PENTINGNYA PENDAYAGUNAAN LABORATORIUM
DALAM PEMBELAJARAN FISIKA
VITA OKTAVIANI (1122070074)
Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan MIPA
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Jl. A. H. Nasution No. 105 Cibiru - Bandung 40614
Email: vietha.starly@yahoo.co.id
ABSTRAK :
Tulisan ini bertujuan untuk membahas tentang
pentingnya mendayagunakan laboratorium dalam pembelajaran fisika. Metode yang
dilakukan yaitu studi pustaka, mencari dan mengumpulkan informasi penting yang
sesuai dengan topik penulisan dari berbagai sumber, seperti makalah dan website
atau situs internet terkait. Kegiatan praktikum merupakan ruh dari sains.
Fisika merupakan cabang dari sains. Pembelajaran fisika tidak akan dapat
dipisahkan dari kegiatan praktikum. Fisika terdiri dari berbagai fakta, konsep,
teori dan hukum yang dapat dibuktikan dengan kegiatan praktikum. Kegiatan
praktikum ini akan lebih efektif bila dilakukan di laboratorium sains
(laboratorium fisika) yang berdaya guna.
Kata Kunci : Pendayagunaan, Laboratorium, Kegiatan
Praktikum, Pembelajaran Fisika
ABSTRACT
This paper aims to describe the
importance of efficiency laboratory in physics learning. The reseach used
literature study, searching information from multisources, as paper and website
or situs internet relevance. Practical activity is soul of science. Physics is
subdivision of science. physics learning cannot separable with practical
activity. Physics consist of fact, concept, theory, and law who can verifying
by practical activity. The practical activity will more effective if doing in
science laboratory (physics laboratory) with efficiently.
Keywords : The efficiency, laboratority,
practical activity, physics learning
PENDAHULUAN
Fisika adalah cabang dari Ilmu Pengetahuan Alam
(sains). Hakikat fisika dapat ditinjau dari hakikat sains. Menurut Fisher
(1975) sains adalah bangunan pengetahuan yang diperoleh menggunakan metode
berdasarkan observasi. Menurut Zen (1984) sains adalah suatu eksplorasi ke alam
materi berdasarkan observasi, dan yang mencari hubungan-hubungan alamiah yang
teratur mengenai fenomena yang diamati serta bersifat mampu menguji diri
sendiri. Menurut Dawson (1994) sains adalah aktivitas pemecahan
masalah oleh manusia yang termotivasi oleh keingintahuan untuk
memahami, menguasai, dan mengolahnya demi memenuhi kebutuhan.
Dua aspek penting dari
definisi-definisi tersebut adalah proses sains dan produk sains. Yang merupakan
proses sains adalah eksperimen yang meliputi penemuan masalah dan perumusannya,
perumusan hipotesis, merancang percobaan, melakukan pengukuran, menganalisis
data, dan menarik kesimpulan (Sund, 1982). Sedangkan produk sains berupa
bangunan sistematis pengetahuan (body of knowledge) (Dawson, 1994); Carin dan
Sund, 1989) sebagai hasil dari proses yang dilakukan oleh para saintis. Dalam
melakukan proses sains, diperlukan sikap-sikap positif antara lain memiliki
rasa ingin tahu (curiosity), jujur. Toleran, skeptis, dan objektif, yang
disebut sikap sains atau sikap ilmiah. Oleh karena itu, kalau kita membicarakan
sains maka yang tergambar dalam pikiran minimal adalah produk, proses, dan
sikap sains (Carin dan Sund, 1989).
Menurut Karso (1993:71) fisika merupakan ilmu yang
lahir dan dikembangkan melalui langkah-langkah observasi, perumusan masalah,
pengujian hipotesis lewat eksperimen, pengajuan kesimpulan, dan pengujian
teori/konsep.” Fisika merupakan bagian dari sains yang memungkinkan manusia
memperoleh kebenaran ilmiah dari fenomea-fenomena alam sehingga memudahkan
menggambarkan dan mengatur alam. Fisika merupakan mata pelajaran yang berfungsi
mengembangkan semua spek belajar yang dimiliki peserta didik (afektif,
kognitif, dan psikomotorik) sehingga mempunyai sikap percaya diri untuk bekal
hidup di masyarakat.
Pembelajaran IPA (fisika) tidak
akan terpisahkan dengan kegiatan praktikum. Woolnough dan
Allsop (dalam Rustaman, 2003) mengemukakan empat alasan pentingnya kegiatan
praktikum IPA. Pertama, praktikum dapat membangkitkan motivasi belajar IPA.
Kedua, praktikum mengembangkan keterampilan dasar melakukan eksperimen. Ketiga,
praktikum menjadi wahana belajar pendekatan ilmiah. Keempat, praktikum
menunjang materi pelajaran. Keterampilan proses IPA sendiri meliputi:
mengamati, menafsirkan, mengklasifikasikan, menggunakan alat dan bahan,
menerapkan konsep, merencanakan percobaan, berkomunikasi dan mengajukan
pertanyaan. Arifin et al. (2003) mengemukakan bahwa metode
praktikum merupakan penunjang kegiatan proses belajar untuk menemukan prinsip
tertentu atau menjelaskan tentang prinsip-prinsip yang dikembangkan.
Menurut Arifin (2003), keuntungan menggunakan metode
eksperimen atau praktikum adalah sebagai berikut:
(1) Dapat
menggambarkan keadaan yang konkret tentang suatu peristiwa
(2) Siswa dapat
mengamati proses.
(3) Siswa dapat
mengembangkan keterampilan inkuiri.
(4) Siswa dapat
mengembangkan sikap ilmiah.
(5) Membantu guru
untuk mencapai tujuan pembelajaran lebih efektif dan efisien.
Dalam Anonim (2003), menyatakan
bahwa berdasakan hasil pemantauan dan evaluasi yang telah dilakukan oleh
Direktorat Pendidikan Menengah Umum Dan Inspektorat Jenderal Pendidikan Dasar
dan Menengah, diperoleh informasi bahwa masih banyak laboratorium Fisika (secara
umum laboratorium Ilmu pengetahuan Alam/IPA) yang belum dimanfaatkan
sebagaimana mestinya, bahkan pengelolaan dan pemanfaatannya sebagai sumber
belajar belum optimal atau ada yang belum digunakan sama sekali. masalah
tersebut disebabkan oleh berbagai macam faktor. Hal ini dapat berakibat, siswa
belajar fisika yang bersifat hafalan, sehingga menjadi kurang bermakna dan
berdampak pada pembelajaran yang kurang optimal.
Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa penting
untuk membahas tentang pentingnya pendayagunaan laboratorium dalam
pelaksanaan kegiatan praktikum dalam pembelajaran fisika.
PEMBAHASAN
Laboratorium (disingkat lab) adalah tempat riset
ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium
biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut
secara terkendali (Anonim, 2007). Menurut Emha (2002), laboratorium diartikan
sebagai suatu tempat untuk mengadakan percobaan, penyelidikan, dan sebagainya
yang berhubungan dengan ilmu fisika, kimia, dan biologi atau bidang ilmu
lain. Pengertian lain menurut Sukarso (2005), laboratorium ialah suatu
tempat dimana dilakukan kegiatan kerja untuk mernghasilkan sesuatu. Tempat ini
dapat merupakan suatu ruangan tertutup, kamar, atau ruangan terbuka, misalnya
kebun dan lain-lain.
Laboratorium dalah salah satu sarana pendidikan yang
dapat digunakan sebagai tempat berlatih, siswa dapat mengadakan kontak dengan
obyek yang dipelajari secara langsung baik melalui pengamatan maupun dengan
melakukan percobaan, dari laboratorium itulah akan selalu mengalir
informasi-informasi ilmiah baru yang berasal dari hasil-hasil penemuan para
peneliti di laboratorium.
Selain uraian di atas, ada juga yang mengartikan
laboratorium sebagai sutau tempat dilakukannya percobaan dan penelitian. Tempat
ini dapat merupakan suatu ruangan tertutup, kamar atu ruangan terbuka, kebun
misalnya. Dalam pengertian yang terbatas, laboratorium ialah suatu ruangan
tertutup dimana percobaan dan penelitian dilakukan.
Laboratorium merupakan salah satu
prasarana pendidikan, yang dapat digunakan sebagai tempat berlatih para siswa dalam memahami konsep-konsep IPA dengan melakukan
percobaan dan pengamatan. Dengan demikian, laboratorium IPA-Fisika merupakan
bagian yang integral tak dapat dipisahkan dari suatu pengajaran Fisika. Ilmu
pengetahuan yang diperoleh dari hasil observasi, eksperimentasi dan harus siap
diuji melalui observasi dan eksperimentasi lanjutan. Keberadaan laboratorium
IPA-Fisika diperlukan untuk memberikan pengalaman langsung dari aplikasi teori
yang diterima melalui kegiatan laboratorium/praktikum, untuk menunjang kegiatan
belajar mengajar di kelas. Praktikum IPA khususnya Fisika tidak hanya terbatas
dilaksanakan di ruang laboratorium, tetapi dapat juga dengan memanfaatkan alam
melalui kegiatan lapangan.
Berkaitan dengan hal di atas maka peranan laboratorium
IPA-Fisika menjadi sangat penting, karena laboratorium merupakan pusat proses
belajar mengajar untuk mengadakan percobaan, penyelidikan, atau penelitian
dalam bidang IPA. Dengan demikian laboratorium mempunyai fungsi sebagai tempat
kegiatan penunjang dari kegiatan kelas, atau sebaliknya kegiatan kelas menjadi
penunjang kegiatan laboratorium. Di laboratorium siswa akan memperoleh
keterampilan sebagaimana yang diharapkan oleh kurikulum.
Tujuan laboratorium adalah untuk melibatkan siswa
dalam menggunakan strategi dan prosedur logis, untuk mempertunjukan
(mendemosntrasikan) implikasi tentang hukum dan teori ilmiah, untuk menyediakan
pengalaman dalam mempertanyakan yang baik tentang alam, untuk menyediakan
praktek mengenali keteraturan, simetri, keanekaragaman dan penggunaanantar
komponen pengamatan. Sehingga secara umum tujuan laboratorium dalah untuk
membantu menentukan pesan intelektual pada data, keterampilan yang dibutuhkan
bersifat intelektual.
Fungsi utama laboratorium adalah untuk menyampaikan
roh/jiwa metode inkuiri ilmiah. Menurut Sharma (1981: 205) salah satu fungsi
yang penting laboratorium ilmu pengetahuan adalah memperdalam pemahaman siswa
tentang konsep ilmiah dan aplikasinya berhubungan erat dengan lingkungan alam
Depdikbud (1999: 12) mengungkapkan bahwa fungsi dan peranan laboratorium
adalah :
(1) Laboratorium sebagai sumber belajar
Tujuan pembelajaran fisika dengan banyak variasi dapat
digali, diungkapkan, dan dikembangkan dari laboratorium. Laboratorium sebagai
sumber untuk memecahkan masalah atau melakukan percobaan. Berbagai masalah yang
berkaitan dengan tujuan pembelajaran terdiri dari 3 ranah yakni: ranah
pengetahuan, ranah sikap, dan ranah
keterampilan/afektif.
(2) Laboratorium sebagai metode pendidikan
Di dalam laboratorium terdapat dua metode
dalam pembelajaran yakni metode percobaan dan metode pengamatan.
(3) Laboratorium sebagai prasaran pendidikan.
Laboratorium sebagai prasarana pendidikan atau wadah
proses pembelajaran. Laboratorium terdiri dari ruang yang dilengkapi dengan
berbagai perlengkapan dengan bermacam-macam kondisi yang dapat dikendalikan,
khususnya peralatan untuk melakukan percobaan.
Selain keperluan yang logis, eksperimen laboratorium
memiliki nilai-nilai sebagai berikut :
(1) Siswa menemukan, membuktikan statement guru
dan tulisan buku ketika melaksanakan eksperimen di laboratorium.
(2) Kegitan praktikum menyediakan suatu aktivitas yang
dapat menguntungkan dan secara emosional memuaskan.
(3) Memperoleh pengetahuan ilmiah dan pandangan
ilmiah, yang merupakan dua sasaran utama mengajar sains, dapat dicapai hanya
melalui kegiatan praktik laboratorium.
(4) Menyediakan peluang untuk pelatihan dan metode
ilmiah untuk memecahakan masalah.
(5) Praktikum akan membentuk siswa mampu bekerjasama,
menambha wawasan, inisiatif, percaya diri, dan lain-lain.
(6) Menyediakan peluang untuk berlatih membaca skala,
membuat diagram dan membiasakan para siswa untuk menggunakan berbagai peralatan
yang biasa digunakan ilmuan.
Laboratorium merupakan bagian penting dan utama dalam
proses pendidikan, artinya siswa secara individu atau berkelompok dengan
bimbingan guru belajar berlatih secara aktif menggunakan segenap panca indera,
otak dan tenaganya memecahkan berbagai masalahnya sendiri dari buku-buku
perpustakaan atau Lembar Kerja Siswa (LKS), kemudian mendiskusikan hasil-hasil
penelaahannya di dalam laboratorium untuk memperoleh pengetahuan (Dikbud, 1999
: 5).
