Alhamdulillah,
pagi ini Allah kembali menghangatkan hatiku. Aku baru sadar ternyata selama ini
diantara yang membuatku merasa tidak menjadi lebih baik dan bahkan sering
merasa turun iman, adalah karena beberapa hal, diantaranya tentang kelembutan
hati. Hatiku masih menyimpan rasa ragu dan bimbang, bahkan kurang syukur atas
karunia yang Allah berikan kepadaku. Raguku timbul dengan cara berdo’a yang
tidak sungguh-sunggguh. Aku sering berprangsaka bahwa kebaikan yang kini
diterima oleh sahabat-sahabatku dan kaka tingkatku adalah berkat kekuatan do’a
mereka dan kedua orang tua mereka serta orang-orang yang tulus menyayangi
mereka. Sementara dengan do’aku sendiri, tanpa sadar sesungguhnya itu berarti
aku kurang kuat dalam berdo’a, dalam artian memohon padaNya pada waktu yang
mustajab dan dengan cara yang tepat. Aku sering melalaikan ketika waktu-waktu
istimewa yang Allah sediakan untuk mendengar untaian do’a hambaNya dengan lebih
dekat dengan pengabulan, aku tak
menghiraukan cara yang seharusnya dapat lebih menggetarkan arasyNya yaitu
dengan khusyuk dan sungguh-sungguh, betapa ruginya aku dan betapa lalainya aku,
astagfirullah.... Aku sering bimbang dalam mengambil keputusan dan meyakini
apakah keputusan yang kuambil benar,
mungkin karena aku jarang melibatkan Allah dalam pengambilan keputusan. Bila diresapi
sungguh-sungguh, berapakah kiranya waktuku yang aku dedikasikan, yang aku
lakukan karena, bersama, dan untuk Allah? Sungguh amat lalainya hatiku. Bagaimana
mau disebut hamba Allah yang sejati? Kurang syukur muncul mungkin disebabkan
pembandingan yang aku buat, dengan selalu melihat ke atas dan meratapi apa-apa
yang belum ada padaku, padahal berbagai nikmat dan karuniaNya sungguh banyak
kepadaku. Selain itu, kurang amanat juga merupakan bukti kekurang syukuranku.
Banyak amanat yang kurasa aku lakukan dengan sekenanya, dan bahkan aku lewatkan
begitu saja. Padahal dahulu ketika menjadi pendidik baru sebatas impian yang
belum bisa diraih, betapa hati ini rindu dan memohon dengan penuh harap ingin
diberikan kesempatan dapat menjadi bagian dari pendidikan, dapat memiliki murid
yang bisa dibimbing dan sharing ilmu, sehingga menjadi ilmu yang berkah. Fasilitias
kemudahan sumber informasi yang membuat segala ilmu mudah didapatkan nyatanya
hanya menjadi sumber hiburan bagiku, yang dengan alibi bahwa tidak ada sumber
hiburan selain dari padanya untuk saat-saat aku di kostan. Padahal buku adalah
jendela ilmu yang lebih aman dan terfokus serta luasnya ilmu Fisika yang belum
sungguh-sungguh dan banyak yang belum aku pahami, lalu bagaimana bisa aku ingin
menjadi pendidik fisika yang profesional? Astagfirullah...
Bismillah... aku akan mulai dari hari ini. Ramadhan tahun ini akan membawa
perubahan besar bagiku. Modal untukku sungguh-sungguh kembali pada haluanNya. Kembali
dengan yakin, dengan istikomah, dan dengan kesyukuran atas amanah dari Nya. Semoga
Allah selalu melembutkan hati kita semua, aamiin.
Lahaula wala
quwata illa billah...