Kembali ke masa yang mana yang
kau inginkan?
Alhamdulillah, hari ini telah
memasuki hari keduan di bulan Ramadhan 1440 H. Salah satu berkah di awal
Ramadhan ini aku bisa kembali berkumpul bersama keluarga di rumah. Maka, kalau
mudik salah satu yang biasanya aku lakukan (kalau lagi ingin saja sih, hehe)
adalah membaca buku harianku yang dulu-dulu. Beberapa cerita yang aku tulis
tentang hal-hal yang aku alami, dapat membuat senyum-senyum sendiri, hehe.
Setiap tulisan itu menjadi bukti dan pengingat tentang bagaimana cara pandang
yang aku miliki bermetamorfosis yang semoga menjadi semakin kepada cara pandang
yang benar. Kemudian aku jadi teringat betapa bahagianya di kala momen-momen
tertentu di masa-masa yang lalu. Kadang rasa ingin kembali ke masa dulu juga
turut menjelma. Pernah ku baca sebuah tulisan di media sosial yang intinya jika
kita diberikan kesempatan bisa kembali ke masa lalu, maka masa kapankah yang
ingin kita kembali ke dalamnya?
Akupun ingin kembali ke masa ketika
ku masih kanak-kanak, kurang lebih sekitar ketika aku masih di sekolah dasar
sampai menengah, dimana pada masa-masa itu yang paling aku manis rasakan adalah
ketika aku dan sahabat-sahabatku dengan penuh semangat hampir setiap malam kami
pergi mengaji ke masjid salah satu tempat kami belajar mengaji dan mengkaji.
Bahkan tak pandang cuaca cerah maupun hujan, terang maupun mati listrik, kami
pernah lalui, dan saat-saat itu kurasakan masih murni dan jernihnya pikiran dan
hati, dan do’a-do’a yang senantiasa dipanjatkan dengan indahnya. Pernah juga
beberapa sahabat ku berkata, katanya “perasaan waktu dulu kita masih kecil, fokus ngaji, jadi apa-apa itu lebih
mudah, lebih konsen.” Ada juga sahabatku yang lain yang bilang kalau sekarang
dimana sudah dewasa dan cukup sibuk untuk bekerja, menjadikan susah waktu dan
jarang untuk membaca Al-Qur’an, tidak seperti ketika dulu. Pada intinya kurang
lebih masa-masa mengaji bersama dulu adalah anugerah dari Allah yang amat
berharga di dalam hidupku. Walaupun aku belum berkesempatan menuntut ilmu
secara formal di pesantren, tapi alhamdulillah Allah memberikan aku kesempatan
belajar agama dan banyak hal dari majelis taklim tempatku mengaji sewaktu dulu
dengan guru-guru mengaji yang subhanallah sangat the best.
Namun akupun pikir kembali dan rasakan
ingin kembali pada masa ketika aku di sekolah menengah atas. Dimana pada masa
itu aku dan sahabat-sahabatku senantiasa lebih bersemangat dalam merangkai angan
dan cita-cita. Bahkan pemanis masa putih abu pun tidak luput dari kisah kami,
walaupun hanya sesederhana rasa senang karena melihat seseorang yang disuka,
hehe. Masa putih abu adalah masa dimana sikap dan prinsip hidup mulai coba
dibentuk. Impian mulai dirangkai dan kondisi yang masih sangat full energi
untuk bertumbuh, untuk mencoba dan menerima ilmu dan pengalaman baru dan seru.
Baik secara petualangan sehari-hari seputar dunia akademik, organisasi, dan
lain sebagainya.
Namun, aku kembali berpikir dan
ingin kembali ke masa-masa ketika aku kuliah. Dimana pada saat itu juga
merupakan masa peralihan dari yang mencari jati diri menjadi seseorang yang
berusaha menjadi diri yang berpotensi dan mengembangkannya sehingga menjadi
pribadi yang utuh, yang kelak siap untuk mngabdi sesuai dengan apa yang
disandang kelak. Dan pada masa kuliah ini juga, alhamdulillah merupakan masa
dimana Allah mengundangku untuk berkunjung ke Baitullah, maka itulah masa yang
amat sangat ingin kukembali. Masa dimana ibadah vertikal dan horizontal begitu
manis kurasakan, subhanallah. Pada intinya juga kurasakan masa-masa di selama
kuliah ini merupakan fase dimana menuntut ilmu dengan tujuan yang lebih terasa,
tanggung jawab keilmuwan yang mulai tumbuh, sikap berorganisasi yang mulai
matang, dan pengalaman-pengalaman yang luar biasa yang telah Allah berikan,
belajar menjadi bagian dari masyarakat dan mengabdi di masyarakat.
Dan akupun tersadar bahwa intinya
pada masa apapun itu segala timingnya sudah Allah berikan pada waktu yang
paling tepat. Mungkin saat ini kupikir adalah bukan masa yang paling
menyenangkan, karena berbagai alasan. Padahal, masa-masa lalu itu ada, adalah
untuk menjadikan aku bisa sampai pada masa kini. Allah tidak semerta-merta
menjadikan hal yang saat ini ada, jika tidak ada proses dan tahapan di masa
lalu. Dan jika kita merasa beban dan problematika hidup kita semakin kompleks
dan berat, yakinlah bahwa selalu Allah sediakan pundak yang mampu untuk
menanggungnya. Allah memberikan ujian sesuai dengan kemampuan hamba-hambaNya.
Segala manis yang kita kecap dimasa dulu bukan berarti tidak ada beban dan
rintangan yang kita hadapi pada masa itu, suka dan duka tetap paket lengkap
yang menjelma sesuai dengan kadar kemampuan yang Allah titipkan pada kita
sesuai masanya. Hanya saja terkadang kita yang katanya semakin dewasa, malah
lebih pintar untuk mencari alasan, lebih pandai dalam mengeluh, dan lebih iri
melihat pencapaian orang lain tanpa mengambil hikmah bagaimana perjuangan
mereka untuk sampai pada tahap itu semua. Maka inti dari tulisan kali ini
adalah ketika hidup kita hari ini kita jalani dengan sabar, ikhlas, dan penuh syukur,
insya Allah ini akan menjadi masa yang memang kita inginkan, dan tidak akan
pernah terbesit untuk “melarikan diri” ke masa apapun dalam rangka menghindari
kenyataan saat ini. Sepahit apapun, selelah apapun, sesesak apapun,
bismillah..kuatkan niat, do’a dan usaha untuk terus melangkah. Karena ada Allah
yang selalu membersamai langkah kita semua. Bismillah....
VT_Oktha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar