Bismillah...
aku mau cerita bukan tentang ia yang masih dirahasiakan-Nya. Ini tentang sebuah jalan hidup menjadi pohon yang rindang dan kalau bisa tinggi. Filosofi pohon ini sangat aku suka, dan sangat menampar diri ini untuk mengoreksi diri apakah termasuk ke dalam golongan pohon yang mana. Saat ini aku merasa masih menjadi pohon yang kecil. Ya, sarjana tidak selalu berarti telah siap untuk memetik segala panen. Justru sarjana saat ini kurasakan barulah merupakan tunas yang hendak tumbuh. Akankah ia tumbuh menjadi pohon yang rindang dan kalau bisa tinggi, ataukah akan tetap menjadi pohon yang kecil hingga usia yang tidak muda lagi.
aku mau cerita bukan tentang ia yang masih dirahasiakan-Nya. Ini tentang sebuah jalan hidup menjadi pohon yang rindang dan kalau bisa tinggi. Filosofi pohon ini sangat aku suka, dan sangat menampar diri ini untuk mengoreksi diri apakah termasuk ke dalam golongan pohon yang mana. Saat ini aku merasa masih menjadi pohon yang kecil. Ya, sarjana tidak selalu berarti telah siap untuk memetik segala panen. Justru sarjana saat ini kurasakan barulah merupakan tunas yang hendak tumbuh. Akankah ia tumbuh menjadi pohon yang rindang dan kalau bisa tinggi, ataukah akan tetap menjadi pohon yang kecil hingga usia yang tidak muda lagi.
Fisika, adalah amanah yang
Allah berikan saat ini padaku, yang disandangkan dengan pendidikan. Aku
belumlah menjalankan amanah ini dengan baik. Aku belum ada di medan yang mampu
menjadikan amanah ini tertunaikan. Aku masih berada di zona nyamanku yang kalau
aku cukup bijak seharusnya dapat menjadikan tempat dan waktu untuk menempaku
lebih cukup bekal. Alasan ku yang telah aku anggap alibi beberapa hari yang
lalu kini akan kujadikan itu bukanlah alibi, melainkan sebenar-benarnya alasan.
Aku belum memilih medan manapun bukan berarti aku tidak menginginkan keluar
dari zona nyamanku, aku sungguh tidak ingin setengah-setengah. Maka tidak ada
yang lain yang bisa aku lakukan selain bersabar yang sangat dan bersyukur yang
banyak. Memang aku begini, bisa dikatakan berbeda dari orang kebanyakan. Tidak
mengapa dunia akan berkata apa, tetapi aku yakin Allah akan menuntunku yang
mencoba untuk melakukan yang terbaik yang Allah mampukan padaku. Aku sangat
bersyukur memiliki keluarga yang luar biasa bagiku. Papa mama ku tiada henti
mendukungku. Mereka sangat baik padaku dan mempercayaiku. Mereka tidak pernah
menuntutku hal yang tidak menyenangkan untukku. Bahkan yang mereka khawatirkan
adalah ketidak nyamananku, ketidak bahagiaanku. Betapa dosanya aku yang masih
berleha-leha, yang kadang masih mengeluh dan ingin menyerah, padahal ada mereka
yang begitu menjagaku dengan doanya.
Beasiswa, adalah kata yang
hingga saat ini belum pernah bersahabat denganku. Di akhir masa perjuangan spd
ku, aku mendapatkan kesemangatan untuk meraihnya. Bahkan luar negeri, negeri
sakura, yang sama sekali aku belum pernah impikan, kini menjelma sebagai my
little dream. Tes apapun aku jalani dengan hati dan langkah yang ringan. Walau
hasil salah satu tes terpenting belum aku mencapai standarnya, tetapi sungguh
tidak menyakiti hati ku. Langkahku berubah bukan karena tes itu. Langkah ku
berubah karena Allah mengingatkanku akan yang terpenting dari tujuan beasiswaku
ini. Pend. IPA, bukanlah amanah yang telah ada padaku. Ketika aku telusuri
lebih dalam tentang IPA dan fisika betapa hati ini amat ingin fisika. Aku tersadarkan
akan hakikat ku kenapa ingin lanjut kuliah, yaitu untuk ilmu. Bukan untuk
beasiswa semata, atau gelar semata. Apalah artinya itu semua bila aku tidak
bisa dengan sepenuh hati menggapai ilmunya. Maka kebimbangan sempat menjelma.
Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk mengurai kebimbangan
itu kepada keluargaku. Maka disitulah
jalan yang terang kembali tercipta. Bismillah ku tetap mencoba untuk setia,
memilih fisika. Semoga pilihan yang kupilih ini merupakan pilihan yang dipilihkan-Nya.
Aamiin :)
Meski ku tahu bahwa akan ada
beberapa yang aku lepaskan yaitu beasiswa dan luar negeri. Tidak mengapa bagiku
daripada kelak aku harus belajar tanpa keridhoan-Nya, tanpa
kesungguh-sungguhan. Aku mencoba untuk mengartikan bahwa master itu sudah
sangat harus mendalami, mulai untuk menjadi ahli. Bila aku berbasic IPA ketika
sarjana mungkin itu masih akan sangat mungkin aku untuk mengambil IPA lagi.
Tetapi ketika aku fisika, rasanya aku berat hati bila tidak menghiraukan
perjuangannya, fisika. Biarlah aku harus mengarungi jalan yang tidak mudah
lagi, bahkan tidak jelas bagaimana beasiswa akan ada, atau luar negeri bahkan
menteri pendidikan. Ya menteri pendidikan, tetiba asa itu muncul beberapa bulan
yang lalu, saat aku merasa bingung akan memilih di kota mana aku mengabdi.
Pohon yang tinggi lewat IPA mungkin bukan itu yang aku butuhkan. Semoga pohon
rindang fisika lah yang sedang aku berusaha tumbuhkan. Yang kalau bisa tinggi.
Maka urusan rindang atau tinggi dahulu inipun sepertinya akan tampak beda
bagiku. Yang aku rasakan saat ini aku belum bisa menjadi pohon yang rindang,
maka aku akan belajar untuk menjadi pohon yang tinggi dulu. Tetapi sungguh bila
ada waktu jeda aku akan berusaha dan berdo’a untuk mulai merindangkannya pula,
agar ketika angin besar semakin menggoyah, dedaunan ku yang rindang akan
menguatkannya. Bismillah...semoga ini merupakan yang aku butuhkan, yang akan
diberikanNya, yang diridhoi-Nya, aamiin :)
Karena, bersama, dan untuk
Allah.
Do everything lillah,
persembahkan yang terbaik untuk Allah.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar