Selasa, 07 Mei 2019

Memutar Waktu


Kembali ke masa yang mana yang kau inginkan?

Alhamdulillah, hari ini telah memasuki hari keduan di bulan Ramadhan 1440 H. Salah satu berkah di awal Ramadhan ini aku bisa kembali berkumpul bersama keluarga di rumah. Maka, kalau mudik salah satu yang biasanya aku lakukan (kalau lagi ingin saja sih, hehe) adalah membaca buku harianku yang dulu-dulu. Beberapa cerita yang aku tulis tentang hal-hal yang aku alami, dapat membuat senyum-senyum sendiri, hehe. Setiap tulisan itu menjadi bukti dan pengingat tentang bagaimana cara pandang yang aku miliki bermetamorfosis yang semoga menjadi semakin kepada cara pandang yang benar. Kemudian aku jadi teringat betapa bahagianya di kala momen-momen tertentu di masa-masa yang lalu. Kadang rasa ingin kembali ke masa dulu juga turut menjelma. Pernah ku baca sebuah tulisan di media sosial yang intinya jika kita diberikan kesempatan bisa kembali ke masa lalu, maka masa kapankah yang ingin kita kembali ke dalamnya?

Akupun ingin kembali ke masa ketika ku masih kanak-kanak, kurang lebih sekitar ketika aku masih di sekolah dasar sampai menengah, dimana pada masa-masa itu yang paling aku manis rasakan adalah ketika aku dan sahabat-sahabatku dengan penuh semangat hampir setiap malam kami pergi mengaji ke masjid salah satu tempat kami belajar mengaji dan mengkaji. Bahkan tak pandang cuaca cerah maupun hujan, terang maupun mati listrik, kami pernah lalui, dan saat-saat itu kurasakan masih murni dan jernihnya pikiran dan hati, dan do’a-do’a yang senantiasa dipanjatkan dengan indahnya. Pernah juga beberapa sahabat ku berkata, katanya “perasaan waktu dulu kita masih  kecil, fokus ngaji, jadi apa-apa itu lebih mudah, lebih konsen.” Ada juga sahabatku yang lain yang bilang kalau sekarang dimana sudah dewasa dan cukup sibuk untuk bekerja, menjadikan susah waktu dan jarang untuk membaca Al-Qur’an, tidak seperti ketika dulu. Pada intinya kurang lebih masa-masa mengaji bersama dulu adalah anugerah dari Allah yang amat berharga di dalam hidupku. Walaupun aku belum berkesempatan menuntut ilmu secara formal di pesantren, tapi alhamdulillah Allah memberikan aku kesempatan belajar agama dan banyak hal dari majelis taklim tempatku mengaji sewaktu dulu dengan guru-guru mengaji yang subhanallah sangat the best.

Namun akupun pikir kembali dan rasakan ingin kembali pada masa ketika aku di sekolah menengah atas. Dimana pada masa itu aku dan sahabat-sahabatku senantiasa lebih bersemangat dalam merangkai angan dan cita-cita. Bahkan pemanis masa putih abu pun tidak luput dari kisah kami, walaupun hanya sesederhana rasa senang karena melihat seseorang yang disuka, hehe. Masa putih abu adalah masa dimana sikap dan prinsip hidup mulai coba dibentuk. Impian mulai dirangkai dan kondisi yang masih sangat full energi untuk bertumbuh, untuk mencoba dan menerima ilmu dan pengalaman baru dan seru. Baik secara petualangan sehari-hari seputar dunia akademik, organisasi, dan lain sebagainya.

Namun, aku kembali berpikir dan ingin kembali ke masa-masa ketika aku kuliah. Dimana pada saat itu juga merupakan masa peralihan dari yang mencari jati diri menjadi seseorang yang berusaha menjadi diri yang berpotensi dan mengembangkannya sehingga menjadi pribadi yang utuh, yang kelak siap untuk mngabdi sesuai dengan apa yang disandang kelak. Dan pada masa kuliah ini juga, alhamdulillah merupakan masa dimana Allah mengundangku untuk berkunjung ke Baitullah, maka itulah masa yang amat sangat ingin kukembali. Masa dimana ibadah vertikal dan horizontal begitu manis kurasakan, subhanallah. Pada intinya juga kurasakan masa-masa di selama kuliah ini merupakan fase dimana menuntut ilmu dengan tujuan yang lebih terasa, tanggung jawab keilmuwan yang mulai tumbuh, sikap berorganisasi yang mulai matang, dan pengalaman-pengalaman yang luar biasa yang telah Allah berikan, belajar menjadi bagian dari masyarakat dan mengabdi di masyarakat.

Dan akupun tersadar bahwa intinya pada masa apapun itu segala timingnya sudah Allah berikan pada waktu yang paling tepat. Mungkin saat ini kupikir adalah bukan masa yang paling menyenangkan, karena berbagai alasan. Padahal, masa-masa lalu itu ada, adalah untuk menjadikan aku bisa sampai pada masa kini. Allah tidak semerta-merta menjadikan hal yang saat ini ada, jika tidak ada proses dan tahapan di masa lalu. Dan jika kita merasa beban dan problematika hidup kita semakin kompleks dan berat, yakinlah bahwa selalu Allah sediakan pundak yang mampu untuk menanggungnya. Allah memberikan ujian sesuai dengan kemampuan hamba-hambaNya. Segala manis yang kita kecap dimasa dulu bukan berarti tidak ada beban dan rintangan yang kita hadapi pada masa itu, suka dan duka tetap paket lengkap yang menjelma sesuai dengan kadar kemampuan yang Allah titipkan pada kita sesuai masanya. Hanya saja terkadang kita yang katanya semakin dewasa, malah lebih pintar untuk mencari alasan, lebih pandai dalam mengeluh, dan lebih iri melihat pencapaian orang lain tanpa mengambil hikmah bagaimana perjuangan mereka untuk sampai pada tahap itu semua. Maka inti dari tulisan kali ini adalah ketika hidup kita hari ini kita jalani dengan sabar, ikhlas, dan penuh syukur, insya Allah ini akan menjadi masa yang memang kita inginkan, dan tidak akan pernah terbesit untuk “melarikan diri” ke masa apapun dalam rangka menghindari kenyataan saat ini. Sepahit apapun, selelah apapun, sesesak apapun, bismillah..kuatkan niat, do’a dan usaha untuk terus melangkah. Karena ada Allah yang selalu membersamai langkah kita semua. Bismillah....


VT_Oktha