Selasa, 12 Juni 2018

Kelembutan Hati


Alhamdulillah, pagi ini Allah kembali menghangatkan hatiku. Aku baru sadar ternyata selama ini diantara yang membuatku merasa tidak menjadi lebih baik dan bahkan sering merasa turun iman, adalah karena beberapa hal, diantaranya tentang kelembutan hati. Hatiku masih menyimpan rasa ragu dan bimbang, bahkan kurang syukur atas karunia yang Allah berikan kepadaku. Raguku timbul dengan cara berdo’a yang tidak sungguh-sunggguh. Aku sering berprangsaka bahwa kebaikan yang kini diterima oleh sahabat-sahabatku dan kaka tingkatku adalah berkat kekuatan do’a mereka dan kedua orang tua mereka serta orang-orang yang tulus menyayangi mereka. Sementara dengan do’aku sendiri, tanpa sadar sesungguhnya itu berarti aku kurang kuat dalam berdo’a, dalam artian memohon padaNya pada waktu yang mustajab dan dengan cara yang tepat. Aku sering melalaikan ketika waktu-waktu istimewa yang Allah sediakan untuk mendengar untaian do’a hambaNya dengan lebih  dekat dengan pengabulan, aku tak menghiraukan cara yang seharusnya dapat lebih menggetarkan arasyNya yaitu dengan khusyuk dan sungguh-sungguh, betapa ruginya aku dan betapa lalainya aku, astagfirullah.... Aku sering bimbang dalam mengambil keputusan dan meyakini apakah keputusan yang kuambil  benar, mungkin karena aku jarang melibatkan Allah dalam pengambilan keputusan. Bila diresapi sungguh-sungguh, berapakah kiranya waktuku yang aku dedikasikan, yang aku lakukan karena, bersama, dan untuk Allah? Sungguh amat lalainya hatiku. Bagaimana mau disebut hamba Allah yang sejati? Kurang syukur muncul mungkin disebabkan pembandingan yang aku buat, dengan selalu melihat ke atas dan meratapi apa-apa yang belum ada padaku, padahal berbagai nikmat dan karuniaNya sungguh banyak kepadaku. Selain itu, kurang amanat juga merupakan bukti kekurang syukuranku. Banyak amanat yang kurasa aku lakukan dengan sekenanya, dan bahkan aku lewatkan begitu saja. Padahal dahulu ketika menjadi pendidik baru sebatas impian yang belum bisa diraih, betapa hati ini rindu dan memohon dengan penuh harap ingin diberikan kesempatan dapat menjadi bagian dari pendidikan, dapat memiliki murid yang bisa dibimbing dan sharing ilmu, sehingga menjadi ilmu yang berkah. Fasilitias kemudahan sumber informasi yang membuat segala ilmu mudah didapatkan nyatanya hanya menjadi sumber hiburan bagiku, yang dengan alibi bahwa tidak ada sumber hiburan selain dari padanya untuk saat-saat aku di kostan. Padahal buku adalah jendela ilmu yang lebih aman dan terfokus serta luasnya ilmu Fisika yang belum sungguh-sungguh dan banyak yang belum aku pahami, lalu bagaimana bisa aku ingin menjadi pendidik fisika yang profesional? Astagfirullah... 

Bismillah... aku akan mulai dari hari ini. Ramadhan tahun ini akan membawa perubahan besar bagiku. Modal untukku sungguh-sungguh kembali pada haluanNya. Kembali dengan yakin, dengan istikomah, dan dengan kesyukuran atas amanah dari Nya. Semoga Allah selalu melembutkan hati kita semua, aamiin.


Lahaula wala quwata illa billah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar