Minggu, 31 Maret 2019

Bekal yang Utama



Beberapa hari ke belakang ketika aku masuk di salah satu kelas X Mipa, aku kembali teringat tentang bekal yang utama yang kuharap dapat semua peserta didik bawa. Alhamdulillah, Allah memberikan aku kesempatan untuk dapat mendidik dan berusaha menumbuhkan bekal itu pada peserta didikku, walaupun belum menyeluruh dan utuh. Bekal yang juga aku dapatkan dari banyak guru-guruku. Setiap guru-guru itu unik, dengan cara dan kekhasannya masing-masing dalam mendidik dan mengajar peserta didiknya. Namun aku yakin ada satu kesamaan dari semua keunikan itu, yang pada intinya ingin melihat peserta didiknya menjadi pribadi yang berhasil atau sukses. Dalam proses menuju kesana ada pondasi diri yang harus dibangun. Pondasi diri bagi pribadi mereka. Setiap peserta didik juga unik, dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun pondasi ini berlaku untuk semua keunikan itu. Bekal yang utama itu adalah “sikap yang baik”. Sikap baik itu dia
ntaranya adalah santun, sopan, jujur, semangat, dan optimis. Aku sering menekankan pada peserta didikku, bahwa yang menjadi penilaian utama dalam pelajaranku adalah perubahan atau kemajuan setiap peserta didik dalam pembelajaran. Seberapa maunya mereka untuk belajar, mau bersabar mengerjakan tugas dan menghafal atau mempersiapkan diri untuk ulangan atau ujian. Maka kejujuran dalam mengerjakan adalah harga mutlak yang aku tekankan pada mereka. Meski tidak kupungkiri hal itu mungkin belum sepenuhnya dapat diterapkan atau ditumbuhkan dalam diri mereka. Tetapi dimulai dari hal-hal yang kecil, yang mungkin aku ingatkan berulang-ulang kepada mereka, semoga ada yang menyentuh hati mereka dan dapat bertumbuh menjadi sikap yang baik, aamiin… .
Mengapa sikap baik ini penting? Bukan sekedar teori tetapi banyak bukti nyata pada kehidupan ini bahwa seseorang yang berhasil dalam hidupnya adalah orang-orang yang bukan hanya cerdas secara intelektual (IQ) tetapi secara emosional (EQ) dan spiritual (SQ). EQ dan SQ yang baik itu tergambar pada sikap yang baik.  Seseorang yang memiliki sikap yang baik, insya Allah akan mampu menghadapi berbagai rintangan apapun dalam hidupnya. Seseorang yang memiliki sikap yang baik, akan selalu membawa manfaat dalam setiap langkahnya. Sulit ataupun mudah, orang yang memiliki sikap yang baik akan menjalaninya dengan optimis. Orang yang memiliki sikap ini insya Allah akan mampu menjadi bagian dari solusi setiap masalah yang timbul kelak.  Sikap baik itu disebut karakter, akhlak yang mulia atau akhlakul kharimah.
Mungkin kita pernah mendengar ungkapan bahwa “orang bodoh kalah oleh orang pintar. Orang pintar kalah oleh orang yang beruntung”. Sebagai seorang muslim, tentu kita tahu bahwa salah satu indikator orang yang beruntung itu adalah orang yang bertakwa. Firman Allah swt, dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah : 189 yang artinya: “… dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”. Takwa adalah salah satu bukti bahwa seseorang memiliki sikap yang baik.  Maka kehidupan itu bukan soal keberuntungan yang acak, melainkan sepanjang kita memiliki sikap yang baik, insya Allah, Allah yang Maha Baik akan menuntun kita kearah yang baik (benar). Ketika aku duduk di bangku sekolah menengah pertama dan atas (smp dan sma), beberapa guruku pernah memberikan penjelasan yang intinya bahwa tidak semua orang pintar itu berhasil dalam hidupnya. Ada yang pintar, tetapi karena kurang teliti dan rapi maka gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi, dan menjadi kurang sehat akalnya (stress). Ada orang yang pintar, tetapi malah mengalami suatu kecelakaan, dll. Maka hal itupun menjadi candaan oleh beberapa temanku, ada yang bertanya kepadaku “gimana mau jadi orang pintar tapi celaka, atau orang biasa-biasa saja tetapi selamat?”, dan akupun menjawab “aku mau menjadi diriku sendiri”, hehe… Dalam artian semoga selalu Allah berikan kecerdasan dan keselamatan.

Maka itulah kenapa bekal yang utama yang tidak boleh aku lupakan sampai kapanpun dalam mengemban amanah sebagai pendidik adalah menumbuhkan dan memupuk sikap baik pada diri semua peserta didikku. Semoga bekal itu dapat menjadi bekal yang berharga, bermanfaat dan menyelamatkan kehidupan kami semua di dunia dan di akhirat kelak, aamiin ya rabb… .


VT_OKTA

Senin, 04 Februari 2019

tentang rantau


 Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

(Imam Syafii’, 767-820 M)

Dari kata mutiara di atas aku kembali tersadar, bahwa merantau menjadi bagian dari perjuangan para penuntut ilmu dan yang selalu berusaha mengabdi dan bermanfaat. Kata mutiara itu aku kutip dari salah satu novel karya A. Fuadi, dimana sebetulnya novel itu sudah aku punya dari tahun 2011, ketika aku masih di bangku SMA. Tetapi sekarang aku baru menyadari maknanya. Tarulah dalam arti ku sekarang bukan masalah jangkauan beda negara untuk merantaunya, atau bisa jadi belum, tetapi tetap tidak mengurangi maknanya. Aku agak sedikit merasa janggal setelah menulis tulisan ku sebelumnya yang didalamnya ada kalimat “takut menjadi terasing”. Berulang kali aku ingin menghapus atau mengeditnya, tetapi kuurungkan. Biarlah itu kemarin menjadi pengingat, untuk menjadi bahan bakar ke depannya. Langkah tidak selalu mudah, tetapi Allah selalu melimpahkan karunia dan pertolonganNya. Maka, bismillah sekarang aku paham, dan memang benar. Kalau kita mau jujur dan lebih membuka mata hati, betapa lebih banyak hal baik yang Allah titipkan kepada kita dibandingkan sedikit rasa ketakutan atau kekhawatiran apapun. Maka hati yang lapang bukanlah sesuatu yang hanya diucapkan, terlebih adalah sesuatu yang sungguh terasa dan terwujud dari hati yang selalu ikhlas dan ridho, serta tidak pernah lupa untuk bersyukur. Maka untuk segala amanah yang Allah masih percayakan kepada kita, dan Allah masih memberikan kita waktu untuk menunaikan amanah tersebut, insya Allah aku akan mensyukurinya dengan menjalankan dengan sungguh-sungguh dan melakukan yang terbaik karena Allah. Aku menyayangi banyak hal di setiap hari-hariku kini, terlebih Allah limpahkan kasih sayangnya dari hal-hal yang ku sayangi itu kembali menyayangiku dengan lebih. Maka selalu begitu, ketika semua yang kita sayangi adalah semata-mata agar Allah ridho dan sebagai bukti sayang kita kepada Allah, maka tanpa ada setitikpun ragu kasih sayang Allah pasti lebih membanjiri hati kita. Subhanallah...walhamdulillah... Benarlah pada hadist qudsi kurang lebih: “Jika kita mendekat kepada Allah sejengkal, Allah akan mendekat kepada kita sehasta. Jika kita mendekat kepada Allah dengan berjalan kaki, Allah akan mendekat kepada kita dengan berlari” Allahu akbar... subhanallah...walhamdulillah.....
Maka di sini aku insya Allah merupakan pribadi yang insya Allah siap untuk Allah tempatkan dimana saja. Aku pun kembali teringat bahwa do’aku dulu yang sering kupanjatkan diantaranya adalah “semoga Allah tempatkan ku di tempat yang terbaik menurut Allah, dan Allah memberikan aku kekuatan untuk melakukan yang terbaik di dalamnya,” aamiin....
 Btw luar negeri dulu merupakan sesuatu yang aku enggan untuk pergi kesana (studi misalnya kuliah), dulu ku bilang “aku tidak melihat impianku di luar sana” dan dengan alibi bahwa orang tuaku tidak mau aku jauh (kecuali ada yang tanggung jawab, a.ka suami, hehe). Selanjutnya aku pun pada fase yang bilang, semoga Mekah adalah luar negeri yang pertama kali kupijak (dalam artian menunaikan ibadah umrah/haji), baru kemudian negara  lainnya (alhamdulillah Allah kabulkan untuk Mekah). Selanjutnya tahap dimana aku ingin “bisa ke luar negeri untuk mewakili atau dengan alasan pelatihan guru di Jepang, misalnya”. Sampai juga aku ingin double degree di upi dan hiroshima university dengan konsekuensi aku harus ambil pend. Ipa bukan pend. Fisika (maka aku pun sempat menjadi pejuang LPDP untuk pend. IPA), hehe... Sampai tahap sekarang sesederhana aku melihat gunung dari sepeda motor yang kukendarai ketika aku akan menuju ke sekolah tempatku mengajar, aku membayangkan bahwa suatu hari adalah gunung Fuji yang aku lihat, hehehe... Aku pun sempat sedikit terhenyak, seorang kakak tingkat ku bilang kepadaku bahwa salah satu negara yang akan ia ingin jadikan tempat melanjutkan studi adalah Mesir (disitu kenapa aku terhenyak karena dulu aku pun begitu ingin ke Mesir, ke Al-Azhar meski aku belum tau jurusan sainsnya disana bagaimana, tetapi aku ingin karena termotovasi a.k.a kebita dari novel-novelnya kang Abik, hehe). Benua biru, juga merupakan salah satu status seseorang yang dulu aku sering stalkingin medsosnya ketika aku SMA dan kuliah S1, hehe.. Bahkan Univ. Harvard dan MIT merupakan dua universitas yang diinginkan oleh kedua sahabat baikku. Dipikir-pikir mimpi-mimpi itu sempat terurai, meski belum kini kita sampai. Karena satu dan lain hal. Tapi aku percaya, bahwa Allah selalu menjawab do’a kita dan memberikan hikmah dibalik itu semua. Dari novel teman imaji bilang “jawaban do’a selalu iya: iya sekarang, iya tapi nanti, atau iya tapi yang lain”. Namun kesemua itu kuyakin intinya aku ingin “pergi untuk kembali”, kembali untuk negeriku, maka begitu pula dengan kampung halamanku. Semoga suatu saat aku pun dapat kembali ke kampung halamanku dengan membawa kemanfaatan dari ilmu dan pengalaman yang aku dapatkan dari luar kampung halamanku. Walau dengan apapun nanti caranya, baik cara yang besar ataupun cara yang sederhana. Karena motovasi terbesarku sebenarnya adalah dulu aku sekolah di daerah, aku merasa ketinggalan ini itu dan pada beberapa hal merasakan diskriminasi ketika lomba, hehe.. juga merasa amat gereget karena teman-temanku yang mencintai ilmu tetapi belum bisa kuliah, karena hal ini dan itu yang menurutku andai saja dari pihak sekolah ada yang membantu memperjuangkan atau memberikan jalan, mungkin insya Allah akan ada jalan yang lebih baik untuk pendidikan mereka. Maka dari dulu misi aku salah satunya adalah untuk hal itu, jika ku kembali ke kampung halamanku. Namun alhamdulillah, sepertinya sedikit banyak sekarang sekolah di daerah ku sudah semakin maju. Sehingga mungkin lahan aku untuk berbakti belum saatnya disana. Maka disinilah di sekolah ku yang sekarang, aku menemukan begitu banyak mutiara dan pengalaman yang tidak mungkin bisa ku temukan jika di tempat lain (insya Allah suatu hari kuceritakan). Maka, alhamdulillahi rabbil ‘alamiin... alhamdulillah ‘ala kulli hal...

Semoga Alllah senantiasa meridhoi langkah kita semua, dan senantiasa menjadikan kita hamba Allah yang tidak lelah menggapai impian-impian kita, aamiin....

(VT_OKTA)

Minggu, 27 Januari 2019

dimanapun itu


Alhamdulillah, sudah memasuki tahun 2019, lepas 27 hari yang lalu. Tahun ini diantara tahun yang semoga menjadi momentum pencaian kami yang penuh berkah dari Allah, aamiin...

Alhamdulillah.... Allah senantiasa memberikan rahmat dan pertolonganNya kepadaku hingga aku dapat Allah mampukan menjalankan dua peran sebagai mahasiswa dan pendidik. Alhamdulillah, Allah kabulkan cita-citaku yang sederhana ini, yaitu dapat belajar mengamalkan ilmuku disamping menimba ilmu di  bangku kuliah lagi. Serta dengan penuh keselamatan dan kemurahan dari Allah, segalanya berjalan lancar. Di sekolah, aku memiliki keluarga yang sangat hangat. Guru-guru semuanya saling ramah tamah, saling mendo’akan, bercanda ria, dan senantiasa mewarnai hari-hariku. Peserta didikku yang sangat luar biasa beragam, dengan kekhasannya masing-masing. Mereka juga yang selalu membuat hari-hariku tidak pernah kehilangan senyuman, semangat dan do’a. Di kampus, alhamdulillah aku menemukan keluarga juga. Sahabat yang sebagian besar usianya hampir sebaya membuat kita menjadi semakin solid dan satu ritme untuk berjuang dalam perkuliahan ini. Dosen-dosen pun senantiasa menjadi figur yang teladan. Tidak ketinggalan pula, dengan berbagai kekhasan dosen, bahkan ada drama juga. Tapi alhamdulillah, dari itu semua merupakan cerita yang amat lengkap dan memesona. Walaupun aku berkali-kali merasa bahwa aku belum optimal di kedua tempat itu (kampus dan sekolah), tetapi berulang kali pula aku tersadar bahwa semuanya adalah anugrah yang indah dari Allah.

Tahun pertama yang dirasa agak cukup berat, dimana adaptasi di kedua tempat dengan kedua amanah yang berbeda, alhamdulillah, Allah kuatkan dan lancarkan. Hingga tahun kedua ini khususnya di sekolah aku merasa lebih dapat seirama dengan semuanya. Dan di semester akhir ini insya Allah aku dan teman-teman kuliahku akan berjuang untuk menyusun tugas akhir kami. Entah apakah ini juga akan menjadi tahun terakhirku di sekolah juga atau tidak. Jujur saja aku tidak mau meninggalkan sekolahku kini dengan begitu saja. Aku ingin bisa menjadi bagian dari sekolah ini untuk waktu yang cukup. Tetapi di sisi lain aku pun belum bisa memastikan. Karena ada impian dalam hatiku yang ingin menjadi bagian dari sekolah islam (misalnya pesantren ataupun sekolah islam), misalnya di salah satu sekolah di daerah ku besaral.  Aku ingin bisa menjadi pendidik di daerah ku. Aku agak sedih pas kumpul MGMP dulu, ketika ditanya asal dan aku bukanlah orang di kota tempatku mengajar, seolah diabaikan begitu saja. Aku hanya orang asing di sini yang tidak akan lama disini. Maka tidak bisa dan tidak perlu terlalu kenal. Sebenarnya dulu juga itu sempat kupikirkan. Kenapa aku tidak pernah bertanya tentang MGMP kota ku kini mengajar adalah diantara alasan bahwa aku tidak akan terlalu lama mengajar di sana, jadi aku rasa tidak perlu masuk ke dalamnya. Tetapi ternyata bisa sesakit ini rasanya. Aku takut, aku pulang terasing. Aku di kota orang pun sampai sekarang masih terasing. Aku harus kemana lagi? Aku hanya ingin dimanapun aku berada adalah Allah senantiasa meridhaiku. Sebetulnya ada proposal yang telah Allah tahu betul kalau tahun ini aku ingin Allah pertemukan aku dengan imamku. Tetapi saat ini bukannya aku pesimis, aku akan mencoba untuk lebih membesarkan hatiku dan tidak egois. Aku tidak akan minta hal yang terlalu mendikte lagi. Aku pasrah kepada Allah, karena manusia itu banyak terbatasnya, sedangkan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Aku pasrah tetapi tetap akan senantiasa berusaha dan berdo’a yang terbaik untukku, keluargaku, guru-guruku, dan semua peserta didikku. "Engkau Maha Tahu ya Allah segala harap dan ketakutan kami, kami memohon ampunilah segala dosa-dosa kami. Tuntunlah kami selalu agar ada dalam keridhoanMu, tuntunlah kami agar kami senantiasa amanah terhadap setiap amanah yang Kau titipkan kepada kami, sukseskanlah dan barokahkanlah kami, keluarga kami, dan orang-orang di sekeliling kami, sebagai apapun kami, aamiin..."

Bismillah, alhamdulillah, lahaula wala quwwata illa billah...


VT_OKTA

Sabtu, 24 November 2018

Teruntuk Para Pemilik Wajah Ceria

Jalan membentang di depan mata

Pilihan hidup yang tidak sederhana
Kupilih langkah menuju kesana,
Menghampiri para pemilik wajah ceria....
                Bukan tentang fisika yang menjadi utama
                Melainkan harap agar mereka terus bertumbuh dan mulai menata jati diri
                Hingga kelak uniknya setiap wajah itu mampu pancarkan cahaya dan
                semerbakan harum 
                Warnai hari di masa depan sana...
Para pemilik wajah ceria itu adalah kalian, peserta didik kami semua...
Waktu-waktu yang telah diuntai di bangku sekolah
Semoga di dalamnya dapat kalian petik
hal-hal baik yang senantiasa kami coba semaikan
Esok mentari mungkin tetap sama
Tetapi jalan kalian akan beraneka rupa           
Berpeganglah selalu pada Tuhan yang Maha Kuasa
Berjalanlah selalu dengan ilmu yang telah kalian bawa
Do’a kami para pendidik semoga tertanam kuat akhlak mulia
Bahagianya kalian semua di depan sana
adalah kesyukuran bagi kami yang tiada terkira...




                                                                                                                  VT_OKTA
"Selamat Hari Guru Nasional, 25 November 2018"

Sabtu, 08 September 2018

Dua Jalan


فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا ٨
8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya
Dua jalan yang berbeda sebagaimana yang disebutkan di atas. Ini menjadikan kita sebagai manusia diberikan pilihan oleh Allah, akan menempuh jalan fasik atau takwa. Allah hanya meridhoi jalan ketakwaan. Tinggal manusianya itu sendiri, sungguhkan ingin dan mampu untuk menuju keridhoanNya, atau justru memilih sebaliknya. Dua keadaan yang apabila kita tidak berada di salah satunya, maka kita ada di sisi satu yang lain. Tidak mungkin ada seseorang yang mengaku diridhoi Allah tetapi menempuh jalan yang fasik. Jalan takwa itu mungkin tidak mudah, bahkan mendaki dan sukar. Sebagaimana firman Allah pada surat AL-Balad:
وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ١٠  فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ١١
10. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)
11. Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.
Maka jika kita ingin meraih keridhoan Allah, ingin disayangi Allah, mari kita tempuh jalan ketakwaan (kebajikan), meski jalan itu mendaki dan sukar. Tidak mudah, bahkan mungkin membuat ingin menyerah, ingin mencari jalan yang ringan-ringan saja, jangan kalah. Karena layaknya mendaki gunung yang tinggi dan perjalanan menuju kesana yang tidak mudah dan cukup berat, tetapi jika kita terus mendaki maka insya Allah akan kita dapati pemandangan yang menakjubkan, udara yang sungguh tak terkatakan, dan rasa syukur yang tak dapat dinilai. Begitu pula dengan pendakian di jalan ketakwaan ini, teruslah mendaki, walau mungkin nanti kita akan merasakan kerikil-kerikil tajam godaan, bebatuan ujian, insya Allah yakin kelak kita akan Allah sampaikan untuk dapat melihat “wajah” Allah, rasa hangat dekapan keridhoanNya, dan rasa syukur yang diterima oleh Nya. Aamiin ya rabbal ‘alamiin...
Selalulah waspada dan renungi dirimu sedang ada di jalan yang mana?


Wallahu 'alam bishawab..
                                                                                                        VT_oktha




Selasa, 12 Juni 2018

Kelembutan Hati


Alhamdulillah, pagi ini Allah kembali menghangatkan hatiku. Aku baru sadar ternyata selama ini diantara yang membuatku merasa tidak menjadi lebih baik dan bahkan sering merasa turun iman, adalah karena beberapa hal, diantaranya tentang kelembutan hati. Hatiku masih menyimpan rasa ragu dan bimbang, bahkan kurang syukur atas karunia yang Allah berikan kepadaku. Raguku timbul dengan cara berdo’a yang tidak sungguh-sunggguh. Aku sering berprangsaka bahwa kebaikan yang kini diterima oleh sahabat-sahabatku dan kaka tingkatku adalah berkat kekuatan do’a mereka dan kedua orang tua mereka serta orang-orang yang tulus menyayangi mereka. Sementara dengan do’aku sendiri, tanpa sadar sesungguhnya itu berarti aku kurang kuat dalam berdo’a, dalam artian memohon padaNya pada waktu yang mustajab dan dengan cara yang tepat. Aku sering melalaikan ketika waktu-waktu istimewa yang Allah sediakan untuk mendengar untaian do’a hambaNya dengan lebih  dekat dengan pengabulan, aku tak menghiraukan cara yang seharusnya dapat lebih menggetarkan arasyNya yaitu dengan khusyuk dan sungguh-sungguh, betapa ruginya aku dan betapa lalainya aku, astagfirullah.... Aku sering bimbang dalam mengambil keputusan dan meyakini apakah keputusan yang kuambil  benar, mungkin karena aku jarang melibatkan Allah dalam pengambilan keputusan. Bila diresapi sungguh-sungguh, berapakah kiranya waktuku yang aku dedikasikan, yang aku lakukan karena, bersama, dan untuk Allah? Sungguh amat lalainya hatiku. Bagaimana mau disebut hamba Allah yang sejati? Kurang syukur muncul mungkin disebabkan pembandingan yang aku buat, dengan selalu melihat ke atas dan meratapi apa-apa yang belum ada padaku, padahal berbagai nikmat dan karuniaNya sungguh banyak kepadaku. Selain itu, kurang amanat juga merupakan bukti kekurang syukuranku. Banyak amanat yang kurasa aku lakukan dengan sekenanya, dan bahkan aku lewatkan begitu saja. Padahal dahulu ketika menjadi pendidik baru sebatas impian yang belum bisa diraih, betapa hati ini rindu dan memohon dengan penuh harap ingin diberikan kesempatan dapat menjadi bagian dari pendidikan, dapat memiliki murid yang bisa dibimbing dan sharing ilmu, sehingga menjadi ilmu yang berkah. Fasilitias kemudahan sumber informasi yang membuat segala ilmu mudah didapatkan nyatanya hanya menjadi sumber hiburan bagiku, yang dengan alibi bahwa tidak ada sumber hiburan selain dari padanya untuk saat-saat aku di kostan. Padahal buku adalah jendela ilmu yang lebih aman dan terfokus serta luasnya ilmu Fisika yang belum sungguh-sungguh dan banyak yang belum aku pahami, lalu bagaimana bisa aku ingin menjadi pendidik fisika yang profesional? Astagfirullah... 

Bismillah... aku akan mulai dari hari ini. Ramadhan tahun ini akan membawa perubahan besar bagiku. Modal untukku sungguh-sungguh kembali pada haluanNya. Kembali dengan yakin, dengan istikomah, dan dengan kesyukuran atas amanah dari Nya. Semoga Allah selalu melembutkan hati kita semua, aamiin.


Lahaula wala quwata illa billah...

Sabtu, 02 Juni 2018

Baik


18 Ramadhan 1439 H

Bismillah....
Tentang baik, bukan sekedar banyak...


ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ ٢
2. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun

Pada ayat Al-Qur’an di atas, Allah menyatakan kata “yang lebih baik amalnya”. Kenapa ya baik yang digunakan, bukan banyak? Baik merupakan kata yang menyatakan kualitas, bukan kuantitas. Dalam hal ini, yang ditekankan adalah cara. Cara yang baik. Amal yang baik. Walaupun bisa juga baik itu karena banyak.

Marilah kita coba memahami salah satu ayat di atas dari hal sederhana yang sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Alhamdulillah, bulan Juni ini merupakan diantara bulan yang baru saja terlibur dari berbagai ujian, untuk siswa-siswa sekolah dan begitu pula mahasiswa. Walaupun untukku sendiri, masih ada ujian yang belum selesai karena takehome, hehe.. Baik kita lanjutkan, kenapa membahas ujian? Karena disini kita akan menemui kata baik dan banyak.

Ketika ujian tentunya hasil merupakan suatu yang diharapkan akan bernilai baik dengan nilai yang banyak (besar). Setiap orang yang melakukan ujian tentu ingin lulus dari ujian tersebut dengan hasil yang baik. Maka setiap orang yang ujian akan melakukan usaha dan do’a yang seharusnya “terbaik” yang bisa dilakukannya. Namun, ada masanya setiap orang itu diuji sebelum ujian itu sendiri, yaitu dengan berbagai kegiatan lain atau ganggguan lain, atau mungkin alasan dari dalam diri sendiri yang membuat ia tidak mampu belajar dan berdo’a secara optimal. Maka pada pelaksanaanya, berbuat kecurangan adalah pilihan terdesaknya. Bahkan ada juga kasus bahwa ia sudah belajar dan berdo’a yang terbaiknya, tetapi pada saat pelaksanaannya ia menemui sedikit keraguan, dan ia tidak sungkan untuk saling berdiskusi dengan temannya. Walau hanya sedikit. Nampaknya kecurangan ini sudah dianggap hal yang ladzim bagi sebagian orang. Astagfirullah... Bahkan hampir semua tingkatan pendidikan, terdapat kecurangan di dalamnya. Lantas bagaimana esensi dari ujian itu sendiri? Apanya yang akan teruji? Betapa hal ini tampak sederhana tetapi sangat mendasar. Bayangkan berapa banyak orang yang tadinya berusaha dan berdo’a dengan jujur dan terbaik, tiba-tiba terpatah hatikan ketika banyak yang melakukan kecurangan? Parahnya dan bahayanya, ia ikut tergoda untuk melakukan kecurangan itu juga karena takut jika nanti merugi sendiri dengan nilai yang kecil. Amat benarlah sebuah pepatah bijak yang mengatakan bahwa “orang pintar itu banyak, tetapi sedikit yang jujur.” Padahal kita sebagai orang yang beriman yakin bahwa ada yang Maha Melihat yang selalu mengawasi kita. Kata salah satu dosen ku dulu ketika di UIN, “jika kita melakukan hal yang bertentangan dengan ketentuan Allah, sesungguhnya kita sedang “mematikan” Allah pada saat itu”, naudzubillah.... Astagfirullah... Ampunilah kami ya Allah...

Maka kembali lagi pada berusaha memaknai ayat 2 surah Al-Mulk di atas, kita manusia akan diuji dengan kehidupan dan kematian yang disana Allah akan melihat siapa yang lebih baik amalnya. Maka, cara adalah hal yang amat penting disini. Hasil sebesar apapun yang kita raih bila dengan cara yang tidak baik maka tidak akan bernilai di mata Allah, bahkan bisa jadi menjadi bernilai negatif. Maka, marilah kita perbaharui diri kita, walaupun nampaknya sederhana dan hal kecil, ternyata berani bersikap jujur itu bukan hanya perintah manusia dan penilaian manusia, tetapi juga penilaian Allah, bahkan sejatinya adalah perintah Allah. Perkara dunia juga ada dalam gengaman Allah, kita yakin bahwa Allah Maha Melihat, melihat  betapa sungguh-sungguhnya kita belajar, berupaya, dan berdo’a, maka hasil apapun nanti adalah insya Allah yang terbaik dari Allah. Bukan hanya soal kuantitas, jauh di balik itu Allah akan baikkan (membuat baik) segala urusan kita di dunia dan insya Allah di akhirat kelak, aamiin...

Maka di bulan yang baik ini, ayo kita berupaya untuk selalu melakukan hal yang baik dalam setiap aktivitas kita.

wallahu alam bishawab...


VT_OKTA