Selasa, 10 Januari 2017

Subang atau Bandung

Subang atau Bandung

Dua kota pilihan ku saat ini untuk belajar mengajar yang masih aku usahakan. Kenapa hanya dua kota itu? Pertanyaan itu kini akan aku balik kenapa bisa dua kota itu? Bukankah pertanyaan itu akan lebih mendekatkanku pada rasa bersyukur? Aku mulai belajar dan masih terus belajar mendewasa dengan membijak, memandang segala sesuatu dari kacamata positif. Banyak hal di dunia ini yang masih harus terus aku gali hikmahnya. Mungkin itulah mengapa salah satu guruku pernah berkata bahwa selama manusia hidup, selama itu  pula lah proses pendewasaannya. Kini ku rasa bahwa mendewasa itu terkait dengan membijak. Pernah aku uraikan sebelumnya tentang alibi ku terkait yang tidak mau optimal yang aku jadikan itu bukanlah alibi, karena aku sungguh bisa memilih untuk lebih menjadikannya sebenar-benar alasan yang membuat hidup lebih nyaman. Maka kini terkait kota tempat ku ingin mengabdi pun aku memilih untuk menggunakan kacamata positif dan kesyukuran. Karena dengan itulah Allah mendatangkan rasa ketenangan dan keyakinan berkali lipat daripada aku melihatnya dengan kacamata “hanya” (negatif).

Sebenarnya disini aku ingin mencoba memetik hikmah dari dua kota itu. Dulu ketika aku baru wisuda dan memang sudah aku rencanakan dari sejak dulu bahwa aku ingin kelak dapat mengabdi (belajar mengajar) itu di Subang, karena aku merasa di Bandung sudah banyak guru, sedang di kota kelahiran sendiri masih banyak “PR” yang harus dikerjakan, aku pernah menyebutnya dengan “Subang adalah sebuah PR besar”. Akupun sedikit tersadarkan akan ucapan salah satu temanku yang berkata bahwa kebanyakan orang yang dia tanyakan tentang karir setelah lulus, hampir semua menjawab akan di luar Subang, lebih tepatnya Bandung, dll. Walaupun adapula keraguanku akan mengajar dimana kalau di Subang, tetapi aku merasa begitu terpanggil untuk mengabdi di Subang. Salah satu sahabatku yang telah mengabdi di Bandung sempat berucap padaku, kenapa tidak mencoba mengajar di Bandung saja, aku dulu dengan mantap berkata tidak, aku memilih di Subang. Mungkin pada saat itu aku kurang bijak dan terlalu merasa kepedean, hingga seolah aku termakan oleh perkataan ku sendiri. Seiring kenyataan yang ada dan setelah dipikirkan lebih baik adalah akan lebih baik kalau aku mengajar di Bandung mengingat nanti insya Allah aku juga akan mulai kuliah lagi di Bandung. Aku jadi teringat beberapa kejadian yang hampir serupa yaitu tentang menentukan pilihan. Diantaranya yang aku ingat adalah tentang kuliah S1, aku dulu ingin sekali kuliahnya di UPI dan entah mengapa ketika melihat jas almamater UIN dulu di salah satu akun facebook kaka kelasku, aku merasa tidak mau ke UIN, tetapi ternyata Allah menghendaki yang sebaliknya, Allah berikan kesempatan kepadaku untuk berkuliah S1 di UIN dengan sangat nyaman dan semoga barokah. Mahsa Allah.. Mundur lagi ke belakang, ketika aku sekolah menengah, SMP, awalnya aku ingin sekali bisa di pesantren di Al-Muhajirin Purwakarta seperti teteh aku, tetapi Allah memberikan aku kesempatan bersekolah di SMPN 1 Purwadadi namun dengan dapat mengaji di At-Tarbiyyah. Lalu ketika SMA, aku sempat ingin masuk SMANSA, tapi Allah memberikan aku SMADI dengan segala karunia dari Nya. Oh iya, bahkan tempat ngaji pun, dulunya aku ada pikiran mau mengaji di salah satu tempat ngaji yang sama dengan tetehku, tetapi Allah memberiku kesempatan untuk dapat mengaji bahkan hingga aku hendak masuk perguruan tinggi dengan sahabat-sahabat yang super, dibimbing guru-guru ngaji yang juga super. Aku dulu berniat mau ikut organisasi HMP lalu naik ke Senat, tetapi Allah memberikan amanah HMP dengan sangat lengkap. Kostan, tadinya aku berniat mau pindah kostan ke kostan A, dan Allah memberikan aku keluarga di kostan B yang sangat menentramkan. Aku berharap kelak yang dapat maju ketika wisuda dengan predikat cum laude itu banyak, dan Allah memberikan aku hadiah yang tidak terduga, Allah memberikanku kesempatan untuk maju mewakili begitu banyak sahabatku yang juga cum laude jadi hanya yang ‘terbaik’ versi prodi (hmp) lah yang maju. Allahu akbar...

Dan aku tadinya berniat ingin jurusan pend. IPA S2 nya agar aku bisa ikutan beasiswa ataupun sampai bisa double degree, Allah kembali memberikan yang lebih baik untukku yakni pend. Fisika. Allah selalu punya pilihan yang terbaik, Allah Maha Baik sekali pada aku. Dari segalanya itu, hakikatnya yang aku rasakan adalah semua yang Allah berikan merupakan yang aku butuhkan. Aku boleh saja berencana A atau B, atau A-Z, tetapi Allah senantiasa Maha Tahu yang terbaik. Tetapi hal baik itu hanya dapat diperoleh atau disadari oleh hati yang terbuka oleh cahayaNya, hati dan jiwa yang telah begitu berusaha dan berdo’a dengan sungguh-sungguh. Maka inilah aku yang kini memohon padaNya agar Allah menguatkanku untuk dapat mengabdi di tempat yang terbaik yang dipilihkan-Nya. Begitupula tentang sang imam (jodoh) ku kelak. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosaku yang pernah berkata tidak mau ini atau itu, sementara aku pun belum tentu lebih baik dari yang dimaksudkan. Maka tugas yang harus selalu manusia lakukan sebagai hamba Allah adalah berusaha dan berdo’a dengan sungguh-sungguh dan senantiasa memohon petunjuk Allah. Segala takdir yang baik yang merupakan pilihan terbaik dari Allah itu tidak akan mampu terjadi bila tanpa rahmatNya kepada kita, semua hanya karena kemurahan dan kasih sayang Allah. Maka selalu ingatlah wahai diri, lakukan segala sesuatu untuk Allah, karena, bersama, dan untuk Allah.



Subang ataupun Bandung nanti, semoga disitulah Allah semakin ridho dan mencurahkan rahmatNya kepadaku, aamiin ^^

Senin, 02 Januari 2017

Hujan dan muaranya kelak

"Hujan itu seperti suara orang yang berdzikir kepada Allah."

Itulah kurang lebih kalimat yang pernah kau urai kepadaku. Maka aku merasa kehadiranmu pun seperti hujan, yang setiapnya adalah membawa kesejukan tersendiri. Alhamdulillah, syukurku Allah telah pernah menghadirkan sosokmu kepada ku. Izinkan aku memanggilmu hujan ya? Lebih tepatnya kaka hujan...

Kaka hujan, diawal aku melihatmu, lebih tepatnya bukan kali pertama, tetapi awal fokusku ini berarah kepadamu adalah kala masa putih abu. Waktu itu entah kenapa aku merasa tertarik kepada sosok yang bahkan hanya dilihat dari jarak lebih 500 meter, tanpa tahu siapa, hanya karena lucunya ketika menjadi petugas pembaca salah satu teks di latihan upacara hari sumpah pemuda kecamatan, aku merasa tertarik. Waktu berlalu ku kira fokus itu akan beralih atau kembali seperti biasa seiring berjalan waktu, tetapi ternyata tidak. Kaka hujan tidak seperti sosok-sosok sebelumnya yang mungkin pernah aku sukai karena rasa kagum, rasa dekat, rasa ngefans-ngefans an, bukan, kaka hujan berbeda dengan yang lain itu. Kaka hujan setiap masanya turut mewarnai hidup ku secara langsung atau tidak langsung, dari masa putih abu hingga sekarang. Secara tidak langsung ku rasa lebih dominan, karena aku tidak terlalu dekat denganmu, ka. Tetapi maafkan aku bukan bermaksud aku menjadi orang yang suka memata-matai kegiatanmu atau apapun tentang mu melalui dunia maya. Allah yang lebih tahu bagaimana hal-hal yang berkaitan denganmu itu ada tautannya dengan hal-hal di hidupku. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosa ku bila ada hal yang salah yang aku lakukan yang berhubungan denganmu ka, secara langsung ataupun tidak langsung, aamiin...

Kaka hujan, seperti hujan kau adalah perantara diantara perantara-perantara yang ada di hidupku. Kepadamu aku tidak berharap, hanya lewatmu aku jadi teringatkan untuk lebih mendekat pada-Nya. Bahkan dari sosok muara mu kelak, akupun mendapat hal yang amat berarti. Sejak tanda-tandanya, hingga hari ini ku tahu cukup jelas sosok muaramu. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Semoga kaka hujan diberikan kelancaran dan bimbingan selalu oleh Allah dalam hari-harimu ka, dan dalam menjemput muaramu kelak, aamiin :D
                                                                                                   
Barakallah kaka hujan dan muaranya, aamiiin :D