Menurut Sukarso (2005), secara garis besar
laboratorium dalam proses pendidikan adalah sebagai berikut:
(1) Sebagai tempat untuk berlatih mengembangkan keterampilan intelektual
melalui kegiatan pengamatan, pencatatan dan pengkaji gejala-gejala alam.
(2) keterampilan motorik siswa. Siswa akan bertambah keterampilannya dalam
mempergunakan alat-alat media yang tersedia untuk mencari dan menemukan
kebenaran.
(3) Memberikan dan memupuk keberanian untuk mencari hakekat kebenaran ilmiah
dari sesuatu objek dalam lingkungn alam dan sosial.
(4) Memupuk rasa ingin tahu siswa sebagai modal sikap ilmiah seseorang calon
ilmuan.
(5) Membina rasa percaya diri sebagai akibat keterampilan dan pengetahuan atau
penemuan yang diperolehnya.
Menurut Emha (2002) peranan laboratorium sekolah
antara lain :
(1) Laboratorium sekolah sebagai tempat timbulnya
berbagai masalah sekaligus sebagai tempat untuk memecahkan masalah tersebut.
(2) Laboratorium sekolah sebagai tempat untuk melatih
keterampilan serta kebiasaan menemukan suatu masalah dan sikap teliti.
(3) Laboratorium sekolah sebagai tempat yang dapat
mendorong semangat peserta didik untuk memperdalam pengertian dari suatu fakta
yang diselidiki atau diamatinya.
(4) Laboratorium sekolah berfungsi pula sebagai tempat
untuk melatih peserta didik bersikap cermat, bersikap sabar dan jujur, serta
berpikir kritis dan cekatan.
(5) Laboratorium sebagai tempat bagi para peserta
didik untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya.
Menurut Arifin (2003), keuntungan menggunakan metode
eksperimen atau praktikum adalah sebagai berikut:
Dapat menggambarkan keadaan yang
konkret tentang suatu peristiwa
Siswa dapat mengamati proses.
Siswa dapat mengembangkan
keterampilan inkuiri.
Siswa dapat mengembangkan sikap
ilmiah.
Membantu guru untuk mencapai tujuan
pembelajaran lebih efektif dan efisien.
Dalam pembelajaran fisika, kegiatan praktikum fisika
dapat dan seharusnya dilaksanakan di laboratorium, baik laboratorium yang
disiapkan terlebih dahulu yang dilengkapi dengan segala macam peralatan yang
dibutuhkan untuk praktik, dapat pula di laboratorium alam yang memiliki
fasilitas seadanya sesuai dengan alam yang ada disekitar sekolah. Laboratorium
ini diharapkan dapat menempatkan cara belajar fisika sebagaimana seharusnya
yang akan dapat melibatkan siswa belajar, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Sehingga siswa dapat lebih memahami materi dibandingkan dengan
pembelajaran biasa.
Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
guru fisika sangat dituntut dalam kreatifitas membuat alat-alat sederhana yang
mampu menjelaskan teori dan konsep fisika, sesuai dengan peralatan yang ada dan
kondisi daerahnya agar tervisualisasi sehingga mudah dipahami dan dimengerti
siswanya. Untuk itu peranan laboratorium fisika menjadi sangat penting, karena
laboratorium merupakan pusat proses belajar mengajar untuk mengadakan
percobaan, penyelidikan atau penelitian (Ar1, 2007).
Berdasarkan hasil pemantauan Direktorat Pendidikan
Menengah Umum dan Inspektorat Jendral dalam Anonim (2003), Laboratorium
IPA-Fisika yang pemanfaatan dan pengelolaannya sebagai sumber belajar yang
belum optimal atau tidak digunakan disebabkan oleh berbagai faktor antara lain:
(1) Kemampuan dan penguasaan guru terhadap peralatan
dan pemanfaatan bahan praktek masih belum memadai
(2) Kurang memadai baik secara kualitas maupun
kuantitas tenaga laboratorium
(3) Banyak alat-alat laboratorium dan bahan yang sudah
rusak yang belum diadakan kembali
(4) Tidak cukupnya/terbatasnya alat-alat dan bahan
mengakibatkan tidak setiap siswa mendapat kesempatan belajar untuk mengadakan
eksperimen.
Kegiatan praktikum akan memberikan makna apabila
kegiatan tersebut direncanakan dengan baik, memberi kesempatan untuk memilih
prosedur alternatif, merancang eksperimen, mengumpulkan data dan
menginterpretasikan data yang diperoleh. Untuk dapat melaksanakan praktikum
dengan tuntutan tersebut diperlukan keterampilan berpikir atau intelektual
skill. Untuk mengembangkan keterampilan tersebut dalam praktikum, siswa perlu
menggunakan prosedur yang logis dan strategis (Arifin et al., 2003).
Dalam anonim (2003), Langkah-langkah praktis
pelaksanaan kegiatan laboratorium fisika adalah sebagai berikut :
(1) Guru Fisika pada awal tahun pelajaran dan semester
sebaiknya menyusun program semester yang ditanda tangani oleh kepala sekolah.
Tujuannya untuk mengidentifikasi kebutuhan alat/bahan serta menyusun jadwal dan
untuk keperluan supervisi bagi kepala sekolah.
(2) Setiap akan melaksanakan kegiatan laboratorium,
guru sebaiknya mengisi format permintaan/peminjaman alat/bahan kemudian
diserahkan kepada penanggung jawab teknis laboratorium atau laboran. Ini
diperlukan untuk mempersiapkan alat/bahan serta mengecek fungsi tiap-tiap alat.
(3) Di laboratorium, guru tidak hanya memberikan
bimbingan kepada siswa untuk melakukan eksperimen, tetapi guru dapat pula
menyampaikan konsep atau subkonsep non eksperimen, yang memerlukan alat bantu,
misalnya cara menggunakan osiloskop.
(4) Kegiatan di lapangan juga dapat dilakukan yang
merupakan laboratorium alam. Dalam melaksanakan kegiatan di laboratorium alam
ini adalah untuk menyampaikan atau menerapkan aplikasi-aplikasi dari materi
fisika dalam kehidupan sehari-hari. Guru harus sudah menyiapkan fasilitas, alat
seadanya ataupun siap memberikan pemahan konsep tentang aplikasi dari materi.
Pembelajaran yang menerapkan kegiatan laboratorium
seyogyanya mengandung prinsip-prinsip berikut :
(1) Kelas dan Aktivitas Laboratorium saling mendukung
dan tidak dapat dibedakan diantara keduanya.
(2) Secara khas laboratorium dimulai di dalam kelas
sebelum diskusi laboratorium dari gagasan unutk diselidiki, berikutnya ke
pengamatan dan eksperimen yang diikuti oleh sasaran/tujuan tentang pengamatan
dalam kaitan dengan model, hipotesis, teori atau hukum. Ada suatu hubungan
simbiosis antara kelas dan aktivitas laboratorium.
(3) Menyampaikan dengan teliti investigatory jiwa/roh
sains memerlukan suatu rangkaian yang berkelanjutan mengadakan eksperimen pada
topik yang sama. Masing-masing eksperimen baru dalam urutannya menggunakan
hasil dari eksperimen sebelumnya atau menambahkan lebih informasi atau
menyelidiki masalah itu oleh alat berbeda.
(4) Eksperimen dipilih dan ditempatkan pada
suatu urutan yang akan mengantarkan siswa secara efektif menjadi seorang
penyelidik independen (mandiri).
(5) Kerja laboratorium terutama semata suatu cara
belajar.
Kegiatan praktikum akan memberikan makna apabila
kegiatan tersebut direncanakan dengan baik, memberi kesempatan untuk memilih
prosedur alternatif, merancang eksperimen, mengumpulkan data dan
menginterpretasikan data yang diperoleh. Untuk dapat melaksanakan praktikum
dengan tuntutan tersebut diperlukan keterampilan berpikir atau intelektual
skill. Untuk mengembangkan keterampilan tersebut dalam praktikum, siswa perlu
menggunakan prosedur yang logis dan strategis (Arifin et al., 2003).
Dalam melakukan eksperimen/kerja laboratorium harus
memperhatikan beberapa karakteristik yang perlu ditempuh, diantaranya :
(1) Eksperimen terpilih pada kegiatan pembelajaran sains
harus menunjang tercapainya tujuan pembelajaran yang
telah ditetapkan dan dijelaskan secara spesifik.
(2) Pendahuluan eksperimen memiliki suatu aspek
kuantitatif kepada penafsiran hasil, dan diperoleh penyatuan data dari kelompok
siswa yang berbeda.
