Sabtu, 19 November 2016

teruntuk sahabat matahariku (season 2)




Apa kabar sahabat matahariku? 
Semoga selalu cerah sehingga sinarmu memberikan energi yang baik untuk semua yang di bumi.

Kini aku menyadari hal yang berarti lagi akan “ketegaran” yang ternyata selama ini engkau ajarkan. Dulu ketika kita masih sering bersua di bangku kuliah, aku sering merasa bahwa kamu memiliki banyak energi sehingga akupun menyebutmu sahabat matahari. Bahkan saking banyaknya itu aku pernah berpikir bahwa kadang terlalu berlebihan. Sehingga membuat ku merasa tidak akan pernah bisa satu tujuan denganmu. Lebih kepada satu sisi yaitu terlalu mempercayakan kekuatan pemikiran logis sedang aku cenderung kuat juga secara nonlogis (insting).

Aku terlalu sering beralibi bahwa semuanya harus dengan pertimbangan yang baik, tapi aku lupa tentang pertimbangan yang tepat. Tidak semua yang baik itu harus lambat dan lembut. Mungkin banyaknya lambat itu menimbulkan kegoyahan sehingga ketidaktepatannya semakin banyak dan semakin besar. Sedangkan kamu selalu cepat dan itu pun sering menjadi tepat. Tetapi aku terlalu enggan untuk mengambil pelajaran itu darimu.

Sahabat matahariku, kini aku mulai mengerti hal yang berarti. Ketepatanmu selama ini yang cenderung tidak mudah, keras, adalah sebaik-baik upayamu untuk mewujudkan harapanmu, yang juga harapan keluargamu. Kamu rela berpayah-payah, demi kelak kebahagian bagi keluarga. Sedang aku pernah menganggapnya sebagai kesan yang kurang hangat bagi keluarga.

Kamu sering mengurai impianmu kepada dunia, sedang aku cenderung tidak banyak berceloteh kepada dunia. Aku tidak mempersoalkan hal ini, semuanya punya tujuan dan alasan masing-masing. Tetapi di sini aku teringat dulu, kamu sering bertanya padaku, sedang aku selalu tidak mau berurai padamu. Yang aku tangkap sekarang adalah bahwa jangan sampai aku tidak memiliki tapak-tapak impian yang jelas. Dari hal ini mungkin maksudmu adalah kita harus menitinya dengan baik, dengan jelas.

Kamu bukan orang yang mudah percaya, kamu skeptis. Tidak akan percaya sebelum benar-benar ada penjelasannya, teorinya, hehe. Sehingga aku pernah berkata padamu bahwa kamu sering tidak percaya padaku. Disini karena aku pernah bahkan sering tidak memperlihatkannya padamu, hanya sebatas perkataan yang tetiba menanjak di langit, hehe. Ada alasan kenapa aku tidak menunjukkan semuanya, tetapi bukan hal itu yang menjadi persoalan. Melainkan bahwa pembuktian itu merupakan suatu keniscayaan dan keharusan bagi orang-orang yang berakal. Bukan hanya berasakan kepercayan. Itu yang kutangkap kini dari sikapmu.

Ya, itu semua adalah didikan yang aku bilang “keseimbangan benda tegar”, hehe..
Benar kata salah seorang sahabatku yang lain, ia pernah berkata mungkin kamu itu ingin mendidikku. Dan inilah didikan yang baru aku sadari. Walaupun secara tidak langsung atau secara tidak sempurna aku mengartikan didikan tersebut bahkan terlambat sekali aku menyadarinya, tetapi aku bersyukur sekali Allah memberikan aku pemahaman pada titik ini tentang didikan itu. Alhamdulillah..


Dan hal ini amat meringankan langkah dan hatiku yang sempat tersendat karena sesuatu. Aku pernah menciptakan dinding tinggi dan menjulang denganmu. Aku pernah berpikiran bahwa kita bukan hanya tidak sejalan melainkan juga berlawanan arah yang tidak akan membuat bertemu di tujuan. Tetapi dari hal ini aku menyadari bahwa jalan yang berlawanan pun bila tujuan yang dituju sama, maka insya Allah tetap akan bertemu pada tujuan, dalam artian keridhoanNya, bahagia kehidupan. Bukan berarti harus bersama nantinya, tetapi sama-sama mencapai ridho-Nya, dengan ruang, waktu, dan teman yang berbeda ataupun sama nantinya, semoga, aamiin :)


Terimakasih sahabat matahariku, karena darimu ku kini belajar bukan hanya tentang kesemangatan tetapi juga ketegaran yang menguatkan. ^_^

                                                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar