Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Juni 2025

AKSI NYATA : PERAN GURU SEBAGAI TELADAN

 

PERTANYAAN REFLEKSI

Setelah mengetahui dan memahami konsep SEL, Anda selanjutnya diminta menjawab pertanyaan berikut :

a.      Pemahaman baru apa yang Anda dapatkan setelah mempelajari konsep SEL?

Jawab:

Saya mendapatkan pemahaman tentang komponen-komponen pada pembelajaran sosial emosional dan mengajarkannya dengan rinci dan aplikatif, terutama pembelajaran sosial emosional berbasis Emphaty, Mindfullness, Compassion and Critical Inquiry (EMC2).

 

b.      Apa saja tantangan/hambatan dalam menerapkan pembelajaran sosial emosional?

Jawab:

Tantangan bagi saya dalam menerapkan pembelajaran sosial emosional yaitu ketika mengintegrasikan komponen yang diharapkan dapat muncul dengan langkah atau tahapan dalam metode pembelajaran yang saya pilih. Selain itu, karena setiap diri peserta didik unik dengan sosial emosional yang beragam maka diperlukan langkah awal untuk dapat mengidentifikasi terlebih dahulu bagaimana kecerdasan sosial emosional peserta didik dan dibutuhkan data atau kerjasama dari guru BK atau guru lain untuk memperoleh data yang menunjang.

 

c.    Buatlah program untuk Anda sendiri sebagai guru, apa saja yang perlu Anda persiapkan untuk mengajar? Apa kelebihan dan kekurangan Anda terkait masalah emosi? Bagaimana Anda akan mengembangkan kemampuan sosial emosional Anda.

Jawab :

Program untuk diri saya sebagai guru yaitu check feeling dan menulis jurnal refleksi. Check feeling yaitu memastikan diri saya berada dalam kondisi yang sehat secara jasmani dan rohani, mempersiapkan mental dan kesadaran yang penuh untuk dapat mendidik peserta didik dengan sepenuh hati sehingga pembelajaran yang saya ampu mampu untuk mencerdaskan sosial emosional peserta didik bukan hanya mencerdaskan secara kognitif. Jurnal refleksi berisi muhasabah diri terkait hal-hal yang sudah dilakukan di hari ini selama proses pembelajaran untuk diambil hikmah dan mengevaluasi perkembangan kecerdasan sosial emosional diri saya sebagai guru.

Kelebihan saya terkait masalah adalah saya tidak mudah terbawa emosi dalam menghadapi peserta didik yang memiliki perilaku unik dan saya menjadikan hal tersebut sebagai motivasi dan tantangan untuk dapat membimbing peserta didik tersebut agar lebih baik. Kekurangan saya terkait emosi terkadang ketika saya ingin memberikan pengarahan atau teguran kepada murid karena melakukan kesalahan berulang dan mengganggu kenyamanan iklim kelas, kadang penyampaian saya yang ingin tegas namun kadang terkalahkan dengan perasaan sedih atau kecewa saya sehigga kadang teguran tersebut kurang efektif dan kurang berpower.

Saya akan mengembangkan kecerdasan sosial emosional saya dengan lebih memperkaya wawasan pengetahuan tentang kecerdasan sosial emosional dari berbagai referensi atau pelatihan, mendiskusikan permasalahan kecerdasan sosial emosional dengan rekan sejawat, dan senantiasa melakukan refleksi diri.








Senin, 16 Juni 2025

AKSI NYATA MODUL 3 : Makna, Urgensi, dan Strategi Internalisasi Pendidikan Nilai dalam Kerangka Pendidikan Nasional


Nama                  : Vita Oktaviani, M.Pd.

NIM/No.UKG      : 201800340101

LPTK                   : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa





Sabtu, 14 Juni 2025

AKSI NYATA MODUL 1 : Merancang Pembelajaran Berdiferensiasi

 

Nama                  : Vita Oktaviani, M.Pd.

NIM/No.UKG        : 201800340101

LPTK                   : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa


AKSI  NYATA  : Merancang Pembelajaran Berdiferensiasi

1. Ide apa yang Bapak/Ibu Guru dapatkan setelah belajar topik ini?

Saya memperoleh ide untuk dapat menyajikan pembelajaran fisika dengan menyeleraskan kebutuhan peserta didik dengan tujuan pembelajaran. Diawali dengan terlebih dahulu memberikan tes diagnostik gaya belajar murid dan melihat hasil perkembangan belajar murid sebelumnya (melalui raport dan juga bertanya kepada guru fisika sebelumnya). Setelah mendapatkan data tersebut, saya dapat membuat diferensiasi pada proses, produk akhir dan konten dalam pembelajaran yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.

 

2. Menurut Bapak/Ibu Guru, pembelajaran berdifirensiasi seperti apa yang relevan untuk dikembangkan sekolah Bapak/Ibu Guru? Kembangkan rencana pembelajaran (RPP/Modul Ajar) yang berorientasi pembelajaran berdiferensiasi:

     RPP :










Sabtu, 02 Mei 2020

Metamorfosis yang Genap di Putih Abu


Lulusan 2020 itu diantara lulusan yang spesial bagiku. Banyak hal yang membuat mereka itu begitu memberi banyak kesan dan arti.

