yang di bumi.

Kini aku menyadari hal yang berarti lagi akan “ketegaran” yang ternyata selama ini engkau ajarkan. Dulu ketika kita masih sering bersua di bangku kuliah, aku sering merasa bahwa kamu memiliki banyak energi sehingga akupun menyebutmu sahabat matahari. Bahkan saking banyaknya itu aku pernah berpikir bahwa kadang terlalu berlebihan. Sehingga membuat ku merasa tidak akan pernah bisa satu tujuan denganmu. Lebih kepada satu sisi yaitu terlalu mempercayakan kekuatan pemikiran logis sedang aku cenderung kuat juga secara nonlogis (insting).

Aku terlalu sering beralibi bahwa semuanya harus dengan pertimbangan yang baik, tapi aku lupa tentang pertimbangan yang tepat. Tidak semua yang baik itu harus lambat dan lembut. Mungkin banyaknya lambat itu menimbulkan kegoyahan sehingga ketidaktepatannya semakin banyak dan semakin besar. Sedangkan kamu selalu cepat dan itu pun sering menjadi tepat. Tetapi aku terlalu enggan untuk mengambil pelajaran itu darimu.

Sahabat matahariku, kini aku mulai mengerti hal yang berarti. Ketepatanmu selama ini yang cenderung tidak mudah, keras, adalah sebaik-baik upayamu untuk mewujudkan harapanmu, yang juga harapan keluargamu. Kamu rela berpayah-payah, demi kelak kebahagian bagi keluarga. Sedang aku pernah menganggapnya sebagai kesan yang kurang hangat bagi keluarga.

Kamu sering mengurai impianmu kepada dunia, sedang aku cenderung tidak banyak berceloteh kepada dunia. Aku tidak mempersoalkan hal ini, semuanya punya tujuan dan alasan masing-masing. Tetapi di sini aku teringat dulu, kamu sering bertanya padaku, sedang aku selalu tidak mau berurai padamu. Yang aku tangkap sekarang adalah bahwa jangan sampai aku tidak memiliki tapak-tapak impian yang jelas. Dari hal ini mungkin maksudmu adalah kita harus menitinya dengan baik, dengan jelas.

Kamu bukan orang yang mudah percaya, kamu skeptis. Tidak akan percaya sebelum benar-benar ada penjelasannya, teorinya, hehe. Sehingga aku pernah berkata padamu bahwa kamu sering tidak percaya padaku. Disini karena aku pernah bahkan sering tidak memperlihatkannya padamu, hanya sebatas perkataan yang tetiba menanjak di langit, hehe. Ada alasan kenapa aku tidak menunjukkan semuanya, tetapi bukan hal itu yang menjadi persoalan. Melainkan bahwa pembuktian itu merupakan suatu keniscayaan dan keharusan bagi orang-orang yang berakal. Bukan hanya berasakan kepercayan. Itu yang kutangkap kini dari sikapmu.

Ya, itu semua adalah didikan yang aku bilang “keseimbangan benda tegar”, hehe..
Benar kata salah seorang sahabatku yang lain, ia pernah berkata mungkin kamu itu ingin mendidikku. Dan inilah didikan yang baru aku sadari. Walaupun secara tidak langsung atau secara tidak sempurna aku mengartikan didikan tersebut bahkan terlambat sekali aku menyadarinya, tetapi aku bersyukur sekali Allah memberikan aku pemahaman pada titik ini tentang didikan itu. Alhamdulillah..


Dan hal ini amat meringankan langkah dan hatiku yang sempat tersendat karena sesuatu. Aku pernah menciptakan dinding tinggi dan menjulang denganmu. Aku pernah berpikiran bahwa kita bukan hanya tidak sejalan melainkan juga berlawanan arah yang tidak akan membuat bertemu di tujuan. Tetapi dari hal ini aku menyadari bahwa jalan yang berlawanan pun bila tujuan yang dituju sama, maka insya Allah tetap akan bertemu pada tujuan, dalam artian keridhoanNya, bahagia kehidupan. Bukan berarti harus bersama nantinya, tetapi sama-sama mencapai ridho-Nya, dengan ruang, waktu, dan teman yang berbeda ataupun sama nantinya, semoga, aamiin :)


Terimakasih sahabat matahariku, karena darimu ku kini belajar bukan hanya tentang kesemangatan tetapi juga ketegaran yang menguatkan. ^_^

                                                  

Senin, 14 November 2016

Supermoon dari langit Subang ^^






Alhamdulillah...malam ini aku diberikan kesempatan oleh Allah untuk dapat melihat fenomena supermoon :D beberapa minggu yang lalu seharusnya kalau cerah katanya ada juga hujan meteor, tetapi alhamdulillah meski aku tidak menyaksikannya secara langsung aku bisa melihatnya di dalam mimpi. Hihi.. iya, aku mimpi hujan meteor sebelum aku tahu bahwa beberapa hari lagi akan ada hujan meteor. Masha Allah :D Alhamdulillah ...lewat fenomena hendaknya kita banyak belajar, belajar tentang kebesaran illahi. Meningkatkan keyakinan kita kepada yang Maha Pencipta. Mereka bertasbih kepada Allah, benda-benda dan makhluk-makhluk yang ada di langit dan yang ada di bumi. Mereka tiada henti berdzikir memuja memuji Allah. Lantas mengapa kita manusia makhluk yang kecil, sering dan banyak alfa dna dosa malah enggan untuk memohon ampunan dan beribadah kepada-Nya? Astagfirullah... Ampunilah kami yaa ghafar...

Selasa, 08 November 2016

Pioneer in Optics & the Real Father of Engineering

Tulisan ini melanjutkan dari tulisan sebelumnya tentang harmonisasi sains dan agama, dimana salah satu caranya yaitu dengan menjelaskan tentang ilmuwan muslim beserta teori-teorinya. Berikut ini dua tokoh ilmuwan muslim yang mungkin belum banyak diketahui bahwa merekalah pelopor ilmu-ilmu sains, yaitu Ibnu Haitam dalam bidang optik dan Al-Jazari dalam bidang mesin. (sumber dari catatan kecil kuliah filsafat sains, dan searching google)


A.      Ibnu Haitham (Lahir pada 965-1039 M)
           Teori optik pertama dijelaskan oleh Ibnu Haitham dalam kitab Al-   Manazir. Diantaranya menjelaskan mekanisme penglihatan pada manusia: beliau mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuwan Yunani, Ptolemy dan Euclid.
Ptolemy & Euclid menyatakan bahwa manusia bisa melihat karena ada cahaya yang keluar dari mata yang mengenai objek. Berbeda dengan keduanya, Ibnu Haitham mengoreksi teori ini dengan menyatakan bahwa justru objek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat.
Pada tahun 1572 M, Al-Manadhir diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul Opiticae Thesaurus. Dalam buku ini menjelaskan detail bagian dan fungsi mata.  Bab III volume pertama mengupas ide-ide tentang cahaya. Ibnu Haitham meyakini bahwa sinar cahaya yang keluar dari garis lurus dari setiap titik di permukaan yang bercahaya. Beliau membuat percobaan sederhana yang sangat teliti tentang lintasan cahaya melalui berbagai media dan menemukan teori tentang pembiasan cahaya. Beliau jugalah yang melakukan eksperimen pertama tentang penyebaran cahaya terhadap berbagai warna.
Ibnu Haitham menginspirasi/mengilhami Boger, Bacon, Keppler yang menciptakan mikroskop dan teleskop.
Karya yang paling fenomental bersama muridnya, Kamaluddin: pertama kali meneliti dan merekam fenomena kamera Obsecura. Inilah yang mendasari kinerja kamera saat ini. “Ruang Gelap” => berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya.


B.      Al-Jazari (1136-1206 M) Abad ke 12

                                

           Al-Jazari mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang kemudian dikenal dengan mesin robot. Beliau menulis kitab Fi Ma’rifat al-Hiyal al-Handasiyya (buku pengetehuan ilmu mekanik) tahun 1206 M, yang didalamnya terdapat instruksi merancang, merakit, dan membuat mesin.
                Pada tahun 1206 M, Al-Jazari membuat jam gajah yang berkerja dengan tenaga air dan tenaga air dan berat benda untuk menggerakkan secara otomatis didtem mekanis yang dalam interval tertentu akan memberikan suara simbal dan burung berkicau. Prinsip humanoid automation inilah yang mengilhami pengembangan robot masa sekarang. 


                                   


Bukan Islamisasi Sains, melainkan Integrasi atau Harmonisasi Sains & Agama

                        
Pernahkah Anda mendengar istilah “islamisasi sains”? Mungkin Anda pernah mendengar atau mengetahui ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan sains? Tetapi tidak semua ayat dalam Al-Qur’an yang berhubungan dengan sains dapat kita pahami dan jelaskan dengan detil sesuai dengan ilmu sains. Lantas bagaimanakah cara kita agar kita dapat memahami sains dengan senantiasa bertambah keimanan kepada Allah? Apalagi sebagai umat islam, hendaknya segala ilmu yang kita punya semakin mendekatkan kita pada ketakwaan kepada Allah. Ditambah lagi kita sebagai pendidik ilmu IPA, apakah bisa dengan menjelaskan sains membuat peserta didik bertambah pula kecerdasa spiritualnya? Yuk cari tahu bersama apa dan bagaimana sebenarnya kaitan agama dengan sains, sains dan al-Qur’an dari catatan kecil ketika saya kuliah filsafat sains :)  D
imulai dari pengertian ilmu dan pengetahuan yaa :)

