Senin, 25 November 2019

DUNIA GURU DAN SISWA




Ada getar rasa syukur yang menyesap dalam hati, mana kala mampu Allah berikan kesempatan untuk dapat bercengkrama hampir di setiap hari bersama para wajah yang masih begitu murni. Aku percaya bahwa menjadi seorang guru bukan sekedar profesi, bukan sekedar untuk ilmu dibagi, akan tetapi lebih dalam karena setiap waktu kami dapat bersama. Dapat saling memiliki keterikatan batin yang ada.

Tidak ada siswa yang nakal, tidak ada siswa yang tidak pandai. Hanya kami sebagai guru yang belum mampu memenukan cara yang tepat untuk memunculkan mutiara bakat dalam diri mereka. Tidak ada guru yang galak, tidak ada guru yang sempurna, hanya siswa terkadang masih begitu terlena dengan godaan-godaan dan kenakalan sikap masa remaja.

Bersyukur selalu atas lingkungan yang Allah pilih sebagai duniaku mengabdi adalah berada di tengah-tengah mereka. Aku yang terus menerima banyak kasih sayang dan do’a dari mereka, insya Allah akan senantiasa belajar memperbaiki cara mendidik dan mengajar. Aku ingin dapat menuntun dengan menggenggam tangan mereka, mengajak mereka agar mau membuka pikiran dan mencoba melangkah ke depan dalam memilih jalan yang menuju kebaikan.

Teruntuk siswa-siswi ibu dimanapun berada, maafkan ibu yang masih banyak khilap dan salah. Maafkan ibu yang belum sepenuhnya dapat mengerti dan memahami cara agar kalian paham dan nyaman belajar. Maafkan jika masih terdengar nada tegas nan keras, yang mungkin secara langsung atau tidak langsung menggores hati kalian. Dalam hati ibu tidak pernah sekalipun ibu bermaksud untuk membeda-bedakan apalagi membuat penilaian golongan-golongan anak yang pandai dan belum pandai. Ibu menyayangi setiap kalian dengan keunikan kalian masing-masing. Ibu menyayangi kalian dan mencoba ingin agar keunikan itu tetap menuju kebaikan dan menuju keberhasilan kalian dalam akhlak, Ilmu, iman dan amal. Setiap salam yang kalian ucapkan adalah do’a bagi setiap keselamatan dan keberhasilan dalam hidup ibu. Semua kasih sayang dan ketulusan kalian, semoga Allah jadikan jalan agar mudahnya menyerap ilmu dan memupuk akhlak yang mulia sehingga kalian menjadi generasi penerus bangsa yang bukan hanya cerdas di bidangnya, tetapi juga dapat berkepribadian yang baik.

Terimakasih atas banyak ucapan terimakasih dan do’a yang telah kalian haturkan siswa-siswi ku tersayang 😊

                                   Dari guru yang masih terus belajar: Vita Oktaviani

SELAMAT HARI GURU NASIONAL KE-74

Semoga selalu Allah berikan keberkahan kepada semua guru-guru kami, aamiin :)

#penggerakkemajuanbangsa

Sabtu, 07 September 2019

Sepenggal cerita



Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah… Segala puji bagi Allah yang senantiasa melimpahkan kasih sayang-Nya kepada kita semua.

Segala apa yang telah terjadi dalam mozaik kehidupanku, begitu unik dan penuh rasa. Sempat seperti roller coaster yang membuat ku dan sahabat-sahabatku pernah merasakan ada di titik tertinggi dengan penuh kepercayaan diri dan keoptimismean dan pernah ada di titik terendah yang paling bawah dengan membuat merasa paling bingung dan gelap. Dalam beberapa waktu yang terbilang padat, muncul seolah logika yang menyatakan ketidak mungkinan. Namun kuasa Allah dan pertolonganNya yang tidak dibatasi oleh logika manusia, mampu menyelamatkan dan membuat kami mampu menyelesaikan momen roller coaster itu. Allah gantikan semua rasa jungkir balik itu dengan begitu indah dan manisnya perasaan yang tercipta di dalam hati dan senyuman. Tak terbilang berapa tetes air mata yang pernah  terjatuh, akibat berbagai rasa negatif seperti cemas, takut, lelah, sedih, bingung, buntu, kesal dan marah pada diri sendiri. Semua rasa negatif itu tercipta kusadari akibat kemalasan dan kebuntuan kami yang terus kami turuti dulu kala waktu masih berjalan dengan wajarnya. Ketika terjepit barulah semakin kami sadar, bahwa tidak ada lagi waktu. Persimpangan telah nyata, dan kami harus membuat keputusan. Lanjut dengan segala kerja keras dan do’a lebih dari yang lainnya, atau mundur  dengan cara diam dan lari dari kenyataan. Alhamdulilah, hanya dengan rahmatNya lah dan berkat do’a-do’a dari hati-hati yang baik, dari orang-orang tersayang, Allah mampukan kami dan menuntun kami untuk menepuh jalan yang terbaik, jalan maju terus. Kami yang tiada daya dan upaya selain daya dan upaya dari Allah, terus melaju hingga mencapai jalan terang yang bercahaya walau terjal dan tertatih. Lalu terbitlah begitu banyak dukungan dan pertolongan dari kondisi maupun orang-orang di sekitar kami. Membuat dan memberi begitu banyak arti yang coba kami pahami dan maknai. Sungguh sangat terasa bahwa tesis bukan sekedar usaha dari diri sendiri dan bukan hanya tentang akademik, lebih dari itu, banyak sekali momen dan tantangan yang hanya dapat dilalui dengan pertolongan Allah, melalui begitu banyak pintu dan cara yang istimewa yang Allah berikan, yang membuat kami sebagai manusia tercengang dan amat semakin menyadari, Maha Baik Allah kepada kami semua.  Alhamdulillahirobbil ‘alamiin…

Semoga segala yang telah kami lalui dapat Allah berkahi. Semoga Allah meridhoi kami selalu dan semoga Allah kuatkan serta tuntun kami selalu untuk dapat menunaikan amanah ilmu ini sehingga berkah dan manfaat bagi sesama dan semesta. Semoga Allah menjadikan kami orang yang rendah hati, yang tidak silau dengan gelar dan kedudukan, selalu diberikan rasa haus untuk menuntun ilmu demi mengamalkannya di jalan-Nya. Sehingga kelak kami dapat kembali kepada-Nya dengan kesyukuran karena amanah yang telah tuntas kami tunaikan, aamiin ya Allah ya robbal ‘alamiin…

          ket foto 1: setelah sidang tahap 2 bersama kedua pembimbing dan kedua penguji
                                            ket foto 2 : anak-anak papih Parlin :D
                                             ket foto 3: para pejuang free spp :D
                                                  ket foto 4 : kita lagi :D
                                           ket foto 5 : angel jica nya bagus :D
                         ket foto 6: menolak tua, selebrasi di gedung pasca, hehe



30 Agustus 2019, diantara momen dalam hidup dimana amanat tersematkan, semoga amanah, aamiin...

                                                     by : VT_Oktha












Selasa, 07 Mei 2019

Memutar Waktu


Kembali ke masa yang mana yang kau inginkan?

Alhamdulillah, hari ini telah memasuki hari keduan di bulan Ramadhan 1440 H. Salah satu berkah di awal Ramadhan ini aku bisa kembali berkumpul bersama keluarga di rumah. Maka, kalau mudik salah satu yang biasanya aku lakukan (kalau lagi ingin saja sih, hehe) adalah membaca buku harianku yang dulu-dulu. Beberapa cerita yang aku tulis tentang hal-hal yang aku alami, dapat membuat senyum-senyum sendiri, hehe. Setiap tulisan itu menjadi bukti dan pengingat tentang bagaimana cara pandang yang aku miliki bermetamorfosis yang semoga menjadi semakin kepada cara pandang yang benar. Kemudian aku jadi teringat betapa bahagianya di kala momen-momen tertentu di masa-masa yang lalu. Kadang rasa ingin kembali ke masa dulu juga turut menjelma. Pernah ku baca sebuah tulisan di media sosial yang intinya jika kita diberikan kesempatan bisa kembali ke masa lalu, maka masa kapankah yang ingin kita kembali ke dalamnya?

Akupun ingin kembali ke masa ketika ku masih kanak-kanak, kurang lebih sekitar ketika aku masih di sekolah dasar sampai menengah, dimana pada masa-masa itu yang paling aku manis rasakan adalah ketika aku dan sahabat-sahabatku dengan penuh semangat hampir setiap malam kami pergi mengaji ke masjid salah satu tempat kami belajar mengaji dan mengkaji. Bahkan tak pandang cuaca cerah maupun hujan, terang maupun mati listrik, kami pernah lalui, dan saat-saat itu kurasakan masih murni dan jernihnya pikiran dan hati, dan do’a-do’a yang senantiasa dipanjatkan dengan indahnya. Pernah juga beberapa sahabat ku berkata, katanya “perasaan waktu dulu kita masih  kecil, fokus ngaji, jadi apa-apa itu lebih mudah, lebih konsen.” Ada juga sahabatku yang lain yang bilang kalau sekarang dimana sudah dewasa dan cukup sibuk untuk bekerja, menjadikan susah waktu dan jarang untuk membaca Al-Qur’an, tidak seperti ketika dulu. Pada intinya kurang lebih masa-masa mengaji bersama dulu adalah anugerah dari Allah yang amat berharga di dalam hidupku. Walaupun aku belum berkesempatan menuntut ilmu secara formal di pesantren, tapi alhamdulillah Allah memberikan aku kesempatan belajar agama dan banyak hal dari majelis taklim tempatku mengaji sewaktu dulu dengan guru-guru mengaji yang subhanallah sangat the best.

Namun akupun pikir kembali dan rasakan ingin kembali pada masa ketika aku di sekolah menengah atas. Dimana pada masa itu aku dan sahabat-sahabatku senantiasa lebih bersemangat dalam merangkai angan dan cita-cita. Bahkan pemanis masa putih abu pun tidak luput dari kisah kami, walaupun hanya sesederhana rasa senang karena melihat seseorang yang disuka, hehe. Masa putih abu adalah masa dimana sikap dan prinsip hidup mulai coba dibentuk. Impian mulai dirangkai dan kondisi yang masih sangat full energi untuk bertumbuh, untuk mencoba dan menerima ilmu dan pengalaman baru dan seru. Baik secara petualangan sehari-hari seputar dunia akademik, organisasi, dan lain sebagainya.

Namun, aku kembali berpikir dan ingin kembali ke masa-masa ketika aku kuliah. Dimana pada saat itu juga merupakan masa peralihan dari yang mencari jati diri menjadi seseorang yang berusaha menjadi diri yang berpotensi dan mengembangkannya sehingga menjadi pribadi yang utuh, yang kelak siap untuk mngabdi sesuai dengan apa yang disandang kelak. Dan pada masa kuliah ini juga, alhamdulillah merupakan masa dimana Allah mengundangku untuk berkunjung ke Baitullah, maka itulah masa yang amat sangat ingin kukembali. Masa dimana ibadah vertikal dan horizontal begitu manis kurasakan, subhanallah. Pada intinya juga kurasakan masa-masa di selama kuliah ini merupakan fase dimana menuntut ilmu dengan tujuan yang lebih terasa, tanggung jawab keilmuwan yang mulai tumbuh, sikap berorganisasi yang mulai matang, dan pengalaman-pengalaman yang luar biasa yang telah Allah berikan, belajar menjadi bagian dari masyarakat dan mengabdi di masyarakat.

Dan akupun tersadar bahwa intinya pada masa apapun itu segala timingnya sudah Allah berikan pada waktu yang paling tepat. Mungkin saat ini kupikir adalah bukan masa yang paling menyenangkan, karena berbagai alasan. Padahal, masa-masa lalu itu ada, adalah untuk menjadikan aku bisa sampai pada masa kini. Allah tidak semerta-merta menjadikan hal yang saat ini ada, jika tidak ada proses dan tahapan di masa lalu. Dan jika kita merasa beban dan problematika hidup kita semakin kompleks dan berat, yakinlah bahwa selalu Allah sediakan pundak yang mampu untuk menanggungnya. Allah memberikan ujian sesuai dengan kemampuan hamba-hambaNya. Segala manis yang kita kecap dimasa dulu bukan berarti tidak ada beban dan rintangan yang kita hadapi pada masa itu, suka dan duka tetap paket lengkap yang menjelma sesuai dengan kadar kemampuan yang Allah titipkan pada kita sesuai masanya. Hanya saja terkadang kita yang katanya semakin dewasa, malah lebih pintar untuk mencari alasan, lebih pandai dalam mengeluh, dan lebih iri melihat pencapaian orang lain tanpa mengambil hikmah bagaimana perjuangan mereka untuk sampai pada tahap itu semua. Maka inti dari tulisan kali ini adalah ketika hidup kita hari ini kita jalani dengan sabar, ikhlas, dan penuh syukur, insya Allah ini akan menjadi masa yang memang kita inginkan, dan tidak akan pernah terbesit untuk “melarikan diri” ke masa apapun dalam rangka menghindari kenyataan saat ini. Sepahit apapun, selelah apapun, sesesak apapun, bismillah..kuatkan niat, do’a dan usaha untuk terus melangkah. Karena ada Allah yang selalu membersamai langkah kita semua. Bismillah....


VT_Oktha








Minggu, 31 Maret 2019

Bekal yang Utama



Beberapa hari ke belakang ketika aku masuk di salah satu kelas X Mipa, aku kembali teringat tentang bekal yang utama yang kuharap dapat semua peserta didik bawa. Alhamdulillah, Allah memberikan aku kesempatan untuk dapat mendidik dan berusaha menumbuhkan bekal itu pada peserta didikku, walaupun belum menyeluruh dan utuh. Bekal yang juga aku dapatkan dari banyak guru-guruku. Setiap guru-guru itu unik, dengan cara dan kekhasannya masing-masing dalam mendidik dan mengajar peserta didiknya. Namun aku yakin ada satu kesamaan dari semua keunikan itu, yang pada intinya ingin melihat peserta didiknya menjadi pribadi yang berhasil atau sukses. Dalam proses menuju kesana ada pondasi diri yang harus dibangun. Pondasi diri bagi pribadi mereka. Setiap peserta didik juga unik, dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun pondasi ini berlaku untuk semua keunikan itu. Bekal yang utama itu adalah “sikap yang baik”. Sikap baik itu dia
ntaranya adalah santun, sopan, jujur, semangat, dan optimis. Aku sering menekankan pada peserta didikku, bahwa yang menjadi penilaian utama dalam pelajaranku adalah perubahan atau kemajuan setiap peserta didik dalam pembelajaran. Seberapa maunya mereka untuk belajar, mau bersabar mengerjakan tugas dan menghafal atau mempersiapkan diri untuk ulangan atau ujian. Maka kejujuran dalam mengerjakan adalah harga mutlak yang aku tekankan pada mereka. Meski tidak kupungkiri hal itu mungkin belum sepenuhnya dapat diterapkan atau ditumbuhkan dalam diri mereka. Tetapi dimulai dari hal-hal yang kecil, yang mungkin aku ingatkan berulang-ulang kepada mereka, semoga ada yang menyentuh hati mereka dan dapat bertumbuh menjadi sikap yang baik, aamiin… .
Mengapa sikap baik ini penting? Bukan sekedar teori tetapi banyak bukti nyata pada kehidupan ini bahwa seseorang yang berhasil dalam hidupnya adalah orang-orang yang bukan hanya cerdas secara intelektual (IQ) tetapi secara emosional (EQ) dan spiritual (SQ). EQ dan SQ yang baik itu tergambar pada sikap yang baik.  Seseorang yang memiliki sikap yang baik, insya Allah akan mampu menghadapi berbagai rintangan apapun dalam hidupnya. Seseorang yang memiliki sikap yang baik, akan selalu membawa manfaat dalam setiap langkahnya. Sulit ataupun mudah, orang yang memiliki sikap yang baik akan menjalaninya dengan optimis. Orang yang memiliki sikap ini insya Allah akan mampu menjadi bagian dari solusi setiap masalah yang timbul kelak.  Sikap baik itu disebut karakter, akhlak yang mulia atau akhlakul kharimah.
Mungkin kita pernah mendengar ungkapan bahwa “orang bodoh kalah oleh orang pintar. Orang pintar kalah oleh orang yang beruntung”. Sebagai seorang muslim, tentu kita tahu bahwa salah satu indikator orang yang beruntung itu adalah orang yang bertakwa. Firman Allah swt, dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah : 189 yang artinya: “… dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”. Takwa adalah salah satu bukti bahwa seseorang memiliki sikap yang baik.  Maka kehidupan itu bukan soal keberuntungan yang acak, melainkan sepanjang kita memiliki sikap yang baik, insya Allah, Allah yang Maha Baik akan menuntun kita kearah yang baik (benar). Ketika aku duduk di bangku sekolah menengah pertama dan atas (smp dan sma), beberapa guruku pernah memberikan penjelasan yang intinya bahwa tidak semua orang pintar itu berhasil dalam hidupnya. Ada yang pintar, tetapi karena kurang teliti dan rapi maka gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi, dan menjadi kurang sehat akalnya (stress). Ada orang yang pintar, tetapi malah mengalami suatu kecelakaan, dll. Maka hal itupun menjadi candaan oleh beberapa temanku, ada yang bertanya kepadaku “gimana mau jadi orang pintar tapi celaka, atau orang biasa-biasa saja tetapi selamat?”, dan akupun menjawab “aku mau menjadi diriku sendiri”, hehe… Dalam artian semoga selalu Allah berikan kecerdasan dan keselamatan.

Maka itulah kenapa bekal yang utama yang tidak boleh aku lupakan sampai kapanpun dalam mengemban amanah sebagai pendidik adalah menumbuhkan dan memupuk sikap baik pada diri semua peserta didikku. Semoga bekal itu dapat menjadi bekal yang berharga, bermanfaat dan menyelamatkan kehidupan kami semua di dunia dan di akhirat kelak, aamiin ya rabb… .


VT_OKTA

Senin, 04 Februari 2019

tentang rantau


 Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

(Imam Syafii’, 767-820 M)

Dari kata mutiara di atas aku kembali tersadar, bahwa merantau menjadi bagian dari perjuangan para penuntut ilmu dan yang selalu berusaha mengabdi dan bermanfaat. Kata mutiara itu aku kutip dari salah satu novel karya A. Fuadi, dimana sebetulnya novel itu sudah aku punya dari tahun 2011, ketika aku masih di bangku SMA. Tetapi sekarang aku baru menyadari maknanya. Tarulah dalam arti ku sekarang bukan masalah jangkauan beda negara untuk merantaunya, atau bisa jadi belum, tetapi tetap tidak mengurangi maknanya. Aku agak sedikit merasa janggal setelah menulis tulisan ku sebelumnya yang didalamnya ada kalimat “takut menjadi terasing”. Berulang kali aku ingin menghapus atau mengeditnya, tetapi kuurungkan. Biarlah itu kemarin menjadi pengingat, untuk menjadi bahan bakar ke depannya. Langkah tidak selalu mudah, tetapi Allah selalu melimpahkan karunia dan pertolonganNya. Maka, bismillah sekarang aku paham, dan memang benar. Kalau kita mau jujur dan lebih membuka mata hati, betapa lebih banyak hal baik yang Allah titipkan kepada kita dibandingkan sedikit rasa ketakutan atau kekhawatiran apapun. Maka hati yang lapang bukanlah sesuatu yang hanya diucapkan, terlebih adalah sesuatu yang sungguh terasa dan terwujud dari hati yang selalu ikhlas dan ridho, serta tidak pernah lupa untuk bersyukur. Maka untuk segala amanah yang Allah masih percayakan kepada kita, dan Allah masih memberikan kita waktu untuk menunaikan amanah tersebut, insya Allah aku akan mensyukurinya dengan menjalankan dengan sungguh-sungguh dan melakukan yang terbaik karena Allah. Aku menyayangi banyak hal di setiap hari-hariku kini, terlebih Allah limpahkan kasih sayangnya dari hal-hal yang ku sayangi itu kembali menyayangiku dengan lebih. Maka selalu begitu, ketika semua yang kita sayangi adalah semata-mata agar Allah ridho dan sebagai bukti sayang kita kepada Allah, maka tanpa ada setitikpun ragu kasih sayang Allah pasti lebih membanjiri hati kita. Subhanallah...walhamdulillah... Benarlah pada hadist qudsi kurang lebih: “Jika kita mendekat kepada Allah sejengkal, Allah akan mendekat kepada kita sehasta. Jika kita mendekat kepada Allah dengan berjalan kaki, Allah akan mendekat kepada kita dengan berlari” Allahu akbar... subhanallah...walhamdulillah.....
Maka di sini aku insya Allah merupakan pribadi yang insya Allah siap untuk Allah tempatkan dimana saja. Aku pun kembali teringat bahwa do’aku dulu yang sering kupanjatkan diantaranya adalah “semoga Allah tempatkan ku di tempat yang terbaik menurut Allah, dan Allah memberikan aku kekuatan untuk melakukan yang terbaik di dalamnya,” aamiin....
 Btw luar negeri dulu merupakan sesuatu yang aku enggan untuk pergi kesana (studi misalnya kuliah), dulu ku bilang “aku tidak melihat impianku di luar sana” dan dengan alibi bahwa orang tuaku tidak mau aku jauh (kecuali ada yang tanggung jawab, a.ka suami, hehe). Selanjutnya aku pun pada fase yang bilang, semoga Mekah adalah luar negeri yang pertama kali kupijak (dalam artian menunaikan ibadah umrah/haji), baru kemudian negara  lainnya (alhamdulillah Allah kabulkan untuk Mekah). Selanjutnya tahap dimana aku ingin “bisa ke luar negeri untuk mewakili atau dengan alasan pelatihan guru di Jepang, misalnya”. Sampai juga aku ingin double degree di upi dan hiroshima university dengan konsekuensi aku harus ambil pend. Ipa bukan pend. Fisika (maka aku pun sempat menjadi pejuang LPDP untuk pend. IPA), hehe... Sampai tahap sekarang sesederhana aku melihat gunung dari sepeda motor yang kukendarai ketika aku akan menuju ke sekolah tempatku mengajar, aku membayangkan bahwa suatu hari adalah gunung Fuji yang aku lihat, hehehe... Aku pun sempat sedikit terhenyak, seorang kakak tingkat ku bilang kepadaku bahwa salah satu negara yang akan ia ingin jadikan tempat melanjutkan studi adalah Mesir (disitu kenapa aku terhenyak karena dulu aku pun begitu ingin ke Mesir, ke Al-Azhar meski aku belum tau jurusan sainsnya disana bagaimana, tetapi aku ingin karena termotovasi a.k.a kebita dari novel-novelnya kang Abik, hehe). Benua biru, juga merupakan salah satu status seseorang yang dulu aku sering stalkingin medsosnya ketika aku SMA dan kuliah S1, hehe.. Bahkan Univ. Harvard dan MIT merupakan dua universitas yang diinginkan oleh kedua sahabat baikku. Dipikir-pikir mimpi-mimpi itu sempat terurai, meski belum kini kita sampai. Karena satu dan lain hal. Tapi aku percaya, bahwa Allah selalu menjawab do’a kita dan memberikan hikmah dibalik itu semua. Dari novel teman imaji bilang “jawaban do’a selalu iya: iya sekarang, iya tapi nanti, atau iya tapi yang lain”. Namun kesemua itu kuyakin intinya aku ingin “pergi untuk kembali”, kembali untuk negeriku, maka begitu pula dengan kampung halamanku. Semoga suatu saat aku pun dapat kembali ke kampung halamanku dengan membawa kemanfaatan dari ilmu dan pengalaman yang aku dapatkan dari luar kampung halamanku. Walau dengan apapun nanti caranya, baik cara yang besar ataupun cara yang sederhana. Karena motovasi terbesarku sebenarnya adalah dulu aku sekolah di daerah, aku merasa ketinggalan ini itu dan pada beberapa hal merasakan diskriminasi ketika lomba, hehe.. juga merasa amat gereget karena teman-temanku yang mencintai ilmu tetapi belum bisa kuliah, karena hal ini dan itu yang menurutku andai saja dari pihak sekolah ada yang membantu memperjuangkan atau memberikan jalan, mungkin insya Allah akan ada jalan yang lebih baik untuk pendidikan mereka. Maka dari dulu misi aku salah satunya adalah untuk hal itu, jika ku kembali ke kampung halamanku. Namun alhamdulillah, sepertinya sedikit banyak sekarang sekolah di daerah ku sudah semakin maju. Sehingga mungkin lahan aku untuk berbakti belum saatnya disana. Maka disinilah di sekolah ku yang sekarang, aku menemukan begitu banyak mutiara dan pengalaman yang tidak mungkin bisa ku temukan jika di tempat lain (insya Allah suatu hari kuceritakan). Maka, alhamdulillahi rabbil ‘alamiin... alhamdulillah ‘ala kulli hal...

Semoga Alllah senantiasa meridhoi langkah kita semua, dan senantiasa menjadikan kita hamba Allah yang tidak lelah menggapai impian-impian kita, aamiin....

(VT_OKTA)

Minggu, 27 Januari 2019

dimanapun itu


Alhamdulillah, sudah memasuki tahun 2019, lepas 27 hari yang lalu. Tahun ini diantara tahun yang semoga menjadi momentum pencaian kami yang penuh berkah dari Allah, aamiin...

Alhamdulillah.... Allah senantiasa memberikan rahmat dan pertolonganNya kepadaku hingga aku dapat Allah mampukan menjalankan dua peran sebagai mahasiswa dan pendidik. Alhamdulillah, Allah kabulkan cita-citaku yang sederhana ini, yaitu dapat belajar mengamalkan ilmuku disamping menimba ilmu di  bangku kuliah lagi. Serta dengan penuh keselamatan dan kemurahan dari Allah, segalanya berjalan lancar. Di sekolah, aku memiliki keluarga yang sangat hangat. Guru-guru semuanya saling ramah tamah, saling mendo’akan, bercanda ria, dan senantiasa mewarnai hari-hariku. Peserta didikku yang sangat luar biasa beragam, dengan kekhasannya masing-masing. Mereka juga yang selalu membuat hari-hariku tidak pernah kehilangan senyuman, semangat dan do’a. Di kampus, alhamdulillah aku menemukan keluarga juga. Sahabat yang sebagian besar usianya hampir sebaya membuat kita menjadi semakin solid dan satu ritme untuk berjuang dalam perkuliahan ini. Dosen-dosen pun senantiasa menjadi figur yang teladan. Tidak ketinggalan pula, dengan berbagai kekhasan dosen, bahkan ada drama juga. Tapi alhamdulillah, dari itu semua merupakan cerita yang amat lengkap dan memesona. Walaupun aku berkali-kali merasa bahwa aku belum optimal di kedua tempat itu (kampus dan sekolah), tetapi berulang kali pula aku tersadar bahwa semuanya adalah anugrah yang indah dari Allah.

Tahun pertama yang dirasa agak cukup berat, dimana adaptasi di kedua tempat dengan kedua amanah yang berbeda, alhamdulillah, Allah kuatkan dan lancarkan. Hingga tahun kedua ini khususnya di sekolah aku merasa lebih dapat seirama dengan semuanya. Dan di semester akhir ini insya Allah aku dan teman-teman kuliahku akan berjuang untuk menyusun tugas akhir kami. Entah apakah ini juga akan menjadi tahun terakhirku di sekolah juga atau tidak. Jujur saja aku tidak mau meninggalkan sekolahku kini dengan begitu saja. Aku ingin bisa menjadi bagian dari sekolah ini untuk waktu yang cukup. Tetapi di sisi lain aku pun belum bisa memastikan. Karena ada impian dalam hatiku yang ingin menjadi bagian dari sekolah islam (misalnya pesantren ataupun sekolah islam), misalnya di salah satu sekolah di daerah ku besaral.  Aku ingin bisa menjadi pendidik di daerah ku. Aku agak sedih pas kumpul MGMP dulu, ketika ditanya asal dan aku bukanlah orang di kota tempatku mengajar, seolah diabaikan begitu saja. Aku hanya orang asing di sini yang tidak akan lama disini. Maka tidak bisa dan tidak perlu terlalu kenal. Sebenarnya dulu juga itu sempat kupikirkan. Kenapa aku tidak pernah bertanya tentang MGMP kota ku kini mengajar adalah diantara alasan bahwa aku tidak akan terlalu lama mengajar di sana, jadi aku rasa tidak perlu masuk ke dalamnya. Tetapi ternyata bisa sesakit ini rasanya. Aku takut, aku pulang terasing. Aku di kota orang pun sampai sekarang masih terasing. Aku harus kemana lagi? Aku hanya ingin dimanapun aku berada adalah Allah senantiasa meridhaiku. Sebetulnya ada proposal yang telah Allah tahu betul kalau tahun ini aku ingin Allah pertemukan aku dengan imamku. Tetapi saat ini bukannya aku pesimis, aku akan mencoba untuk lebih membesarkan hatiku dan tidak egois. Aku tidak akan minta hal yang terlalu mendikte lagi. Aku pasrah kepada Allah, karena manusia itu banyak terbatasnya, sedangkan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Aku pasrah tetapi tetap akan senantiasa berusaha dan berdo’a yang terbaik untukku, keluargaku, guru-guruku, dan semua peserta didikku. "Engkau Maha Tahu ya Allah segala harap dan ketakutan kami, kami memohon ampunilah segala dosa-dosa kami. Tuntunlah kami selalu agar ada dalam keridhoanMu, tuntunlah kami agar kami senantiasa amanah terhadap setiap amanah yang Kau titipkan kepada kami, sukseskanlah dan barokahkanlah kami, keluarga kami, dan orang-orang di sekeliling kami, sebagai apapun kami, aamiin..."

Bismillah, alhamdulillah, lahaula wala quwwata illa billah...


VT_OKTA

Sabtu, 24 November 2018

Teruntuk Para Pemilik Wajah Ceria

Jalan membentang di depan mata

Pilihan hidup yang tidak sederhana
Kupilih langkah menuju kesana,
Menghampiri para pemilik wajah ceria....
                Bukan tentang fisika yang menjadi utama
                Melainkan harap agar mereka terus bertumbuh dan mulai menata jati diri
                Hingga kelak uniknya setiap wajah itu mampu pancarkan cahaya dan
                semerbakan harum 
                Warnai hari di masa depan sana...
Para pemilik wajah ceria itu adalah kalian, peserta didik kami semua...
Waktu-waktu yang telah diuntai di bangku sekolah
Semoga di dalamnya dapat kalian petik
hal-hal baik yang senantiasa kami coba semaikan
Esok mentari mungkin tetap sama
Tetapi jalan kalian akan beraneka rupa           
Berpeganglah selalu pada Tuhan yang Maha Kuasa
Berjalanlah selalu dengan ilmu yang telah kalian bawa
Do’a kami para pendidik semoga tertanam kuat akhlak mulia
Bahagianya kalian semua di depan sana
adalah kesyukuran bagi kami yang tiada terkira...




                                                                                                                  VT_OKTA
"Selamat Hari Guru Nasional, 25 November 2018"