Dimulai dari tahun 2017 ketika awal menempuh kelas X bagi mereka, adalah awal pula bagiku dalam menempuh jenjang pendidikan strata dua dan awal bagiku untuk belajar menjadi pendidik fisika di SMA. Ketika mereka berupaya mengenali dan beradaptasi dalam suasana SMA, disitu pula aku mulai lebih mengenali dan berdaptasi menjadi pendidik yang sejati. Mencoba ini dan itu dalam pembelajaran, berupaya mengevaluasi dan mencari solusi baru. Melihat mereka dengan segala keunikannya di kelas X, merasakan masih beragamnya jalan pikiran dan cara tiap-tiap dari mereka, mendeteksi masih takut atau malu-malunya mereka, dan yang terpenting mencoba mengidentifikasi dan menyabarkan diri pada mereka yang masih enggan dalam memahami. Ada yang pernah memperlihatkan wajah malas yang seolah amat terpaksa dalam pembelajaran, ada juga yang pernah membelot seolah ingin memberontak tak mau belajar. Ada yang menggebu-gebu ketika mengerjakan soal-soal hitungan, ada yang kalem-kalem tapi selalu benar. Ada yang sering bertanya di luar jam pelajaran dari hal-hal yang sederhana, hal-hal yang mendasar seperti darimana suatu perumusan didapatkan, sampai mengenai cita-cita yang mungkin akan mereka raih di masa depan. Ada pula yang bertanya mengenai kehidupan sehari-hariku dan turut mendo’akan kehidupanku di masa mendatang.

Hingga ketika kelas XI dan XII mereka semakin terlihat mendewasa.  Masa dimana mereka paling padat dengan berbagai pengayaan (pemantapan), tugas dan ujian-ujian. Ketika mereka kelas XI adalah masa yang sama dimana aku memulai mengerjakan tugas akhir perkuliahan. Bahkan merekalah sampel penelitianku. Mereka yang telah dengan antusias terlibat dalam prosesnya. Mereka menjadi saksi dan bukti yang mengiringiku menuntaskan pendidikan. Pun aku juga merupakan saksi dan bukti mereka dalam mempelajari fisika di masa putih abu. Merekalah metamorfosis yang kulihat dengan genap, genap tiga tahun sedari awal hingga akhir masa SMA. Segala pesan yang kuuntai dalam bentuk cerita, arahan, bahan mungkin secuil teguran, semoga bermakna bagi kehidupan mereka, dan dapat menjadikan mereka pribadi yang berakhlak mulia dan mampu menjadi terbaik versi diri mereka masing-masing dan sukses dalam bidang mereka masing-masing, baik yang akan menempuh pendidikan tinggi, pekerjaan, ataupun keduanya. Semoga langkah mereka kedepan selalu Allah berikan jalan dan keberkahan, aamiin...

Salam sayangku untuk kalian semua peserta didikku lulusan tahun 2020 SMA Pasundan 2 Kota Cimahi :)


VT_OKTA

Senin, 25 November 2019

DUNIA GURU DAN SISWA




Ada getar rasa syukur yang menyesap dalam hati, mana kala mampu Allah berikan kesempatan untuk dapat bercengkrama hampir di setiap hari bersama para wajah yang masih begitu murni. Aku percaya bahwa menjadi seorang guru bukan sekedar profesi, bukan sekedar untuk ilmu dibagi, akan tetapi lebih dalam karena setiap waktu kami dapat bersama. Dapat saling memiliki keterikatan batin yang ada.

Tidak ada siswa yang nakal, tidak ada siswa yang tidak pandai. Hanya kami sebagai guru yang belum mampu memenukan cara yang tepat untuk memunculkan mutiara bakat dalam diri mereka. Tidak ada guru yang galak, tidak ada guru yang sempurna, hanya siswa terkadang masih begitu terlena dengan godaan-godaan dan kenakalan sikap masa remaja.

Bersyukur selalu atas lingkungan yang Allah pilih sebagai duniaku mengabdi adalah berada di tengah-tengah mereka. Aku yang terus menerima banyak kasih sayang dan do’a dari mereka, insya Allah akan senantiasa belajar memperbaiki cara mendidik dan mengajar. Aku ingin dapat menuntun dengan menggenggam tangan mereka, mengajak mereka agar mau membuka pikiran dan mencoba melangkah ke depan dalam memilih jalan yang menuju kebaikan.

Teruntuk siswa-siswi ibu dimanapun berada, maafkan ibu yang masih banyak khilap dan salah. Maafkan ibu yang belum sepenuhnya dapat mengerti dan memahami cara agar kalian paham dan nyaman belajar. Maafkan jika masih terdengar nada tegas nan keras, yang mungkin secara langsung atau tidak langsung menggores hati kalian. Dalam hati ibu tidak pernah sekalipun ibu bermaksud untuk membeda-bedakan apalagi membuat penilaian golongan-golongan anak yang pandai dan belum pandai. Ibu menyayangi setiap kalian dengan keunikan kalian masing-masing. Ibu menyayangi kalian dan mencoba ingin agar keunikan itu tetap menuju kebaikan dan menuju keberhasilan kalian dalam akhlak, Ilmu, iman dan amal. Setiap salam yang kalian ucapkan adalah do’a bagi setiap keselamatan dan keberhasilan dalam hidup ibu. Semua kasih sayang dan ketulusan kalian, semoga Allah jadikan jalan agar mudahnya menyerap ilmu dan memupuk akhlak yang mulia sehingga kalian menjadi generasi penerus bangsa yang bukan hanya cerdas di bidangnya, tetapi juga dapat berkepribadian yang baik.