(3) Kebanyakan eksperimen didasarkan pada suatu
prosedur induktif yang didalamnya ada tahap deduktif pada konsep eksperimen tak
terbatas (terbuka).
(4) Usaha yang cukup telah masuk pada pengembangan
peralatan yang disederhanakan untuk digunakan pada eksperimen yang hemat biaya
tetapi tak mengurangi esensi belajar tuntas.
(5) Eksperimen yang difilmkan dari para siswa telah
diproduksi oleh beberapa pojek kurikulum, yang memungkinkan dan mengakses pada
pada peralatan yang tidak mahal dan rumit untuk digunakan sekolah menengah.
(6) Petunjuk Laboratorium (LKS) mendukung siswa dalam
menulis dan mengintrepetasikan hasil eksperimen seuai petunjuk.
Guru fisika harus membuat lembar kerja
siswa yang merangsang siswa untuk bekerja dan mencoba menemukan teori, konsep, rumus
fisika sederhana, sehingga mereka dilatih untuk menjadi peneliti-peneliti muda.
Dalam proses belajar mengajar diperlukan berbagai peralatan yang memadai untuk
menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Dalam hal ini alat
peraga mempunyai peranan yang sangat penting bahkan dapat menentukan berhasil
atau tidaknya kegiatan proses belajar mengajar.
Secara garis besar alat peraga, ada yang mudah dibuat
dan ada yang sukar dibuat. Alat yang mudah dibuat dinamakan alat peraga
sederhana karena dapat menggunakan bahan murah dan mudah didapat dari
lingkungan sekitar dan dapat pula dibuat sendiri oleh guru atau bersama-sama
dengan peserta didik. Penggunaan dan pembuatan alat peraga sederhana dapat
merangsang kreativitas para guru atau peserta didik untuk mengembangkan
kemampuannya dalam membuat alat peraga, sedangkan alat yang sukar akan
dibuatkan oleh instansi yang memerlukan dan kemudian disebarkan ke sekolah
(Emha, 2002).
Pengelolaan Laboratorium
Pengelolaan adalah suatu proses pendayagunaan sumber
daya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu sasaran yang diharapkan.
Sedangkan laboratorium adalah salah satu sarana pendidikan yang dapat digunakan
sebagai tempat berlatih, siswa dapat mengadakan kontak dengan obyek yang
dipelajari secara langsung baik melalui pengamatan maupun dengan melakukan
percobaan, dari laboratorium itulah akan selalu mengalir informasi-informasi
ilmiah baru yang berasal dari hasil-hasil penemuan para peneliti di laboratorium.
Pengelolaan laboratorium berkaitan dengan pengelolaan,
penggunaan, fasilitas laboratorium (bangunan, peralatan laboratorium, spesimen
biologi, bahan kimia), dan aktivitas yang dilaksanakan di laboratorium yang
menjaga keberlanjutan fungsinya. Aspek-aspek dari pengelolaan laboratorium
terdiri atas perencanaan, penataan, pengadministrasian, serta pengamatan dan
perawatan.
Penataan alat dan bahan laboratorium meliputi penataan
yang disesuaikan dengan fasilitas yang ada di laboratorium, penyimpanan alat
(pengelompokkan alat dan penyimpanan alat yang memerlukan perhatian khusus),
penyimpanan zat (dikelompokkan apalagi zat beracun). Tak kalh pentingnya lagi
dalam kegiata laboratorium adalah memperhatikan dan menjaga keamanan,
keselamatan kerja, dan PPPK.
Lokasi dan Ukuran-ukuran
Sebelum laboratorium dibangun hendaknya dipikirkan
secara matang lokasi bangunan laboratorium.
Menurut buku penentuan perencanaan pembangunan yang
diterbitkan oleh proyek penyediaan fasilitas laboratorium sekolah menengah
pertama, sekolah menengah atas, departemen pendidikan dan kebudayaan,
persyaratan umum lokasi laboratorium dalam hubungannya dengan bangunan sekolah
yang telah ada ialah sebagai berikut:
a. Tidak terletak di arah angin untuk menghindarkan pencemaran udara.
b. Mempunyai jarak yang cukup jauh dari sumber air, untuk menghindari
pencemaran sumber air.
c. Mempunyai saluran pembuangan limbah tersendiri, untuk menghindari
pencemaran saluran air penduduk.
d. Mempunyai jarak cukup jauh dari bangunan yang lain, untuk mendapatkan
ventilasi dan penerangan alam yang optimum. Jarak minimal sama dengan tinggi
bangunan terdekat, atau kira-kira 3 meter
e. Terletak pada bagian yang mudah dikontrol dalam kompleks, dalam hubungannya
dengan pencegahan terhadap pencurian, kebakaran dan sebagainya.
Salah satu persyaratan ruangan bagi laboratorium
adalah cukup luas. Tim penyusun buku Penuntun Perencanaan Pembangunan mengambil
ketentuan bahwa luas lantai laboratorium tempat perlengkapan laboratorium
termasuk m2eja, kursi, lemari, dan rak yang ada di dalamnya ialah kira-kira 100 termasuk ruang persiapan dan
gudang. Luas ini didasarkan atas perhitungan bahwa laboratorium tersebut
dipakai oleh 40siswa, yang berarti tiap siswa menempati ruangan kira-kira 2 . Luas lantai yang sebaiknya bagi
laboratorium tempat siswa melakukan praktikum ialah kira-kira 90 , tidak termasuk ruang persiapan dan
gudang. Laboratorium dengan luas 90 hendaknya mempunyai ruang persiapan seluas 20 , disamping itu diperlukan juga ruang
penyimpanan (gudang) yang besarnya kira-kira 4x5 m, supaya cukup untuk lemari
dan rak. Bila diperlukan ruang gelap hendaknya lebarnya tidak kurang dari 2m.
Organisasi Laboratorium
Kegiatan laboratorium akan berfungsi dengan baik bila
terorganisasi dengan baik pula, yang melibatkan pimpinan yang bertanggung jawab
terhadap seluruh pelaksanaan kegiatan, penanggung jawab teknis, koordinator,
dan laboran, dengan tugas dan beban kerja yang diembankan pada masing-masing
personal.
Tugas yang paling sukar dan memerlukan waktu ialah
mengorganisasi laboratorium. Termasuk di dalam tugas ini adalah mengatur dan
memelihara serta mengadakn/membeli alat dan bahan, menjaga disiplin
laboratorium dan menjaga keselamatan di laboratorium.
Seorang guru IPA diharapkan tidak hanya tahu bagaimana
mengajarkan IPA sesuai dengan bidangya, tetapi juga harus tahu bagaimana
mengelola alat dan bahan pelajaran IPA. Kepala sekolah/madrasah sebagai
penanggung jawab sekolah secara keseluruhan, baik administrasi kependidikan
maupun teknis pendidikan, memerlukan beberapa orang pembantu untuk melaksanakn
tugasnya. Pembantu-pembantu ini diantaranya wakil kepala sekolah. Di samping
wakil kepala sekolah biasanya terdapat juga koordinator mata pelajaran,
misalnya koordinator mata pelajaran IPA, IPS, bahasa, dan yang lainnya. Masing-masing
koordinator ini bertanggung jawab atas kemajuan dan kelancaran pelajaran yang
dikoordinasinya.
Tugas dan Fungsi
1. Kepala Sekolah :
1. Kepala Sekolah :
1) Memberi tugas kepada penanggung jawab teknis laboratorium IPA dan
penanggung jawab mata pelajaran (fisika, kimia, dan biologi).
2) Memberikan bimbingan, motivasi, pemantauan dan evaluasi kepada
petugas-petugas laboratorium IPA.
3) Memberikan motivasi kepada guru-guru IPA dalam hal kegiatan laboratorium
IPA.
4) Menyediakan dana keperluan operasional laboratorium.
2. Kepala Laboratorium
1) Bertanggung jawab atas kelengkapan administrasi laboratorium
2) Bertanggung jawab atas kelancaran kegiatan laboratorium IPA
3) Mengusungkan kepada kepala sekolah tentang pengadaan alat/bahan
laboratorium
4) Bertanggung jaawb atas kebersihan, penyimpanan, perawatan, dan perbaikan
alat.
5) Mengkoordinasi guru mata pelajaran (fisika, kimia, dan biologi)
6) Menyusun jadwal dan tata tertib penggunaan laboratorium
7) Mengatur penyimpanan dan daftar alat-alat laboratorium
8) Memelihara dan perbaikan alat-alat laboratorium
9) Inventarisasi dan pengadministrasian peminjaman alat-alat laboratotium
Inventaris Alat dan Bahan
Kegiatan yang dimaksud dengan pengadministrasian alat
dan bahn ini ialah mendaftar alat dan bahan yang ada dalam kewenangannya dalam suatu
sistem tertentu. Yang termasuk di dalam daftra ini ialah berupa jumlah alat dan
bahan yang telah diterima atau dibeli, berapa yang hilang atau rusak atau habis
dan berapa sisa. Dari administrasi alat dan bahan ini dan dari hasil laporan
akhir tahun dibuatlah perencanaan untuk tahun berikutnya. Jadi, jika
administrasi ini dikerjakan dengan baik, sekolah akan mudah merencanakan
keperluan tahun berikutnya tentang jenis alat yang akan dibeli dan bahan-bahan
yang harus ada untuk mengganti yang sudah habis atau rusak. Administrasi yang
baik juga memudahkan kepala sekolah untuk memberikan laporan periodik kepada
atasnnya tentang alat dan bahan inventaris yang menjadi wewenang kepala
sekolah.
Pengadministrasian alat dan bahan laboratorium
meliputi: tersedianya administrasi yang lengkap, meliputi buku inventaris
barang, kartu stok, kartu peminjaman, buku harian, kartu alat/bahan yang rusak,
tata tertib laboratorium, dan lain-lain.
Adapun administrasi alat praktek IPA menurut sukarso
(2005), terdiri dari beberapa bagian antara lain :
1. Kartu stok adalah untuk mengetahui jumlah alat/bahan yang tersedia di
laboratorium dan tempat penyimpanannya
2. Buku inventaris, memuat catatan tentang jumlah semua macam barang yang ada
di laboratorium termasuk perabot laboratorium
3. Daftar alat/bahan sesuai LKS
4. Buku harian kegiatan laboratorium berguna untuk merekam semua kejadian
dalam kegiatan laboratorium
5. Label, memuat kode alat, nama alat dan jumlah alat dan keterangan mengenai
kondisi alat tersebut
6. Format permintaan alat/bahan, biasanya diisi oleh guru bila akan
melaksanakan kegiatan laboratorium dan diberikan kepada laboran sebelum
kegiatan dilakukan.
Perubahan kurikulum saat ini telah menyempurnakan
suatu perubahan nilai laboratorium dalam mengajar sains, seperti tujuan yang
diperbaharui, eksperimen yang aktual, model dalam mengajar yang layak. Satu
kekuatan yang diperoleh dari kegiatan laboratorium adalah akan membimbing siswa
sepanjang hidupnya dalam kemampuannya membaca sains.
Pada
pendidikan masa depan nampaknya akan ada nilai lebih pada bidang pendidikan
dari eksperimen laboratorium yang sasarannya mengembangkan keterampilan,
menerapkan inkuiri ilmiah, mengembangkan kemampuan intelektual dan konseptual
yang menemukan aplikasi dalam dunia nyata.
KESIMPULAN
Pembelajaran sains (fisika) tidak dapat dipisahkan dari kegiatan praktikum.
Meskipun kegiatan praktikum tidak hanya dapat dilakukan di laboratorium, akan
tetapi laboratorium tetap menjadi sarana yang penting untuk menunjang kegiatan
praktikum yang lebih efektif, sehingga memudahkan proses belajar mengajar
fisika dari guru kepada siswa. Oleh karena itu, sangat penting untuk
mendayagunakan laboratorium secara optimal sesuai dengan peran dan fungsinya.
DAFTAR PUSTAKA
Dirgantara, Yudi. 2009. Pengelolaan
Laboratorium IPA (Bahan Ajar Perkuliahan). Bandung: UIN Sunan Gunung Djati
Bandung.
Sumaji, dkk. 1998. Pendidikan Sains yang
Humanistis. Yogyakarta: KANISIUS.
Internet:
Azhar, Rofa Yulia. 2012. Pentingnya Kegiatan
Praktikum dalam Pembelajaran.
[Online] tersedia :
http://share-pangaweruh.blogspot.com/2012/06/pentingnya-kegiatan-praktikum-dalam.html [23 Februari 2013]
Yawarmansyah, Wawan. 2011. Efektifitas Penggunaan Laboratorium Fisika Dalam Menunjang
Kegiatan Praktikum di SMAN se-Kabupaten Lombok Tengah Tahun Ajaran 2007/2008.
[Online]
tersedia : http://kuli-pintar.blogspot.com/2011/06/efektivitas-penggunaan-laboratorium.html. [23 Februari 2013]
http://wildanarchibald.wordpress.com/2012/05/29/laporan-kunjungan-atau-survei-pengelolaan-laboratorium/
www.mansaba.sch.id/web-saba
/artikel-guru/190-hakikat fisika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar