Sabtu, 02 Mei 2020

Metamorfosis yang Genap di Putih Abu


Lulusan 2020 itu diantara lulusan yang spesial bagiku. Banyak hal yang membuat mereka itu begitu memberi banyak kesan dan arti.

Dimulai dari tahun 2017 ketika awal menempuh kelas X bagi mereka, adalah awal pula bagiku dalam menempuh jenjang pendidikan strata dua dan awal bagiku untuk belajar menjadi pendidik fisika di SMA. Ketika mereka berupaya mengenali dan beradaptasi dalam suasana SMA, disitu pula aku mulai lebih mengenali dan berdaptasi menjadi pendidik yang sejati. Mencoba ini dan itu dalam pembelajaran, berupaya mengevaluasi dan mencari solusi baru. Melihat mereka dengan segala keunikannya di kelas X, merasakan masih beragamnya jalan pikiran dan cara tiap-tiap dari mereka, mendeteksi masih takut atau malu-malunya mereka, dan yang terpenting mencoba mengidentifikasi dan menyabarkan diri pada mereka yang masih enggan dalam memahami. Ada yang pernah memperlihatkan wajah malas yang seolah amat terpaksa dalam pembelajaran, ada juga yang pernah membelot seolah ingin memberontak tak mau belajar. Ada yang menggebu-gebu ketika mengerjakan soal-soal hitungan, ada yang kalem-kalem tapi selalu benar. Ada yang sering bertanya di luar jam pelajaran dari hal-hal yang sederhana, hal-hal yang mendasar seperti darimana suatu perumusan didapatkan, sampai mengenai cita-cita yang mungkin akan mereka raih di masa depan. Ada pula yang bertanya mengenai kehidupan sehari-hariku dan turut mendo’akan kehidupanku di masa mendatang.

Hingga ketika kelas XI dan XII mereka semakin terlihat mendewasa.  Masa dimana mereka paling padat dengan berbagai pengayaan (pemantapan), tugas dan ujian-ujian. Ketika mereka kelas XI adalah masa yang sama dimana aku memulai mengerjakan tugas akhir perkuliahan. Bahkan merekalah sampel penelitianku. Mereka yang telah dengan antusias terlibat dalam prosesnya. Mereka menjadi saksi dan bukti yang mengiringiku menuntaskan pendidikan. Pun aku juga merupakan saksi dan bukti mereka dalam mempelajari fisika di masa putih abu. Merekalah metamorfosis yang kulihat dengan genap, genap tiga tahun sedari awal hingga akhir masa SMA. Segala pesan yang kuuntai dalam bentuk cerita, arahan, bahan mungkin secuil teguran, semoga bermakna bagi kehidupan mereka, dan dapat menjadikan mereka pribadi yang berakhlak mulia dan mampu menjadi terbaik versi diri mereka masing-masing dan sukses dalam bidang mereka masing-masing, baik yang akan menempuh pendidikan tinggi, pekerjaan, ataupun keduanya. Semoga langkah mereka kedepan selalu Allah berikan jalan dan keberkahan, aamiin...

Salam sayangku untuk kalian semua peserta didikku lulusan tahun 2020 SMA Pasundan 2 Kota Cimahi :)


VT_OKTA

Selasa, 31 Desember 2019

Refleksi dan Resolusi

Ketika kita sampai di penghujung tahun biasanya kita pernah berkata atau merasa “wah tidak terasa, tahun ini telah usai, dan sudah akan tahun baru lagi”. Memang waktu itu dirasa lebih cepat kadang jika kita lihat hanya perpindahan dari tanggal 31 Desember ke tanggal 1 januari di tahun berikutnya. Namun jika kita lihat dan urut kembali, berapa banyak hari yang telah kita lalui, berapa banyak rasa dan masa yang telah kita untai untuk menjadikan kita sampai pada hari ini dengan pribadi yang seperti ini. Tak luput pula diantaranya berapa banyak ketidak syukuran kita dengan cara menyia-nyiakan waktu yang ada. Maka kata ‘refleksi’ menjadi begitu penting dalam upaya agar jiwa dan pola pikir kita bertumbuh dan mendewasa. Maka pada tulisan kali ini aku ingin urai inti dari apa yang telah aku lakukan pada tahun 2019 ini. Tulisan ini aku dedikasikan untuk diriku di masa mendatang, yang kadang selalu membutuhkan asupan semangat ketika kehampaan menyerang, hehe. Alhamdulillah, tahun 2019 ini juga merupakan tahun dimana Allah membimbing dan meridhoiku untuk menggapai salah satu amanah yang kini tersemat padaku. Dengan segala lika-likunya, dan teringat akan betapa semuanya merupakan skenario yang terbaik dari Allah untukku. Akupun banyak memetik hikmah dari segala yang terjadi disamping perjuangan itu. ‘Semesta mendukung’ sungguh terwujud, dan benar Allah wujudkan dengan cara memberikan kita pada kondisi kritis terlebih dahulu. Pertolongan-Nya lewat tangan-tangan dan jalan yang tiada diduga-duga, menorehkan banyak tawa dan air mata. Selain itu juga tetap masih ada hal yang menjadi pekerjaan rumah, terutama dalam mendisiplinkan diri ini. Setelah salah satu amanah diraih, yang hakikatnya ini adalah awal, karena di depan adalah jalan dan masa untuk menunaikannya dengan lebih baik, ada begitu banyak impian yang juga perlu untuk dirancang dan diwujudkan. Maka kata “resolusi” adalah suatu romansa tersendiri dalam menyambut tahun baru Syamsiah yang semoga dapat dijalani dengan lebih baik lagi. Ternyata dalam menguraikan impian-impian kita, walaupun itu adalah impian yang kecil, kita harus tetap memiliki rasa semangat untuk menggapainya. Dan penyebab apapun kesemangatan itu hendaknya kita tahu dan kita ambil. Diantara sumber semangatku baru kusadari bahwa kubanyak belajar darinya. Dari seseorang di masa lalu yang senantiasa bertumbuh dan mengajak orang lain untuk bertumbuh. Sosoknya yang dulu hadir dan diantaranya kuingat adalah beberapa pesan yang ia sampaikan. Maka tentang rindu, bukan melulu menghadirkan rasa yang pilu dan sendu. Rinduku padanya kini ku akan ambil hikmahnya. Semangat itu, insya Allah akan kupancarkan. Seperti dirinya yang tak pernah lelah dalam melangkah. Seperti dirinya yang tak pernah goyah. Akan ku mulai merinci kembali, impian-impianku yang besar ataupun sederhana yang pernah kutuliskan dan juga yang akan kutuliskan, dan semoga di tahun depan, tahun 2020, Allah tuntunku dan berikan jalan agar dapat menggapai impian-impian itu dengan proses dan jalan yang selalu berkesan, diridhoiNya dan penuh keberkahan, aamiin…  Semoga Allah senantiasa menuntun kita semua, aamiin… .
Lagu di bawah ini ada beberapa lirik ost drama Love Story in Harvard yang alunannya mengingatkan perjuangan, sangat ngena dan bisa membuat semangat juga, hehe…
Spring, summer, fall & winter dreams
Mimpi-mimpi musim semi, panas, gugur dan musim dingin

Those are shinning like a star

Semuanya bersinar seperti bintang
They keep whispering, Mereka (mimpi2) terus berbisik,
I’m so in love with you
Aku begitu sangat mencintaimu
I remember when we were angels
Aku mengingat ketika kita adalah malaikat-malaikat

when we dreamed about us

Ketika kita bermimpi tentang kita
All my days were happy

Semua hari-hariku adalah bahagia
Every step i make writes a story
Setiap langkah, aku menulis sebuah cerita

It is full of the heart
Itu(cerita) penuh dengan perasaan
feeling love of my life
Merasakan cinta dalam hidupku

and missing friends of my time

Dan merindukan sahabat-sahabat dalam waktuku

I Wish i’d have them all

Aku berharap, aku akan memliki mereka semua

Senin, 23 Desember 2019

GENKI DE IMASU KA?



