Sabtu, 08 September 2018

Dua Jalan


فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا ٨
8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya
Dua jalan yang berbeda sebagaimana yang disebutkan di atas. Ini menjadikan kita sebagai manusia diberikan pilihan oleh Allah, akan menempuh jalan fasik atau takwa. Allah hanya meridhoi jalan ketakwaan. Tinggal manusianya itu sendiri, sungguhkan ingin dan mampu untuk menuju keridhoanNya, atau justru memilih sebaliknya. Dua keadaan yang apabila kita tidak berada di salah satunya, maka kita ada di sisi satu yang lain. Tidak mungkin ada seseorang yang mengaku diridhoi Allah tetapi menempuh jalan yang fasik. Jalan takwa itu mungkin tidak mudah, bahkan mendaki dan sukar. Sebagaimana firman Allah pada surat AL-Balad:
وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ١٠  فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ١١
10. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)
11. Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.
Maka jika kita ingin meraih keridhoan Allah, ingin disayangi Allah, mari kita tempuh jalan ketakwaan (kebajikan), meski jalan itu mendaki dan sukar. Tidak mudah, bahkan mungkin membuat ingin menyerah, ingin mencari jalan yang ringan-ringan saja, jangan kalah. Karena layaknya mendaki gunung yang tinggi dan perjalanan menuju kesana yang tidak mudah dan cukup berat, tetapi jika kita terus mendaki maka insya Allah akan kita dapati pemandangan yang menakjubkan, udara yang sungguh tak terkatakan, dan rasa syukur yang tak dapat dinilai. Begitu pula dengan pendakian di jalan ketakwaan ini, teruslah mendaki, walau mungkin nanti kita akan merasakan kerikil-kerikil tajam godaan, bebatuan ujian, insya Allah yakin kelak kita akan Allah sampaikan untuk dapat melihat “wajah” Allah, rasa hangat dekapan keridhoanNya, dan rasa syukur yang diterima oleh Nya. Aamiin ya rabbal ‘alamiin...
Selalulah waspada dan renungi dirimu sedang ada di jalan yang mana?


Wallahu 'alam bishawab..
                                                                                                        VT_oktha




Selasa, 12 Juni 2018

Kelembutan Hati


Alhamdulillah, pagi ini Allah kembali menghangatkan hatiku. Aku baru sadar ternyata selama ini diantara yang membuatku merasa tidak menjadi lebih baik dan bahkan sering merasa turun iman, adalah karena beberapa hal, diantaranya tentang kelembutan hati. Hatiku masih menyimpan rasa ragu dan bimbang, bahkan kurang syukur atas karunia yang Allah berikan kepadaku. Raguku timbul dengan cara berdo’a yang tidak sungguh-sunggguh. Aku sering berprangsaka bahwa kebaikan yang kini diterima oleh sahabat-sahabatku dan kaka tingkatku adalah berkat kekuatan do’a mereka dan kedua orang tua mereka serta orang-orang yang tulus menyayangi mereka. Sementara dengan do’aku sendiri, tanpa sadar sesungguhnya itu berarti aku kurang kuat dalam berdo’a, dalam artian memohon padaNya pada waktu yang mustajab dan dengan cara yang tepat. Aku sering melalaikan ketika waktu-waktu istimewa yang Allah sediakan untuk mendengar untaian do’a hambaNya dengan lebih  dekat dengan pengabulan, aku tak menghiraukan cara yang seharusnya dapat lebih menggetarkan arasyNya yaitu dengan khusyuk dan sungguh-sungguh, betapa ruginya aku dan betapa lalainya aku, astagfirullah.... Aku sering bimbang dalam mengambil keputusan dan meyakini apakah keputusan yang kuambil  benar, mungkin karena aku jarang melibatkan Allah dalam pengambilan keputusan. Bila diresapi sungguh-sungguh, berapakah kiranya waktuku yang aku dedikasikan, yang aku lakukan karena, bersama, dan untuk Allah? Sungguh amat lalainya hatiku. Bagaimana mau disebut hamba Allah yang sejati? Kurang syukur muncul mungkin disebabkan pembandingan yang aku buat, dengan selalu melihat ke atas dan meratapi apa-apa yang belum ada padaku, padahal berbagai nikmat dan karuniaNya sungguh banyak kepadaku. Selain itu, kurang amanat juga merupakan bukti kekurang syukuranku. Banyak amanat yang kurasa aku lakukan dengan sekenanya, dan bahkan aku lewatkan begitu saja. Padahal dahulu ketika menjadi pendidik baru sebatas impian yang belum bisa diraih, betapa hati ini rindu dan memohon dengan penuh harap ingin diberikan kesempatan dapat menjadi bagian dari pendidikan, dapat memiliki murid yang bisa dibimbing dan sharing ilmu, sehingga menjadi ilmu yang berkah. Fasilitias kemudahan sumber informasi yang membuat segala ilmu mudah didapatkan nyatanya hanya menjadi sumber hiburan bagiku, yang dengan alibi bahwa tidak ada sumber hiburan selain dari padanya untuk saat-saat aku di kostan. Padahal buku adalah jendela ilmu yang lebih aman dan terfokus serta luasnya ilmu Fisika yang belum sungguh-sungguh dan banyak yang belum aku pahami, lalu bagaimana bisa aku ingin menjadi pendidik fisika yang profesional? Astagfirullah... 

Bismillah... aku akan mulai dari hari ini. Ramadhan tahun ini akan membawa perubahan besar bagiku. Modal untukku sungguh-sungguh kembali pada haluanNya. Kembali dengan yakin, dengan istikomah, dan dengan kesyukuran atas amanah dari Nya. Semoga Allah selalu melembutkan hati kita semua, aamiin.


Lahaula wala quwata illa billah...

Sabtu, 02 Juni 2018

Baik


18 Ramadhan 1439 H

Bismillah....
Tentang baik, bukan sekedar banyak...


ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ ٢
2. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun

Pada ayat Al-Qur’an di atas, Allah menyatakan kata “yang lebih baik amalnya”. Kenapa ya baik yang digunakan, bukan banyak? Baik merupakan kata yang menyatakan kualitas, bukan kuantitas. Dalam hal ini, yang ditekankan adalah cara. Cara yang baik. Amal yang baik. Walaupun bisa juga baik itu karena banyak.

Marilah kita coba memahami salah satu ayat di atas dari hal sederhana yang sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Alhamdulillah, bulan Juni ini merupakan diantara bulan yang baru saja terlibur dari berbagai ujian, untuk siswa-siswa sekolah dan begitu pula mahasiswa. Walaupun untukku sendiri, masih ada ujian yang belum selesai karena takehome, hehe.. Baik kita lanjutkan, kenapa membahas ujian? Karena disini kita akan menemui kata baik dan banyak.

Ketika ujian tentunya hasil merupakan suatu yang diharapkan akan bernilai baik dengan nilai yang banyak (besar). Setiap orang yang melakukan ujian tentu ingin lulus dari ujian tersebut dengan hasil yang baik. Maka setiap orang yang ujian akan melakukan usaha dan do’a yang seharusnya “terbaik” yang bisa dilakukannya. Namun, ada masanya setiap orang itu diuji sebelum ujian itu sendiri, yaitu dengan berbagai kegiatan lain atau ganggguan lain, atau mungkin alasan dari dalam diri sendiri yang membuat ia tidak mampu belajar dan berdo’a secara optimal. Maka pada pelaksanaanya, berbuat kecurangan adalah pilihan terdesaknya. Bahkan ada juga kasus bahwa ia sudah belajar dan berdo’a yang terbaiknya, tetapi pada saat pelaksanaannya ia menemui sedikit keraguan, dan ia tidak sungkan untuk saling berdiskusi dengan temannya. Walau hanya sedikit. Nampaknya kecurangan ini sudah dianggap hal yang ladzim bagi sebagian orang. Astagfirullah... Bahkan hampir semua tingkatan pendidikan, terdapat kecurangan di dalamnya. Lantas bagaimana esensi dari ujian itu sendiri? Apanya yang akan teruji? Betapa hal ini tampak sederhana tetapi sangat mendasar. Bayangkan berapa banyak orang yang tadinya berusaha dan berdo’a dengan jujur dan terbaik, tiba-tiba terpatah hatikan ketika banyak yang melakukan kecurangan? Parahnya dan bahayanya, ia ikut tergoda untuk melakukan kecurangan itu juga karena takut jika nanti merugi sendiri dengan nilai yang kecil. Amat benarlah sebuah pepatah bijak yang mengatakan bahwa “orang pintar itu banyak, tetapi sedikit yang jujur.” Padahal kita sebagai orang yang beriman yakin bahwa ada yang Maha Melihat yang selalu mengawasi kita. Kata salah satu dosen ku dulu ketika di UIN, “jika kita melakukan hal yang bertentangan dengan ketentuan Allah, sesungguhnya kita sedang “mematikan” Allah pada saat itu”, naudzubillah.... Astagfirullah... Ampunilah kami ya Allah...

Maka kembali lagi pada berusaha memaknai ayat 2 surah Al-Mulk di atas, kita manusia akan diuji dengan kehidupan dan kematian yang disana Allah akan melihat siapa yang lebih baik amalnya. Maka, cara adalah hal yang amat penting disini. Hasil sebesar apapun yang kita raih bila dengan cara yang tidak baik maka tidak akan bernilai di mata Allah, bahkan bisa jadi menjadi bernilai negatif. Maka, marilah kita perbaharui diri kita, walaupun nampaknya sederhana dan hal kecil, ternyata berani bersikap jujur itu bukan hanya perintah manusia dan penilaian manusia, tetapi juga penilaian Allah, bahkan sejatinya adalah perintah Allah. Perkara dunia juga ada dalam gengaman Allah, kita yakin bahwa Allah Maha Melihat, melihat  betapa sungguh-sungguhnya kita belajar, berupaya, dan berdo’a, maka hasil apapun nanti adalah insya Allah yang terbaik dari Allah. Bukan hanya soal kuantitas, jauh di balik itu Allah akan baikkan (membuat baik) segala urusan kita di dunia dan insya Allah di akhirat kelak, aamiin...

Maka di bulan yang baik ini, ayo kita berupaya untuk selalu melakukan hal yang baik dalam setiap aktivitas kita.

wallahu alam bishawab...


VT_OKTA

Sabtu, 31 Maret 2018

Menulis sepanjang hujan


Bismillah...
Teruntuk calon imamku...
Siapa dan dimana kamu masih belum aku tahu. Malam ini hujan turun dengan cukup deras di rumahku, ku hirup petrichord begitu harum. Tetiba ku bayangkan kelak dapat menghirup petrichord bersamamu, dalam ungkapan kesyukuran dan do’a ketika turun hujan. Hujan, gejala alam yang aku suka, karena mendatangkan kesejukan dan kebermanfaatan. Hai kamu calon imamku, kalau aku boleh berharap semoga kelak aku dapat menjadi hujan, yang senantiasa dapat menjadi penyejuk hatimu. Semoga kamu pun senantiasa memiliki paras wajah teduh, yang senantiasa menyejukkan aku yang menatapmu. Hihi...
Kamu kini sedang berjuang menapaki hari-harimu. Aku disini pun begitu. Meski dalam perjalanan tak kupungkiri kadang rasa lelah dan bahkan ingin menyerah menyembul di hatiku. Tetapi alhamdulillah, Allah yang Maha Menguatkan senantiasa memberikan aku kekuatan untuk kembali melangkahkan kakiku. Aku tahu segala impian itu ada di depan sana, seberapa panjang dan jauhnya insya Allah akan mampu dicapai sepanjang kita tidak berhenti melangkah dan berdo’a pada-Nya. Karena hanya karena kemurahan-Nya kita akan mampu. Oleh karena itu calon imamku, jika kamu kelak menemui suatu hal yang melelahkanmu bahkan membuatmu ingin berhenti, janganlah kalah. Kembalikanlah sepenuhnya kepasrahanmu kepadaNya, sambil bermunajat semoga Allah senantiasa membimbingmu, menatihmu. Karena walau ada berbagai orang di sampingmu kini, mereka tidak akan berarti apa-apa tanpa kehendak-Nya. Jangan takut, jangan ragu, jika lelah kembalikan segalanya agar lillah. Aku dari jauh disini senantiasa menantikan kehadiranmu dan mendo’akanmu. Semoga engkau selalu dilindungiNnya, dikuatkanNya, diberikan jalan yang selalu ada dalam ridho-Nya.
Datanglah calon imamku, tanpa perlu terburu-buru ataupun terlambat-lambat. Tapakilah hari-hari terbaikmu selalu bersama, karena, dan untuk-Nya. Aku bukanlah seseorang yang kamu pilih kelak tanpa persetujuan-Nya. Sehingga semoga aku pun turut menjadi seseorang yang karena, bersama, dan untuk Allah hadir sebagai seseoarang yang akan menemani perjalanan hidupmu ini menuju keridhoan-Nya selalu. Aamiin....


VT_OKTA

Senin, 08 Januari 2018

tentang "sama-sama berjuang"

Tentang makna “sama-sama berjuang”

Aku pernah mendengar ungkapan tentang sama-sama berjuang, atau berjuang dari awal bersama-sama. Hal ini tidak perlu didiskusikan lagi jika dalam arti menjalankan bahtera rumah tangga.
Terkadang aku berpikir apakah iya mereka yang menemani dari awal adalah sungguh dapat dikatakan sama-sama berjuang? Dalam artian belum menjadi pasangan hidup. Akupun berpikir bahwa arti berjuang disini haruslah kita cermati. Kadang kita belum mampu melihat makna dari sebuah kata yang telah ada artinya secara umum dan sudah sering digunakan. Ayo kita coba maknai dan lihat dengan kacamata hikmah. Jika kita mengartikan kata sama-sama berjuang dengan cara selalu ada setiap disaat suka maupun duka bersamanya tetapi dalam ikatan yang sesungguhnya tidak diperbolehkan di dalam agama islam, maka kiranya hal ini tidaklah tepat. Lalu apakah iya dua orang yang berjuang sendiri-sendiri dikatakan tidak sama-sama berjuang? Padahal keduanya adalah dua orang yang sama seperti insan lainnya yang ingin dapat memiliki sandaran di setiap hari-harinya? Tetapi memilih untuk bersabar hingga waktu yang telah dicatatkan oleh Allah tiba. Apakah tidak dikatakan berjuang, orang yang lebih memilih sepi daripada ramai tetapi tidak sesuai dengan keridhoanNya? Bukankah dengan belum jelasnya seseorang yang kelak menemani hidup kita menjadikan kita lebih sungguh-sungguh dalam berusaha dan berdo’a? Bukankah keresahan yang menghampiri telah kian meninggi dan kita memilih berpasrah, bersabar dan berjuang dengan yakin pada ketentuanNya adalah berjuang? Kita sama-sama berjuang, walaupun kita tidak sedang bersama. Percayalah sahabat, kita semua diuji dengan kehadiran setiap kita. Bukan berarti aku tidak menginginkan siapapun ada di kehidupanku sekarang. Tetapi tentang ruang hati yang hanya Allah siapkan untuk seseorang yang halal kelak, biar aku berjuang disini untuk menjaga ruang itu. Begitupula dirinya disana. Dan tentang perjuangan untuk menyiapkan bekal perjalanan, bukan berarti pula ketika kami dipertemukan kelak dalam keadaan yang harus sudah siap segala jenis perbekalan. Yang terpenting dari makna berjuang ini, aku ingin kita sama-sama pahami dan yakini, bahwa kita selalu berjuang untuk menjaga apa yang seharusnya dijaga, meraih apa yang seharusnya diraih, memberi apa yang seharusnya diberikan, yang semuanya itu adalah dalam rangka sama-sama berjuang di dalam koridor keridhoanNya. Yakinlah perjuangan yang sesuai dengan tuntunan illahi akan membawa kita pada kebahagiaan yang hakiki, insya Allah. Semoga Allah selalu menuntun kita semua, aamiin... :) 


Sabtu, 25 November 2017



Kenapa mau jadi guru? ga ada uangnya..

Begitulah ucap seseorang kepadaku. Aku jawab dengan tersenyum “ya ingin saja”. Padahal bukan sekedar ingin. Banyak penyebab yang membuat aku ingin menjadi seorang guru. Diantaranya karena aku merasa diantara profesi yang dapat berkesempatan untuk bisa mengajak orang lain dalam kebaiakan, adalah dengan menjadi guru. Bisa bertatap muka dengan banyak wajah yang polos, yang masih memerlukan bimbingan, tuntunan. Apalagi pada realitanya tidak semua anak tumbuh dalam lingkungan keluarga yang baik. Maka diantaranya dengan menjadi gurulah aku dapat sedikit mencurahkan kasih sayang kepada peserta didikku. Proses belajar mengajar adalah lingkungan yang amat aku sukai. Dimana di sana ada upaya menuju kebisaan dari ketidak bisaan, ada proses menjadi tahu dari yang tadinya tidak tahu. Ada mimpi yang begitu indah yang tersorot dari mata mereka, atau sederhana dengan harapan esok mentari akan lebih cerah, masa depan akan ada dan bahagia. Aku menyukai setiap hariku di sekolah, dapat tersenyum bersama, berpusing-pusing bersama dalam mengerjakan sesuatu yang belum dibisa. Berdoa dan berharap bersama. Walau tak terhindarkan pernah kuluapkan kata-kata tegas bahkan dengan nada keras kepada mereka, namun semua itu tidak lain adalah agar mereka tidak melakukan hal yang salah lagi. Tugas-tugas yang tegas mungkin diantara yang selalu aku berikan apalagi sebagai guru eksak.  Kelak mereka akan mengerti arti mengapa guru-guru harus begini dan begitu. Walau guru pun tidak luput dari khilaf dan salah. Di kesempatan yang baik ini, aku ucapkan syukurku Allah amanahkan  menjadi guru sebagai bagian dari peran hidupku. Semoga Allah menuntunku untuk dapat menjadi guru yang amanah, yang baik bagi semua peserta didikku tanpa terkecuali, yang kelak dapat merangkul semua hati agar dapat berubah untuk menemukan jati diri dan harapan kehidupan yang lebih baik. Kasih sayang ku sebagai guru yang belum sebarapa ini semoga Allah tanamkan kepada semua peserta didikku, aamiin...