A.   Pengertian Ilmu
Ilmu (non-akademis): jauh dari kesan ilmiah, jauh dari objek yang bersifat empiris, proyek percobaan dan verifikasi.
Ilmu (akademis): pengetahuan yang terdiri atas fakta-fakta yang didapat melalui sejumlah metode tertentu yang terorganisir disertai dengan prosedur yang masuk akal dan melalui verifikasi yang terukur.
Sebagian kalangan umat islam: ilmu sangat khusus => berasal dari Allah swt, bahasa surga.
‘ilmu => al ‘ilmi, cenderung yang disucikan.
Al-ulum ad-din => hanya pengetahuan yang berhubungan dengan agama yang benar-benar ilmu. (ilmu sejati), yang lain tidak benar-benar diakui ilmu (terlalu mengutamakan aspek duniawi/ keterampilan mengelola dunia).





#Penjernihan istilah “ilmu”
          Ilmu menandakan ada dinamika pemahaman berjalan momentumnya sendiri.
Kata ilmu berasal dari bahasa Arab : ‘ulum = kejelasan
Ilmu => segala daya upaya manusia mencari kejelasan (luas makna ilmu)
Artinya apapun bentuk tindakan mengenal, memikirkan serta memahami yang dilakukan manusia terhadap suatu objek bisa dikategorikan kedalam ilmu.
Hanya Menurut Quraish Shihab:
“lebih banyak kata ilmu melekat pada Tuhan, diantaranya ‘alim, ya’lam, sedangkan pada manusia ‘arafa (mengetahui), arif (yang mengetahui), ma’rifah (pengetahuan).”
Dari hal ini nampak bahwa ilmu sepadan dengan pengetahuan.

B.   Pengetian Pengetahuan
Menurut Aristoteles (dalam karnyanya, ‘Metaphysica) => “manusia pada dasarnya selalu ingin tahu.” (tentang dirinya, dunia & sekitarnya).





Karena melibatkan subjek (manusia yang senantiasa berubah) => pengetahuan bersifat dinamis.
Menurut Prof. Ahmad Tafsir:
“Pengetahuan adalah semua yang diketahui oleh manusia.”
Contoh: bayi dalam kandungan dan setelah lahir.
Pengetahuan bersifat menyejarah, berkembang, dan bertambah sesuai dengan kapasitas potensi individu.
*Perubahan & kemajuan
Menurut Blaise Pascal => perubahan dan kemajuan tidak hanya pada setiap individu tetapi umat manusia sebagai satu keseluruhan yang utuh
Jadi makna dinamis bisa berarti individu dan kelompok.
Itulah penyebab pengetahuan bukan kata benda semata. Pengetahuan lebih dimaknai sebagai suatu rangkaian aktivitas atau proses manusia dalam pengembaraannya dari lahir sampai meninggal dunia. (kata kerja)

C.   Tradisi Sains Muslim
Dalam pembelajaran sains di madrasah/sekolah setiap materi sains yang diajarkan (misalnya fisika):
diberikan penjelasan tentang fisikawan muslim, teori-teori yang ditemukannya, menumbuhkan tradisi sains islam kepada peserta didik yaitu meneliti (eksperimen), sehingga tertanam dalam diri peserta didik bahwa ilmuwan muslim pun menggunakan metode yang ilmiah (tradisi sains muslim). Imuwan muslim senantiasa meneliti (bereksperimen), berpikir ilmiah, dan menerapkan sikap ilmiah.
Disamping itu dapat pula memanfaatkan kemampuan bahasa Arab yang dimiliki oleh peserta didik untuk mengkaji ilmu-ilmu fisika dalam kitab-kitab yang ditulis oleh ilmuwan muslim.
Intinya:
Al-Qur’an itu sebagai spirit untuk terus menuntut ilmu dan metode ilmiah sebagai cara untuk menuntut ilmu tersebut.
Jadi, bukan hanya sekedar menempelkan ayat pada suatu teori.
Inilah kurang lebih yang dimaksud dengan harmonisasi sains dan agama yang sebaiknya dapat diterapkan oleh semua penggiat sains yang beragama islam, dengan harapan dapat berjalan beriringan antara bertambahnya ilmu sains bertambah pula keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, dan menjadikan kegiatan menuntut ilmu (termasuk belajar sains) merupakan suatu kegiatan yang bernilai ibadah kepada Allah. 


Wallahu ‘alam bishowaab