GENKI DE IMASU KA?
Apakah kabarmu baik-baik saja?
DAIJJI NA HITO WA DEKIMASHITA KA?
Apakah kau punya seseorang yang berharga?
ITSUKA YUME WA KANAIMASU KA?
Apakah mimpimu ketika itu telah tercapai?
KONO MICHI NO SAKI DE
Di ujung jalan ini
          OBOETE IMASU KA?
Apakah kau mengingatnya?
YURERU MUBINO ANO YUUBAE
Cahaya senja itu, yang terpancar di dekat telinga
CHIHEISEN TSUDZUKU SORA WO SAGASHI TSUDUKETEITA
Kau terus mencari horizon yang berlanjut hingga ke langit itu
Reff :
ASU WO EGAKOU TO MOGAKI NAGARA
Sementara berjuang dan melukiskan masa depan
IMA YUME NO NAKA E
Sekarang aku mengejar mimpiku
KATACHI NAI MONO NO KAGAYAKI WO
Cahaya dari sesuatu yang tak berbentuk
SOTTO SOTTO DAKISHIMETE
Aku pun memeluknya dengan lembut
SUSUMU NO
Dan terus maju
                WARATTE IMASU KA?
                Apakah kau dapat tersenyum?
                ANO HI NO YOU NI MUJAKINA ME DE
                Dengan mata yang jernih seperti di hari itu
                SAMUI YORU MO AME NO ASA MO KITTO ATTA DESHOU
                Malam yang dingin dan pagi yang hujan pasti akan berlalu, iya kan?
FURUSATO NO MACHI WA
Kampung halaman itu pasti
KAERU BASHO NARA KOKO NI ARU TO
Merupakan tempat untuk kembali lagi
ITSUDATTE KAWARAZU NI ANATA WO MATTEIRU
Dan akan menunggumu tanpa pernah berubah
                Reff :
ASU WO EGAKOU KOTO WO YAMENAIDE
Aku takkan pernah berhenti melukiskan masa depan
IMA YUME NO NAKA E
Sekarang aku mengejar mimpiku
TAISETSUNA HITO NO NUKUMORI WO
Kehangatan dari seseorang yang berharga
ZUTTO ZUTTO WASUREZU NI
Aku akan selalu mengingatnya
SUSUMU NO
Dan terus maju
                HITO WA MAYOI NAGARA YURE NAGARA
                Ketika manusia bingung dan ketakutan
                ARUITE YUKU
                Mereka akan terus berjalan
                NIDOTONAI TOKI NO KAGAYAKI WOO
                Cahaya yang tak dapat kembali
                MITSUMETEITAI
                Kuingin terus melihatnya

Tidak sengaja aku menemukan sebuah lagu dengan judul A Shita E No Tagami dari youtube. Dan pas aku baca arti liriknya sangat pas sekali dengan apa yang aku rasakan pada seseorang. Berulang kali ingin aku bagikan link lagu tersebut kepadanya, namun niat itu aku urungkan pula dengan susah payah berulang kali. Maka aku memilih untuk menuliskan pada blog ku ini. Sekarang, dan sudah begitu lama aku tidak bisa lagi secara mudah menghubunginya. Ada batasan dan dinding yang telah aku buat yang telah begitu lama meski terdengar dan terkesan tega dan menggores luka, tapi aku percaya bahwa ini semua untuk kebaikan kami semua. Karena walau pahit dan perih, tuntunan dan perintah dari Allah adalah mutlak dan insya Allah ku yakin akan berbuah manis pada waktunya. Intinya aku selalu merasa bersyukur karena Allah memberikan kami keadaan seperti ini sekarang, karena insya Allah kelak Allah akan pilihkan yang terbaik untuk semua hamba-Nya. Meski banyak yang berkata, mengapa harus begitu jika ada pilihan kata “menunggu”. Aku tidak pernah ingin memberikan sebuah pemanis dan penawar hati dengan dalih “menunggu”, karena jika demikian akhir dari menunggu itu akan menjadi suatu tuntutan bagi seseorang yang telah dijanjikan akan ditunggu. Baik itu hasilnya membahagiakan ataupun sebaliknya. Karena hakikatnya menunggu itu memang adalah fitrah kami sebagai kaum perempuan, tapi aku tak ingin mengikat atau diikat dengan kata menunggu. Biar Allah saja yang ikat dan genggam hati kami. Kami menunggu dengan berusaha dan berdo’a selalu. Allah akan selalu memberikan jalan yang terbaik kepada hamba-hambaNya. Ku yakin itu, insya Allah. Dan kenapa harus aku tulis ini juga pada akhirnya? Karena aku ingin mengungkapkan tanpa menggoyahkan dinding yang juga telah ia buat. Aku hanya sekedar ingin menyatakan bahwa aku bersyukur atas setiap apa yang telah Allah tuliskan untuk ku, termasuk diantaranya adalah kehadirannya. Sahabat matahariku yang sangat ingin kusapa berulang kali, tapi kembali kuurungkan. Entah sampai batas mana waktu dan jarak akan bertemu. Entah menjadi sebagai apa antara aku dan dirinya kelak. Semoga Allah selalu melindungi kita semua, aamiin…

Senin, 25 November 2019

DUNIA GURU DAN SISWA




Ada getar rasa syukur yang menyesap dalam hati, mana kala mampu Allah berikan kesempatan untuk dapat bercengkrama hampir di setiap hari bersama para wajah yang masih begitu murni. Aku percaya bahwa menjadi seorang guru bukan sekedar profesi, bukan sekedar untuk ilmu dibagi, akan tetapi lebih dalam karena setiap waktu kami dapat bersama. Dapat saling memiliki keterikatan batin yang ada.

Tidak ada siswa yang nakal, tidak ada siswa yang tidak pandai. Hanya kami sebagai guru yang belum mampu memenukan cara yang tepat untuk memunculkan mutiara bakat dalam diri mereka. Tidak ada guru yang galak, tidak ada guru yang sempurna, hanya siswa terkadang masih begitu terlena dengan godaan-godaan dan kenakalan sikap masa remaja.

Bersyukur selalu atas lingkungan yang Allah pilih sebagai duniaku mengabdi adalah berada di tengah-tengah mereka. Aku yang terus menerima banyak kasih sayang dan do’a dari mereka, insya Allah akan senantiasa belajar memperbaiki cara mendidik dan mengajar. Aku ingin dapat menuntun dengan menggenggam tangan mereka, mengajak mereka agar mau membuka pikiran dan mencoba melangkah ke depan dalam memilih jalan yang menuju kebaikan.

Teruntuk siswa-siswi ibu dimanapun berada, maafkan ibu yang masih banyak khilap dan salah. Maafkan ibu yang belum sepenuhnya dapat mengerti dan memahami cara agar kalian paham dan nyaman belajar. Maafkan jika masih terdengar nada tegas nan keras, yang mungkin secara langsung atau tidak langsung menggores hati kalian. Dalam hati ibu tidak pernah sekalipun ibu bermaksud untuk membeda-bedakan apalagi membuat penilaian golongan-golongan anak yang pandai dan belum pandai. Ibu menyayangi setiap kalian dengan keunikan kalian masing-masing. Ibu menyayangi kalian dan mencoba ingin agar keunikan itu tetap menuju kebaikan dan menuju keberhasilan kalian dalam akhlak, Ilmu, iman dan amal. Setiap salam yang kalian ucapkan adalah do’a bagi setiap keselamatan dan keberhasilan dalam hidup ibu. Semua kasih sayang dan ketulusan kalian, semoga Allah jadikan jalan agar mudahnya menyerap ilmu dan memupuk akhlak yang mulia sehingga kalian menjadi generasi penerus bangsa yang bukan hanya cerdas di bidangnya, tetapi juga dapat berkepribadian yang baik.

Terimakasih atas banyak ucapan terimakasih dan do’a yang telah kalian haturkan siswa-siswi ku tersayang 😊

                                   Dari guru yang masih terus belajar: Vita Oktaviani

SELAMAT HARI GURU NASIONAL KE-74

Semoga selalu Allah berikan keberkahan kepada semua guru-guru kami, aamiin :)

#penggerakkemajuanbangsa

Sabtu, 07 September 2019

Sepenggal cerita



Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah… Segala puji bagi Allah yang senantiasa melimpahkan kasih sayang-Nya kepada kita semua.

Segala apa yang telah terjadi dalam mozaik kehidupanku, begitu unik dan penuh rasa. Sempat seperti roller coaster yang membuat ku dan sahabat-sahabatku pernah merasakan ada di titik tertinggi dengan penuh kepercayaan diri dan keoptimismean dan pernah ada di titik terendah yang paling bawah dengan membuat merasa paling bingung dan gelap. Dalam beberapa waktu yang terbilang padat, muncul seolah logika yang menyatakan ketidak mungkinan. Namun kuasa Allah dan pertolonganNya yang tidak dibatasi oleh logika manusia, mampu menyelamatkan dan membuat kami mampu menyelesaikan momen roller coaster itu. Allah gantikan semua rasa jungkir balik itu dengan begitu indah dan manisnya perasaan yang tercipta di dalam hati dan senyuman. Tak terbilang berapa tetes air mata yang pernah  terjatuh, akibat berbagai rasa negatif seperti cemas, takut, lelah, sedih, bingung, buntu, kesal dan marah pada diri sendiri. Semua rasa negatif itu tercipta kusadari akibat kemalasan dan kebuntuan kami yang terus kami turuti dulu kala waktu masih berjalan dengan wajarnya. Ketika terjepit barulah semakin kami sadar, bahwa tidak ada lagi waktu. Persimpangan telah nyata, dan kami harus membuat keputusan. Lanjut dengan segala kerja keras dan do’a lebih dari yang lainnya, atau mundur  dengan cara diam dan lari dari kenyataan. Alhamdulilah, hanya dengan rahmatNya lah dan berkat do’a-do’a dari hati-hati yang baik, dari orang-orang tersayang, Allah mampukan kami dan menuntun kami untuk menepuh jalan yang terbaik, jalan maju terus. Kami yang tiada daya dan upaya selain daya dan upaya dari Allah, terus melaju hingga mencapai jalan terang yang bercahaya walau terjal dan tertatih. Lalu terbitlah begitu banyak dukungan dan pertolongan dari kondisi maupun orang-orang di sekitar kami. Membuat dan memberi begitu banyak arti yang coba kami pahami dan maknai. Sungguh sangat terasa bahwa tesis bukan sekedar usaha dari diri sendiri dan bukan hanya tentang akademik, lebih dari itu, banyak sekali momen dan tantangan yang hanya dapat dilalui dengan pertolongan Allah, melalui begitu banyak pintu dan cara yang istimewa yang Allah berikan, yang membuat kami sebagai manusia tercengang dan amat semakin menyadari, Maha Baik Allah kepada kami semua.  Alhamdulillahirobbil ‘alamiin…

Semoga segala yang telah kami lalui dapat Allah berkahi. Semoga Allah meridhoi kami selalu dan semoga Allah kuatkan serta tuntun kami selalu untuk dapat menunaikan amanah ilmu ini sehingga berkah dan manfaat bagi sesama dan semesta. Semoga Allah menjadikan kami orang yang rendah hati, yang tidak silau dengan gelar dan kedudukan, selalu diberikan rasa haus untuk menuntun ilmu demi mengamalkannya di jalan-Nya. Sehingga kelak kami dapat kembali kepada-Nya dengan kesyukuran karena amanah yang telah tuntas kami tunaikan, aamiin ya Allah ya robbal ‘alamiin…

          ket foto 1: setelah sidang tahap 2 bersama kedua pembimbing dan kedua penguji
                                            ket foto 2 : anak-anak papih Parlin :D
                                             ket foto 3: para pejuang free spp :D
                                                  ket foto 4 : kita lagi :D
                                           ket foto 5 : angel jica nya bagus :D
                         ket foto 6: menolak tua, selebrasi di gedung pasca, hehe



30 Agustus 2019, diantara momen dalam hidup dimana amanat tersematkan, semoga amanah, aamiin...

                                                     by : VT_Oktha












Selasa, 07 Mei 2019

Memutar Waktu


Kembali ke masa yang mana yang kau inginkan?

Alhamdulillah, hari ini telah memasuki hari keduan di bulan Ramadhan 1440 H. Salah satu berkah di awal Ramadhan ini aku bisa kembali berkumpul bersama keluarga di rumah. Maka, kalau mudik salah satu yang biasanya aku lakukan (kalau lagi ingin saja sih, hehe) adalah membaca buku harianku yang dulu-dulu. Beberapa cerita yang aku tulis tentang hal-hal yang aku alami, dapat membuat senyum-senyum sendiri, hehe. Setiap tulisan itu menjadi bukti dan pengingat tentang bagaimana cara pandang yang aku miliki bermetamorfosis yang semoga menjadi semakin kepada cara pandang yang benar. Kemudian aku jadi teringat betapa bahagianya di kala momen-momen tertentu di masa-masa yang lalu. Kadang rasa ingin kembali ke masa dulu juga turut menjelma. Pernah ku baca sebuah tulisan di media sosial yang intinya jika kita diberikan kesempatan bisa kembali ke masa lalu, maka masa kapankah yang ingin kita kembali ke dalamnya?

Akupun ingin kembali ke masa ketika ku masih kanak-kanak, kurang lebih sekitar ketika aku masih di sekolah dasar sampai menengah, dimana pada masa-masa itu yang paling aku manis rasakan adalah ketika aku dan sahabat-sahabatku dengan penuh semangat hampir setiap malam kami pergi mengaji ke masjid salah satu tempat kami belajar mengaji dan mengkaji. Bahkan tak pandang cuaca cerah maupun hujan, terang maupun mati listrik, kami pernah lalui, dan saat-saat itu kurasakan masih murni dan jernihnya pikiran dan hati, dan do’a-do’a yang senantiasa dipanjatkan dengan indahnya. Pernah juga beberapa sahabat ku berkata, katanya “perasaan waktu dulu kita masih  kecil, fokus ngaji, jadi apa-apa itu lebih mudah, lebih konsen.” Ada juga sahabatku yang lain yang bilang kalau sekarang dimana sudah dewasa dan cukup sibuk untuk bekerja, menjadikan susah waktu dan jarang untuk membaca Al-Qur’an, tidak seperti ketika dulu. Pada intinya kurang lebih masa-masa mengaji bersama dulu adalah anugerah dari Allah yang amat berharga di dalam hidupku. Walaupun aku belum berkesempatan menuntut ilmu secara formal di pesantren, tapi alhamdulillah Allah memberikan aku kesempatan belajar agama dan banyak hal dari majelis taklim tempatku mengaji sewaktu dulu dengan guru-guru mengaji yang subhanallah sangat the best.

Namun akupun pikir kembali dan rasakan ingin kembali pada masa ketika aku di sekolah menengah atas. Dimana pada masa itu aku dan sahabat-sahabatku senantiasa lebih bersemangat dalam merangkai angan dan cita-cita. Bahkan pemanis masa putih abu pun tidak luput dari kisah kami, walaupun hanya sesederhana rasa senang karena melihat seseorang yang disuka, hehe. Masa putih abu adalah masa dimana sikap dan prinsip hidup mulai coba dibentuk. Impian mulai dirangkai dan kondisi yang masih sangat full energi untuk bertumbuh, untuk mencoba dan menerima ilmu dan pengalaman baru dan seru. Baik secara petualangan sehari-hari seputar dunia akademik, organisasi, dan lain sebagainya.

Namun, aku kembali berpikir dan ingin kembali ke masa-masa ketika aku kuliah. Dimana pada saat itu juga merupakan masa peralihan dari yang mencari jati diri menjadi seseorang yang berusaha menjadi diri yang berpotensi dan mengembangkannya sehingga menjadi pribadi yang utuh, yang kelak siap untuk mngabdi sesuai dengan apa yang disandang kelak. Dan pada masa kuliah ini juga, alhamdulillah merupakan masa dimana Allah mengundangku untuk berkunjung ke Baitullah, maka itulah masa yang amat sangat ingin kukembali. Masa dimana ibadah vertikal dan horizontal begitu manis kurasakan, subhanallah. Pada intinya juga kurasakan masa-masa di selama kuliah ini merupakan fase dimana menuntut ilmu dengan tujuan yang lebih terasa, tanggung jawab keilmuwan yang mulai tumbuh, sikap berorganisasi yang mulai matang, dan pengalaman-pengalaman yang luar biasa yang telah Allah berikan, belajar menjadi bagian dari masyarakat dan mengabdi di masyarakat.

Dan akupun tersadar bahwa intinya pada masa apapun itu segala timingnya sudah Allah berikan pada waktu yang paling tepat. Mungkin saat ini kupikir adalah bukan masa yang paling menyenangkan, karena berbagai alasan. Padahal, masa-masa lalu itu ada, adalah untuk menjadikan aku bisa sampai pada masa kini. Allah tidak semerta-merta menjadikan hal yang saat ini ada, jika tidak ada proses dan tahapan di masa lalu. Dan jika kita merasa beban dan problematika hidup kita semakin kompleks dan berat, yakinlah bahwa selalu Allah sediakan pundak yang mampu untuk menanggungnya. Allah memberikan ujian sesuai dengan kemampuan hamba-hambaNya. Segala manis yang kita kecap dimasa dulu bukan berarti tidak ada beban dan rintangan yang kita hadapi pada masa itu, suka dan duka tetap paket lengkap yang menjelma sesuai dengan kadar kemampuan yang Allah titipkan pada kita sesuai masanya. Hanya saja terkadang kita yang katanya semakin dewasa, malah lebih pintar untuk mencari alasan, lebih pandai dalam mengeluh, dan lebih iri melihat pencapaian orang lain tanpa mengambil hikmah bagaimana perjuangan mereka untuk sampai pada tahap itu semua. Maka inti dari tulisan kali ini adalah ketika hidup kita hari ini kita jalani dengan sabar, ikhlas, dan penuh syukur, insya Allah ini akan menjadi masa yang memang kita inginkan, dan tidak akan pernah terbesit untuk “melarikan diri” ke masa apapun dalam rangka menghindari kenyataan saat ini. Sepahit apapun, selelah apapun, sesesak apapun, bismillah..kuatkan niat, do’a dan usaha untuk terus melangkah. Karena ada Allah yang selalu membersamai langkah kita semua. Bismillah....


VT_Oktha








Minggu, 31 Maret 2019

Bekal yang Utama



Beberapa hari ke belakang ketika aku masuk di salah satu kelas X Mipa, aku kembali teringat tentang bekal yang utama yang kuharap dapat semua peserta didik bawa. Alhamdulillah, Allah memberikan aku kesempatan untuk dapat mendidik dan berusaha menumbuhkan bekal itu pada peserta didikku, walaupun belum menyeluruh dan utuh. Bekal yang juga aku dapatkan dari banyak guru-guruku. Setiap guru-guru itu unik, dengan cara dan kekhasannya masing-masing dalam mendidik dan mengajar peserta didiknya. Namun aku yakin ada satu kesamaan dari semua keunikan itu, yang pada intinya ingin melihat peserta didiknya menjadi pribadi yang berhasil atau sukses. Dalam proses menuju kesana ada pondasi diri yang harus dibangun. Pondasi diri bagi pribadi mereka. Setiap peserta didik juga unik, dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun pondasi ini berlaku untuk semua keunikan itu. Bekal yang utama itu adalah “sikap yang baik”. Sikap baik itu dia
ntaranya adalah santun, sopan, jujur, semangat, dan optimis. Aku sering menekankan pada peserta didikku, bahwa yang menjadi penilaian utama dalam pelajaranku adalah perubahan atau kemajuan setiap peserta didik dalam pembelajaran. Seberapa maunya mereka untuk belajar, mau bersabar mengerjakan tugas dan menghafal atau mempersiapkan diri untuk ulangan atau ujian. Maka kejujuran dalam mengerjakan adalah harga mutlak yang aku tekankan pada mereka. Meski tidak kupungkiri hal itu mungkin belum sepenuhnya dapat diterapkan atau ditumbuhkan dalam diri mereka. Tetapi dimulai dari hal-hal yang kecil, yang mungkin aku ingatkan berulang-ulang kepada mereka, semoga ada yang menyentuh hati mereka dan dapat bertumbuh menjadi sikap yang baik, aamiin… .
Mengapa sikap baik ini penting? Bukan sekedar teori tetapi banyak bukti nyata pada kehidupan ini bahwa seseorang yang berhasil dalam hidupnya adalah orang-orang yang bukan hanya cerdas secara intelektual (IQ) tetapi secara emosional (EQ) dan spiritual (SQ). EQ dan SQ yang baik itu tergambar pada sikap yang baik.  Seseorang yang memiliki sikap yang baik, insya Allah akan mampu menghadapi berbagai rintangan apapun dalam hidupnya. Seseorang yang memiliki sikap yang baik, akan selalu membawa manfaat dalam setiap langkahnya. Sulit ataupun mudah, orang yang memiliki sikap yang baik akan menjalaninya dengan optimis. Orang yang memiliki sikap ini insya Allah akan mampu menjadi bagian dari solusi setiap masalah yang timbul kelak.  Sikap baik itu disebut karakter, akhlak yang mulia atau akhlakul kharimah.
Mungkin kita pernah mendengar ungkapan bahwa “orang bodoh kalah oleh orang pintar. Orang pintar kalah oleh orang yang beruntung”. Sebagai seorang muslim, tentu kita tahu bahwa salah satu indikator orang yang beruntung itu adalah orang yang bertakwa. Firman Allah swt, dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah : 189 yang artinya: “… dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”. Takwa adalah salah satu bukti bahwa seseorang memiliki sikap yang baik.  Maka kehidupan itu bukan soal keberuntungan yang acak, melainkan sepanjang kita memiliki sikap yang baik, insya Allah, Allah yang Maha Baik akan menuntun kita kearah yang baik (benar). Ketika aku duduk di bangku sekolah menengah pertama dan atas (smp dan sma), beberapa guruku pernah memberikan penjelasan yang intinya bahwa tidak semua orang pintar itu berhasil dalam hidupnya. Ada yang pintar, tetapi karena kurang teliti dan rapi maka gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi, dan menjadi kurang sehat akalnya (stress). Ada orang yang pintar, tetapi malah mengalami suatu kecelakaan, dll. Maka hal itupun menjadi candaan oleh beberapa temanku, ada yang bertanya kepadaku “gimana mau jadi orang pintar tapi celaka, atau orang biasa-biasa saja tetapi selamat?”, dan akupun menjawab “aku mau menjadi diriku sendiri”, hehe… Dalam artian semoga selalu Allah berikan kecerdasan dan keselamatan.

Maka itulah kenapa bekal yang utama yang tidak boleh aku lupakan sampai kapanpun dalam mengemban amanah sebagai pendidik adalah menumbuhkan dan memupuk sikap baik pada diri semua peserta didikku. Semoga bekal itu dapat menjadi bekal yang berharga, bermanfaat dan menyelamatkan kehidupan kami semua di dunia dan di akhirat kelak, aamiin ya rabb… .


VT_OKTA