Terimakasih atas banyak ucapan terimakasih dan do’a yang telah kalian haturkan siswa-siswi ku tersayang 😊

                                   Dari guru yang masih terus belajar: Vita Oktaviani

SELAMAT HARI GURU NASIONAL KE-74

Semoga selalu Allah berikan keberkahan kepada semua guru-guru kami, aamiin :)

#penggerakkemajuanbangsa

Minggu, 31 Maret 2019

Bekal yang Utama



Beberapa hari ke belakang ketika aku masuk di salah satu kelas X Mipa, aku kembali teringat tentang bekal yang utama yang kuharap dapat semua peserta didik bawa. Alhamdulillah, Allah memberikan aku kesempatan untuk dapat mendidik dan berusaha menumbuhkan bekal itu pada peserta didikku, walaupun belum menyeluruh dan utuh. Bekal yang juga aku dapatkan dari banyak guru-guruku. Setiap guru-guru itu unik, dengan cara dan kekhasannya masing-masing dalam mendidik dan mengajar peserta didiknya. Namun aku yakin ada satu kesamaan dari semua keunikan itu, yang pada intinya ingin melihat peserta didiknya menjadi pribadi yang berhasil atau sukses. Dalam proses menuju kesana ada pondasi diri yang harus dibangun. Pondasi diri bagi pribadi mereka. Setiap peserta didik juga unik, dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun pondasi ini berlaku untuk semua keunikan itu. Bekal yang utama itu adalah “sikap yang baik”. Sikap baik itu dia
ntaranya adalah santun, sopan, jujur, semangat, dan optimis. Aku sering menekankan pada peserta didikku, bahwa yang menjadi penilaian utama dalam pelajaranku adalah perubahan atau kemajuan setiap peserta didik dalam pembelajaran. Seberapa maunya mereka untuk belajar, mau bersabar mengerjakan tugas dan menghafal atau mempersiapkan diri untuk ulangan atau ujian. Maka kejujuran dalam mengerjakan adalah harga mutlak yang aku tekankan pada mereka. Meski tidak kupungkiri hal itu mungkin belum sepenuhnya dapat diterapkan atau ditumbuhkan dalam diri mereka. Tetapi dimulai dari hal-hal yang kecil, yang mungkin aku ingatkan berulang-ulang kepada mereka, semoga ada yang menyentuh hati mereka dan dapat bertumbuh menjadi sikap yang baik, aamiin… .
Mengapa sikap baik ini penting? Bukan sekedar teori tetapi banyak bukti nyata pada kehidupan ini bahwa seseorang yang berhasil dalam hidupnya adalah orang-orang yang bukan hanya cerdas secara intelektual (IQ) tetapi secara emosional (EQ) dan spiritual (SQ). EQ dan SQ yang baik itu tergambar pada sikap yang baik.  Seseorang yang memiliki sikap yang baik, insya Allah akan mampu menghadapi berbagai rintangan apapun dalam hidupnya. Seseorang yang memiliki sikap yang baik, akan selalu membawa manfaat dalam setiap langkahnya. Sulit ataupun mudah, orang yang memiliki sikap yang baik akan menjalaninya dengan optimis. Orang yang memiliki sikap ini insya Allah akan mampu menjadi bagian dari solusi setiap masalah yang timbul kelak.  Sikap baik itu disebut karakter, akhlak yang mulia atau akhlakul kharimah.
Mungkin kita pernah mendengar ungkapan bahwa “orang bodoh kalah oleh orang pintar. Orang pintar kalah oleh orang yang beruntung”. Sebagai seorang muslim, tentu kita tahu bahwa salah satu indikator orang yang beruntung itu adalah orang yang bertakwa. Firman Allah swt, dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah : 189 yang artinya: “… dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”. Takwa adalah salah satu bukti bahwa seseorang memiliki sikap yang baik.  Maka kehidupan itu bukan soal keberuntungan yang acak, melainkan sepanjang kita memiliki sikap yang baik, insya Allah, Allah yang Maha Baik akan menuntun kita kearah yang baik (benar). Ketika aku duduk di bangku sekolah menengah pertama dan atas (smp dan sma), beberapa guruku pernah memberikan penjelasan yang intinya bahwa tidak semua orang pintar itu berhasil dalam hidupnya. Ada yang pintar, tetapi karena kurang teliti dan rapi maka gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi, dan menjadi kurang sehat akalnya (stress). Ada orang yang pintar, tetapi malah mengalami suatu kecelakaan, dll. Maka hal itupun menjadi candaan oleh beberapa temanku, ada yang bertanya kepadaku “gimana mau jadi orang pintar tapi celaka, atau orang biasa-biasa saja tetapi selamat?”, dan akupun menjawab “aku mau menjadi diriku sendiri”, hehe… Dalam artian semoga selalu Allah berikan kecerdasan dan keselamatan.

Maka itulah kenapa bekal yang utama yang tidak boleh aku lupakan sampai kapanpun dalam mengemban amanah sebagai pendidik adalah menumbuhkan dan memupuk sikap baik pada diri semua peserta didikku. Semoga bekal itu dapat menjadi bekal yang berharga, bermanfaat dan menyelamatkan kehidupan kami semua di dunia dan di akhirat kelak, aamiin ya rabb… .


VT_OKTA

Sabtu, 25 November 2017



Kenapa mau jadi guru? ga ada uangnya..

Begitulah ucap seseorang kepadaku. Aku jawab dengan tersenyum “ya ingin saja”. Padahal bukan sekedar ingin. Banyak penyebab yang membuat aku ingin menjadi seorang guru. Diantaranya karena aku merasa diantara profesi yang dapat berkesempatan untuk bisa mengajak orang lain dalam kebaiakan, adalah dengan menjadi guru. Bisa bertatap muka dengan banyak wajah yang polos, yang masih memerlukan bimbingan, tuntunan. Apalagi pada realitanya tidak semua anak tumbuh dalam lingkungan keluarga yang baik. Maka diantaranya dengan menjadi gurulah aku dapat sedikit mencurahkan kasih sayang kepada peserta didikku. Proses belajar mengajar adalah lingkungan yang amat aku sukai. Dimana di sana ada upaya menuju kebisaan dari ketidak bisaan, ada proses menjadi tahu dari yang tadinya tidak tahu. Ada mimpi yang begitu indah yang tersorot dari mata mereka, atau sederhana dengan harapan esok mentari akan lebih cerah, masa depan akan ada dan bahagia. Aku menyukai setiap hariku di sekolah, dapat tersenyum bersama, berpusing-pusing bersama dalam mengerjakan sesuatu yang belum dibisa. Berdoa dan berharap bersama. Walau tak terhindarkan pernah kuluapkan kata-kata tegas bahkan dengan nada keras kepada mereka, namun semua itu tidak lain adalah agar mereka tidak melakukan hal yang salah lagi. Tugas-tugas yang tegas mungkin diantara yang selalu aku berikan apalagi sebagai guru eksak.  Kelak mereka akan mengerti arti mengapa guru-guru harus begini dan begitu. Walau guru pun tidak luput dari khilaf dan salah. Di kesempatan yang baik ini, aku ucapkan syukurku Allah amanahkan  menjadi guru sebagai bagian dari peran hidupku. Semoga Allah menuntunku untuk dapat menjadi guru yang amanah, yang baik bagi semua peserta didikku tanpa terkecuali, yang kelak dapat merangkul semua hati agar dapat berubah untuk menemukan jati diri dan harapan kehidupan yang lebih baik. Kasih sayang ku sebagai guru yang belum sebarapa ini semoga Allah tanamkan kepada semua peserta didikku, aamiin...

Bila semua berkata terima kasih guru, maka akan kuucap terimakasih semua peserta didikku..


Dan tak lupa untuk semua guru-guruku, dosen-dosenku, kalianlah panutanku, semua guru-guruku adalah sosok yang turut menuntunku menapaki langkah hidupku, semoga keberkahan Allah senantiasa mengiri guru-guruku...aamiin...

VT_OKTA

Selasa, 08 November 2016

Bukan Islamisasi Sains, melainkan Integrasi atau Harmonisasi Sains & Agama

                        
Pernahkah Anda mendengar istilah “islamisasi sains”? Mungkin Anda pernah mendengar atau mengetahui ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan sains? Tetapi tidak semua ayat dalam Al-Qur’an yang berhubungan dengan sains dapat kita pahami dan jelaskan dengan detil sesuai dengan ilmu sains. Lantas bagaimanakah cara kita agar kita dapat memahami sains dengan senantiasa bertambah keimanan kepada Allah? Apalagi sebagai umat islam, hendaknya segala ilmu yang kita punya semakin mendekatkan kita pada ketakwaan kepada Allah. Ditambah lagi kita sebagai pendidik ilmu IPA, apakah bisa dengan menjelaskan sains membuat peserta didik bertambah pula kecerdasa spiritualnya? Yuk cari tahu bersama apa dan bagaimana sebenarnya kaitan agama dengan sains, sains dan al-Qur’an dari catatan kecil ketika saya kuliah filsafat sains :)  D
imulai dari pengertian ilmu dan pengetahuan yaa :)

A.   Pengertian Ilmu
Ilmu (non-akademis): jauh dari kesan ilmiah, jauh dari objek yang bersifat empiris, proyek percobaan dan verifikasi.
Ilmu (akademis): pengetahuan yang terdiri atas fakta-fakta yang didapat melalui sejumlah metode tertentu yang terorganisir disertai dengan prosedur yang masuk akal dan melalui verifikasi yang terukur.
Sebagian kalangan umat islam: ilmu sangat khusus => berasal dari Allah swt, bahasa surga.
‘ilmu => al ‘ilmi, cenderung yang disucikan.
Al-ulum ad-din => hanya pengetahuan yang berhubungan dengan agama yang benar-benar ilmu. (ilmu sejati), yang lain tidak benar-benar diakui ilmu (terlalu mengutamakan aspek duniawi/ keterampilan mengelola dunia).





#Penjernihan istilah “ilmu”
          Ilmu menandakan ada dinamika pemahaman berjalan momentumnya sendiri.
Kata ilmu berasal dari bahasa Arab : ‘ulum = kejelasan
Ilmu => segala daya upaya manusia mencari kejelasan (luas makna ilmu)
Artinya apapun bentuk tindakan mengenal, memikirkan serta memahami yang dilakukan manusia terhadap suatu objek bisa dikategorikan kedalam ilmu.
Hanya Menurut Quraish Shihab:
“lebih banyak kata ilmu melekat pada Tuhan, diantaranya ‘alim, ya’lam, sedangkan pada manusia ‘arafa (mengetahui), arif (yang mengetahui), ma’rifah (pengetahuan).”
Dari hal ini nampak bahwa ilmu sepadan dengan pengetahuan.

B.   Pengetian Pengetahuan
Menurut Aristoteles (dalam karnyanya, ‘Metaphysica) => “manusia pada dasarnya selalu ingin tahu.” (tentang dirinya, dunia & sekitarnya).





Karena melibatkan subjek (manusia yang senantiasa berubah) => pengetahuan bersifat dinamis.
Menurut Prof. Ahmad Tafsir:
“Pengetahuan adalah semua yang diketahui oleh manusia.”
Contoh: bayi dalam kandungan dan setelah lahir.
Pengetahuan bersifat menyejarah, berkembang, dan bertambah sesuai dengan kapasitas potensi individu.
*Perubahan & kemajuan
Menurut Blaise Pascal => perubahan dan kemajuan tidak hanya pada setiap individu tetapi umat manusia sebagai satu keseluruhan yang utuh
Jadi makna dinamis bisa berarti individu dan kelompok.
Itulah penyebab pengetahuan bukan kata benda semata. Pengetahuan lebih dimaknai sebagai suatu rangkaian aktivitas atau proses manusia dalam pengembaraannya dari lahir sampai meninggal dunia. (kata kerja)

C.   Tradisi Sains Muslim
Dalam pembelajaran sains di madrasah/sekolah setiap materi sains yang diajarkan (misalnya fisika):
diberikan penjelasan tentang fisikawan muslim, teori-teori yang ditemukannya, menumbuhkan tradisi sains islam kepada peserta didik yaitu meneliti (eksperimen), sehingga tertanam dalam diri peserta didik bahwa ilmuwan muslim pun menggunakan metode yang ilmiah (tradisi sains muslim). Imuwan muslim senantiasa meneliti (bereksperimen), berpikir ilmiah, dan menerapkan sikap ilmiah.
Disamping itu dapat pula memanfaatkan kemampuan bahasa Arab yang dimiliki oleh peserta didik untuk mengkaji ilmu-ilmu fisika dalam kitab-kitab yang ditulis oleh ilmuwan muslim.
Intinya:
Al-Qur’an itu sebagai spirit untuk terus menuntut ilmu dan metode ilmiah sebagai cara untuk menuntut ilmu tersebut.
Jadi, bukan hanya sekedar menempelkan ayat pada suatu teori.
Inilah kurang lebih yang dimaksud dengan harmonisasi sains dan agama yang sebaiknya dapat diterapkan oleh semua penggiat sains yang beragama islam, dengan harapan dapat berjalan beriringan antara bertambahnya ilmu sains bertambah pula keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, dan menjadikan kegiatan menuntut ilmu (termasuk belajar sains) merupakan suatu kegiatan yang bernilai ibadah kepada Allah. 


Wallahu ‘alam bishowaab







Senin, 10 Oktober 2016

Filsafat Sains

Dalam logika sains:
a)      Penemuan Sains (Context of Scientific Discovery)

b)      Pembenaran (Context of Justification)

MODERN AWAL
Francis Bacon (1561-1626): Metode sebagai Kunci Kepada Pengetahuan (Induktif & Observatif)

A.      Gagasan:
1.       Mereformasi filsafat dan sains
2.       Menghilangkan pengetahuan tradisional dengan pengetahuan baru menggunakan metode baru untuk menyusun dan menjelaskan berbagai fakta
3.       Membebaskan sains dari lilitan pengetahuan tradisional (takhayul, dll)
4.       Menciptakan filsafat baru yang didasarkan pada metode pengamatan baru dan penafsiran baru atas alam
5.       Kelemahan utama: tidak ada hipotesis, karena agar betul-betul dapat memperbaiki pemikiran Aristoteles dan karena Eropa akan terjebak oleh hipotesis.

B.      Context of Justification:
1.       Advancement of learning & Novum organum (alat observasi ilmu baru/pengamatan)
2.       Bersihkan dulu pikirannya (idol-idol pikiran, penyakit pengetahuan)
3.       Metode induktif (melalui kemungkinan memperoleh hukum-hukum dari observasi sederhana tentang fakta-fakta serta urutannya.

C.      Context of Discovery:
1.       Lingkup kebudayaan:
Masyarakat dapat terlepas dari pemikiran takhayul dan mulai berpikir logis
2.       Lingkup islam:
Umat islam mulai meninggalkan hal-hal takhayul.
3.       Lingkup pendidikan:
Ilmuwan harus jujur, bersih dari prasangka-prasangka terutama pengaruh agama. Siswa diarahkan kepada pengetahuan yang benar dengan sebelumnya diluruskan dulu dari hal-hal yang berbau takhayul.
                                                                                              #HILANGKAN PRASANGKA :D





Rene Decrates (1596-1650): Kepastian & Batas-batas Pengetahuan (Rasio atau Akal)


A.      Gagasan
1.       Ia meragukan kebenaran filusuf sebelumnya, sehingga munculah keinginan yang kuat untuk menemukan sesuatu yang baru dan abadi dalam sains di dalam dunia filsafat.
2.       Ia memandang dirinya sebagai seorang yang tidak memiliki indera apa-apa. Semua tindakan yang ia lakukan (seperti: makan, berjalan, dsb ) tersebut berasal dari jiwa.
3.       Sumber pengetahuan manusia adalah akal atau ide.
4.       Akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal.

B.      Context of Justification
1.       Menempatkan segala hal dalam keraguan (metode keraguan)
2.       Keraguan memunculkan kepastian (sifat ilmu pasti)
3.       Meneliti segala sesuatu secara teliti

C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan:
Kebudayaan yang baru.
2.        Lingkup islam:
Adanya Ijtihad (keberanian untuk berpikir bebas), dan membuktikan kebenaran hakikat Tuhan.
3.       Lingkup pendidikan:
Tidak mudah menerima pendidikan, harus diteliti dulu.

                #Sumber Ilmu Akal => batas-batas pengetahuan (ujung ilmu = akal)





John Locke (1632-1704): Empirisme di Inggris (Pengalaman cara kerja rasio dengan objek-objek sains)

A.      Gagasan
1.       Pengetahuan didapatkan dari pengalaman (hasil interaksi antara indera dan akal) dan bukan dari bawaan lahir.
2.       Pengalaman memberikan dua sumber pengetahuan yaitu ‘sensasi ‘ dan ‘refleksi’
3.       Kualitas primer dan kualitas sekunder digunakan untuk menjelaskan bagaimana mendapatkan suatu gagasan.
4.       Kualitas suatu ide atau gagasan tergantung pada sesuatu yang mendasarinya atau tergantung pada subtansinya.

B.       Context of Justification
1.       Locke menyatakan bahwa seluruh pengetahuan bersumber dari pengalaman manusia dan bukan dari bawaan.
2.       Pandangan Locke mengenai agama bersifat deisme (pandangan hidup atau ajaran yang mengakui adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta, tetapi tidak mengakui agama karena ajarannya berdasarkan atas keyakinannya pada akal dan kenyataan hidup).
3.       Tingkatan-tingkatan pengetahuan:
a.       Intituitive knowledge (serta merta)
ð  kepastian kita ada
b.      Demostrative knowledge (pikiran kita masuk kedalam percobaan untuk menemukan kesesuaian atau ketidaksesuaian ide-ide dengan meminta perhatian atas ide-ide lain)
ð  Mengindikasikan bahwa Tuhan ada
c.       Sensitive knowledge
ð  Orang dan benda yang lain eksis tapi hanya sebagaimana adanya mereka pada saat kita mengalami mereka.

C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan
Budaya masyarakatnya selalu dalam situasi harmonis, dimana semua manusia memiliki kebebasan dan kesamaan hak yang sama.
2.       Lingkup islam
Berdasarkan pembuktian, manusia merupakan makhluk yang berakal budi sehingga pastilah disebabkan adanya tokoh pencipta yang mutlak dan Maha Kuasa.
3.       Lingkup pendidikan
Adanya rasa ingin tahu mengenai ilmu pengetahuan, sehingga dilakukan penelitian-penelitian ilmiah yang dilakukan melalui serangkaian eksperimen.







David Hume (1711-1766): Empirisme & Batas-batas Pengetahuan (Hukum Sebab Akibat dalam Sains)


A.      Gagasan
1.       Pengetahuan yang berangkat dari sejumlah hasil observasi pengalaman yang ditentukan oleh ditentukan oleh hukum sebab-akibat.
2.       Sebab dan akibat bisa ditemukan, tidak oleh akal tetapi oleh pengalaman, akan dengan mudah diakui dengan memandang objek tertentu.
B.      Context of Justification
1.       Metode sebab-akibat
2.       Metode pengalaman
C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan => karena terpengaruh jaman dulu
2.       Lingkup islam => akibat perbuatan buruk = dosa/siksa, akibat perbuatan baik = pahala/selamat
3.       Lingkup pendidikan => bila siswa rajin = pandai, bila siswa malas = bodoh.




PUNCAK MODERNISME

Immanuel Kant (1724-1804): Seperti apa kiranya pengetahuan itu? (Sintesa Aprio sebagai Dasar Ilmiah)


A.      Gagasan
1.       Pengetahuan merupakan hasil kerja sama 2 unsur, yaitu pengalaman inderawi (a posteriori) dan keaktifan rasio (a priori/logis, pengetahuan murni)
2.       Sifat operasional a posteriori adalah sintesis (menghubungkan), sedangkan a priori adalah analisis (analisa subjek)
3.       Putusan analitis adalah putusan yang didalamnya keterkaitan predikat dengan subjek dipikirkan melalui identitas sedangkan putusan sintesis adalah keterkaitan yang dipikirkan tanpa identitas.
4.       Menurut sains teoritis, semua penalaran putusan sintesis a prior berisi prinsip-prinsip:
a.       Proposisi matematis secara mutlak selalu disebut putusan a prior karena mereka membawa keputusannya.
b.      Sains alam (fisika) berisi putusan sintesis a priori sebagai prinsip-prinsip (semua hub. gerak, aksi dan reaksi harus selalu sama).
c.       Metafisika, sebagai suatu sains yang diperlukan harus berisi pengetahuan sintesis a priori.
B.      Context of Justification
1.       Baik rasionalisme maupun empirisme kedua-duanya berat sebelah. Pengetahuan merupakan hasil kerja sama dua unsur, yaitu pengalaman inderawi (a posteriori) dan keaktifan rasio (a priori)
2.       Syarat dasar bagi ilmu pengetahuan adalah bersifat umum (universal) dan bersifat perlu mutlak, dan memberi pengetahuan baru. Baik empirisme maupun rasionalisme tidak memenuhi syarat-syarat yang dituntut oleh ilmu pengetahuan.

C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan
Sesuatu budaya tapi kadang disesuaikan dengan keadaan.
2.       Lingkup islam
Hukum-hukum fiqh dalam Al-Qur’an diterjemahkan.
3.       Lingkup pendidikan
Metode pembelajaran, seorang guru harus dapat menyesuaikan dengan kondisi peserta didiknya dan mampu mengembangkan metode tersebut sedemikian rupa, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.




Auguste Comte (1798-....): Munculnya Positivisme di Prancis (Fenomena & Positivisme)


A.      Gagasan
1.       Filsafat Comte anti metafisis sehingga ia hanya menerima fakta yang ditemukan secara postive ilmiah, yaitu dari gejala-gejala.
2.       Gagasan humanitas dalam agama (religion of humanity) yang mengatakan bahwa manusia adalah pengganti Tuhan di dunia dan agam diciptakan untuk Tuhan tapi untuk manusia.
3.       Unsur afeksi memainkan peran yang paling penting dalam kehidupan
4.       Tujuan utama Comte adalah mereorganisasikan total masyarakat.
5.       Positivisme berbasis faktawi yang sifatnya empiris => similitude

B.      Context of Justification
1.       Teori postivisme memiliki dua ciri pokok:
a.       Bersifat negatif
   Yaitu menolak asumsi bahwa alam memiliki beberapa tujuan tertinggi atau tujuan akhir.
b.      Positivisme mementingkan suatu usaha untuk menemukan ‘esensi’ dan sebab-sebab rahasia tentang berbagai hal
2.       Hukum tentang fenomena:
“Kita tidak memiliki pengetahuan tentang apapun kecuali fenomena, dan pengetahuan kita tentang fenomena itu relatif, tidak absolut”.
3.       Hukum tiga tahap:
a.       Tahap teologis, fenomena dijelaskan sebagai pengada yang disebabkan oleh kekuatan ilahiah.
b.      Tahap metafisis, konsep tentang keilahiahan diganti dengan kekuatan abstrak dan impersonal.
c.       Tahap positivistik atau ilmiah, hanya relasi yang konstan antar fenomenalah yang dipertimbangkan dan semua usaha untuk menjelaskan hal-hal tersebut yang mengacu pada pengada di balik pengalaman kita dihentikan.
4.       Sains Sosiologi. Ada dua hal yang mendominasi: komponen statis dan komponen dinamis.
5.       Comte menerjemahkan konsep kemahakuasaan. Kekuasaan manusia memiliki tiga bagian utama: wanita, kependataan, dan ploretariat.
6.       Mendirikan agama versi sekuler katolik Roma (agama kemanusiaan).

C.       Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan:
Masyarakat menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan tidak bergantung mitos dan berbagai legenda karena semua itu akan membawa masyarakat menjadi bodoh. Jadi, kehidupan harus bergantung pada kehidupan  yang nyata, pasti, dan rasional.
2.       Lingkup islam:
Umat islam harus lebih berijtihad bukan hanya sekedar taqlid. Ijtihad itu didasarkan pada pemikiran yang rasional, berbagai penelitian yang ilmiah, dan berdasarkan sesuatu yang nyata, bukan metafisika.
3.       Lingkup pendidikan
Pendidikan diarahkan pada suatu tujuan yang realistis. Pengembangan kurikulum ditekankan suatu proses penciptaan siswa yang rasional dan empiris. Sehingga penelitian harus berbasis pada penelitian dan kebenaran yang pasti dan inderawi.





MODERN AKHIR
Alfred Jules Ayer (1910-.....): Test Verifikasi (Verifikasi)

A.      Gagasan
1.       Positivisme yang dianut Ayer adalah Positivisme Logis yang lebih menaruh perhatian pada logika dan bahasa sains.
2.       Hanya pemikiran yang dapat diperiksa kebenaran secara empirislah yang memiliki makna.
3.       Menjadikan verifikasi sebagai tolak ukur untuk menentukan konsep tentang makna.

B.      Context of Justification
1.       Prinsip verifikasi =>  Hanya pemikiran yang dapat diperiksa kebenaran secara empirislah yang memiliki makna
2.       Suatu kalimat secara faktawi bermakna bagi seseorang jika dan hanya jika dia dapat mengetahui bagaimana cara menguji kalimat tersebut.
3.       Kriteria yang digunakan untuk menguji keaslian pernyataan-pernyataan yang menampilkan fakta (kenyataan) adalah kriteria verifiabilitas.

C.      Context of Discovery
1.      Lingkup kebudayaan
Interaksi masyarakat yang dilakukan secara verbal akan lebih mementingkan makna yang harus dipahami oleh lawan interaksi, sehingga menjadi berkurangnya obrolan masyarakat yang tidak berguna.
2.       Lingkup islam
Umat islam akan selalu mencari kebenaran tentang apa yang mereka percayai didasarkan pada pemikiran yang rasional (berijtihad).
3.       Lingkup pendidikan
Jika pemikiran Ayer tentang makna diintegrasikan dalam suatu kurikulum maka akan menghasilkan prilaku siswa yang berkarakter, seperti jujur, sopan santun dalam berbicara, dll.



Karl Raimund Popper (1902-....): Permasalahan Teori Metode Ilmiah (Falsifikasi)


A.      Gagasan
1.       Suatu teori dikatakan ilmiah bukan karena sudah dibuktikan tetapi dapat diuji.
2.       Popper mengusulkan untuk mengadopsi aturan-aturan yaitu yang disebut popper “metode empiris” yang berkaitan erat dengan kriteria demakrasi untuk menentukan ketahanan daya uji pernyataan ilmiah, yang diseut juga falsifiabiti.
3.       Ilmu pengetahuan harus digolongkan dengan menggunakan sebuah metode (menghadapkannya dengan sebuah sistem ilmiah).

B.      Context of Justification
1.       Propper menolak asas verifiabilitas (Ayer) dan menemukan teori falsifiabilitas “kemungkinan bisa diujinya suatu teori”.
2.       Menolak metode induktif dan menggantinya dengan metode sains empiris.

C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan: sistematis, aturan.
2.       Lingkup islam: penalaran logis (ijtihad).
3.       Lingkup pendidikan: metode ilmiah.




POSTMODERN

Thomas S. Khun (1922-....): Hakikat & Keniscayaan Revolusi Ilmiah

[Paradigma & Incommensurability (antara paradigma yang satu tidak bisa saling mendahului)]
A.      Gagasan
1.       Sains berjalan utamanya dengan menafsirkan secar revolusioner bentuk-bentuk suatu paradigma ilmiah menggantikan paradigma yang lain.
2.       Tujuan Khun utamanya historis bukan filosofis.
3.       Tanpa komitmen pada suatu paradigma tidak akan ada sains yang normal.
4.       Sejarah dapat menyajikan informasi esensial tentang hakikat sains.

B.      Context of Justification
1.       Khun berargumentasi bahwa paradigma itu esensial bagi sains.
2.       Paradigma bukan hanya diselesaikanoleh logika dan eksperimen tetapi juga oleh sejarah.

C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan:
Menjadikan masyarakat tidak melupakan sejarah/kebudayaan Indonesia.
2.       Lingkup islam: bergantung paradigma dan akulturasi budaya
3.       Lingkup pendidikan: dalam mempelajari paradigma, dapat diperoleh teori, metode dan standar bersama-sama.






Richard Rorty (1951-....): Solidaritas atau Objektivitas (Menyoal Objektivitas dalam Sains)


A.      Gagasan
1.       Objektivitas merupakan sebagian bentuk yang tersembunyi dari ketakutan atas kematian komunitas.
2.       Kebenaran dapat disederhanakan kedalam pembenaran.

B.      Context of Justification
1.       Tak ada satupun yang kebal dari kritik.
2.       Menghentikan perbedaan tradisional antara pengetahuan dan opini ynag terbangun.
3.       Anti fondasionalisme (anti kemapanan) => tidak ada pondasi yang kokoh.
4.       Solidaritas => kesepemahaman dalam ilmu.

C.      Context of Discovery
1.       Lingkup kebudayaan:
Tidak mudah menerima dan menolak suatu kebudayaan baru, musyawarah (mencari solusi terbaik).
2.      Lingkup islam:
Keyakinan terhadap Tuhan selalu mengalami peningkatan karena adanya pembuktian baru.
3.       Lingkup pendidikan
Metode dialogis yaitu memperbicangkan bahan ajar dari berbagai pandangan.





 Referensi:
Irawan. 2013. Tokoh-tokoh Filsafat Sains dari Masa ke Masa. Bandung: Intelekia Pratama