Minggu, 27 Januari 2019

dimanapun itu


Alhamdulillah, sudah memasuki tahun 2019, lepas 27 hari yang lalu. Tahun ini diantara tahun yang semoga menjadi momentum pencaian kami yang penuh berkah dari Allah, aamiin...

Alhamdulillah.... Allah senantiasa memberikan rahmat dan pertolonganNya kepadaku hingga aku dapat Allah mampukan menjalankan dua peran sebagai mahasiswa dan pendidik. Alhamdulillah, Allah kabulkan cita-citaku yang sederhana ini, yaitu dapat belajar mengamalkan ilmuku disamping menimba ilmu di  bangku kuliah lagi. Serta dengan penuh keselamatan dan kemurahan dari Allah, segalanya berjalan lancar. Di sekolah, aku memiliki keluarga yang sangat hangat. Guru-guru semuanya saling ramah tamah, saling mendo’akan, bercanda ria, dan senantiasa mewarnai hari-hariku. Peserta didikku yang sangat luar biasa beragam, dengan kekhasannya masing-masing. Mereka juga yang selalu membuat hari-hariku tidak pernah kehilangan senyuman, semangat dan do’a. Di kampus, alhamdulillah aku menemukan keluarga juga. Sahabat yang sebagian besar usianya hampir sebaya membuat kita menjadi semakin solid dan satu ritme untuk berjuang dalam perkuliahan ini. Dosen-dosen pun senantiasa menjadi figur yang teladan. Tidak ketinggalan pula, dengan berbagai kekhasan dosen, bahkan ada drama juga. Tapi alhamdulillah, dari itu semua merupakan cerita yang amat lengkap dan memesona. Walaupun aku berkali-kali merasa bahwa aku belum optimal di kedua tempat itu (kampus dan sekolah), tetapi berulang kali pula aku tersadar bahwa semuanya adalah anugrah yang indah dari Allah.

Tahun pertama yang dirasa agak cukup berat, dimana adaptasi di kedua tempat dengan kedua amanah yang berbeda, alhamdulillah, Allah kuatkan dan lancarkan. Hingga tahun kedua ini khususnya di sekolah aku merasa lebih dapat seirama dengan semuanya. Dan di semester akhir ini insya Allah aku dan teman-teman kuliahku akan berjuang untuk menyusun tugas akhir kami. Entah apakah ini juga akan menjadi tahun terakhirku di sekolah juga atau tidak. Jujur saja aku tidak mau meninggalkan sekolahku kini dengan begitu saja. Aku ingin bisa menjadi bagian dari sekolah ini untuk waktu yang cukup. Tetapi di sisi lain aku pun belum bisa memastikan. Karena ada impian dalam hatiku yang ingin menjadi bagian dari sekolah islam (misalnya pesantren ataupun sekolah islam), misalnya di salah satu sekolah di daerah ku besaral.  Aku ingin bisa menjadi pendidik di daerah ku. Aku agak sedih pas kumpul MGMP dulu, ketika ditanya asal dan aku bukanlah orang di kota tempatku mengajar, seolah diabaikan begitu saja. Aku hanya orang asing di sini yang tidak akan lama disini. Maka tidak bisa dan tidak perlu terlalu kenal. Sebenarnya dulu juga itu sempat kupikirkan. Kenapa aku tidak pernah bertanya tentang MGMP kota ku kini mengajar adalah diantara alasan bahwa aku tidak akan terlalu lama mengajar di sana, jadi aku rasa tidak perlu masuk ke dalamnya. Tetapi ternyata bisa sesakit ini rasanya. Aku takut, aku pulang terasing. Aku di kota orang pun sampai sekarang masih terasing. Aku harus kemana lagi? Aku hanya ingin dimanapun aku berada adalah Allah senantiasa meridhaiku. Sebetulnya ada proposal yang telah Allah tahu betul kalau tahun ini aku ingin Allah pertemukan aku dengan imamku. Tetapi saat ini bukannya aku pesimis, aku akan mencoba untuk lebih membesarkan hatiku dan tidak egois. Aku tidak akan minta hal yang terlalu mendikte lagi. Aku pasrah kepada Allah, karena manusia itu banyak terbatasnya, sedangkan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Aku pasrah tetapi tetap akan senantiasa berusaha dan berdo’a yang terbaik untukku, keluargaku, guru-guruku, dan semua peserta didikku. "Engkau Maha Tahu ya Allah segala harap dan ketakutan kami, kami memohon ampunilah segala dosa-dosa kami. Tuntunlah kami selalu agar ada dalam keridhoanMu, tuntunlah kami agar kami senantiasa amanah terhadap setiap amanah yang Kau titipkan kepada kami, sukseskanlah dan barokahkanlah kami, keluarga kami, dan orang-orang di sekeliling kami, sebagai apapun kami, aamiin..."

Bismillah, alhamdulillah, lahaula wala quwwata illa billah...


VT_OKTA