Bila semua berkata terima kasih guru, maka akan kuucap terimakasih semua peserta didikku..


Dan tak lupa untuk semua guru-guruku, dosen-dosenku, kalianlah panutanku, semua guru-guruku adalah sosok yang turut menuntunku menapaki langkah hidupku, semoga keberkahan Allah senantiasa mengiri guru-guruku...aamiin...

VT_OKTA

Rabu, 16 Agustus 2017

Merdeka 72 Tahun Indonesia Kita


DIRGAHAYU RI ke 72 :D

Merdeka, atas berkat rahmat  Allah yang Maha Kuasa. Alhamdulillah hari ini negeri kita Indonesia genap 72 tahun merdeka. Segala pengorbanan dan perjuangan para pendahulu kita semoga Allah balas dengan pahala yang terus mengalir, aamiin. Segala kesalahan dan kerusakan yang mungkin pernah kita lakukan sebagai generasi saat ini, semoga Allah ampuni. Semoga Allah limpahkan karunia dan keberkahan-Nya kepada kita semua bangsa Indonesia dimanapun berada, aamiin.

Berawal dari mencoba mendefinisikan arti merdeka. Betapa ada makna yang berhubungan dengan pondasi kehidupan kita yaitu tauhid. Kita dikatakan sudah merdeka yang sebenarnya bila kita sudah benar-benar memurnikan niat kita hanya karena Allah, merdeka dari segala macam sifat ingin dilihat orang lain, ingin mendapatkan penilaian dan pengakuan dari orang lain. Kenapa begitu? Karena itulah sendi utama kehidupan kita. Permasalahan dunia, berbangsa bernegara, bahkan urusan akhirat semuanya bertolak dari tauhid. Rasulullah SAW diutus untuk menegakkan kalimat tauhid. Maka sebagai seseorang yang ingin menjadi hamba Allah yang sejati dan ingin terdaftar sebagai umat Nabi Muhammad SAW, sudah menjadi tugas kita jugalah untuk dapat menegakkan tauhid di dunia ini. Dimulai dari diri sendiri tentunya.

Aku ingin bercerita tentang kaitan tauhid ini dengan rasa yang pernah ada pada seorang perempuan biasa sepertiku. Jujur aku tidak lepas dari rasa menyukai seorang insan. Walaupun sering aku elakkan dan aku nyatakan bahwa hal itu bukanlah suka yang berlebihan. Tetapi tetap saja kini aku sadari bahwa hal itupun berimbas pada hidupku, mungkin juga pada niatku. Astagfirullah...hamba memohon ampunan kepada Allah. Sekarang alhamdulillah, aku rasa Allah sudah sungguh-sungguh memerdekakan hatiku dari berharap kepada makhluk. Mengenai fitrah mencinta, aku bukannya tidak ingin, hanya ini belumlah saatnya. Juga aku tidak mau kalau sampai kecintaanku kelak pada seseorang atau sesuatu, melebihi kecintaanku kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka untuk kondisi hati yang insya Allah sungguh telah steril dari harap-harap pada selain Allah, aku bersyukur. Bukan berart kita tidak boleh berharap, tetapi sekarang aku sadar bahwa mengharapkan cinta Allah adalah yang utama dan selalu utama, sedang yang lain hanyalah penunjang menguatnya cinta pada Allah. Semoga Allah meridhoi kita semua, dan melimpahkan karuaniaNya untuk dapat sungguh-sungguh memiliki dan mencapai keadaaan mencintai karena Allah, kepada siapapun itu dan apapun itu, aamiin...

Tak lupa, semoga momen kemerdekaan ini juga menjadikan kita semakin mengevaluasi diri, sudah sejauh manakah kontribusi kita untuk negeri. Semoga seiring bertambahnya usia bumi pertiwi ini, bertambah pula dedikasi kita untuk menjadi bagian yang mewujudkan cita-cita kemerdekaan, dan berkah Allah selalu mengiringi, aamiin...

 Dirgahayu Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 


                                                                                  VT_Okta


sumber foto: instagram Teladan Rasul