Senin, 04 Februari 2019

tentang rantau


 Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

(Imam Syafii’, 767-820 M)

Dari kata mutiara di atas aku kembali tersadar, bahwa merantau menjadi bagian dari perjuangan para penuntut ilmu dan yang selalu berusaha mengabdi dan bermanfaat. Kata mutiara itu aku kutip dari salah satu novel karya A. Fuadi, dimana sebetulnya novel itu sudah aku punya dari tahun 2011, ketika aku masih di bangku SMA. Tetapi sekarang aku baru menyadari maknanya. Tarulah dalam arti ku sekarang bukan masalah jangkauan beda negara untuk merantaunya, atau bisa jadi belum, tetapi tetap tidak mengurangi maknanya. Aku agak sedikit merasa janggal setelah menulis tulisan ku sebelumnya yang didalamnya ada kalimat “takut menjadi terasing”. Berulang kali aku ingin menghapus atau mengeditnya, tetapi kuurungkan. Biarlah itu kemarin menjadi pengingat, untuk menjadi bahan bakar ke depannya. Langkah tidak selalu mudah, tetapi Allah selalu melimpahkan karunia dan pertolonganNya. Maka, bismillah sekarang aku paham, dan memang benar. Kalau kita mau jujur dan lebih membuka mata hati, betapa lebih banyak hal baik yang Allah titipkan kepada kita dibandingkan sedikit rasa ketakutan atau kekhawatiran apapun. Maka hati yang lapang bukanlah sesuatu yang hanya diucapkan, terlebih adalah sesuatu yang sungguh terasa dan terwujud dari hati yang selalu ikhlas dan ridho, serta tidak pernah lupa untuk bersyukur. Maka untuk segala amanah yang Allah masih percayakan kepada kita, dan Allah masih memberikan kita waktu untuk menunaikan amanah tersebut, insya Allah aku akan mensyukurinya dengan menjalankan dengan sungguh-sungguh dan melakukan yang terbaik karena Allah. Aku menyayangi banyak hal di setiap hari-hariku kini, terlebih Allah limpahkan kasih sayangnya dari hal-hal yang ku sayangi itu kembali menyayangiku dengan lebih. Maka selalu begitu, ketika semua yang kita sayangi adalah semata-mata agar Allah ridho dan sebagai bukti sayang kita kepada Allah, maka tanpa ada setitikpun ragu kasih sayang Allah pasti lebih membanjiri hati kita. Subhanallah...walhamdulillah... Benarlah pada hadist qudsi kurang lebih: “Jika kita mendekat kepada Allah sejengkal, Allah akan mendekat kepada kita sehasta. Jika kita mendekat kepada Allah dengan berjalan kaki, Allah akan mendekat kepada kita dengan berlari” Allahu akbar... subhanallah...walhamdulillah.....
Maka di sini aku insya Allah merupakan pribadi yang insya Allah siap untuk Allah tempatkan dimana saja. Aku pun kembali teringat bahwa do’aku dulu yang sering kupanjatkan diantaranya adalah “semoga Allah tempatkan ku di tempat yang terbaik menurut Allah, dan Allah memberikan aku kekuatan untuk melakukan yang terbaik di dalamnya,” aamiin....
 Btw luar negeri dulu merupakan sesuatu yang aku enggan untuk pergi kesana (studi misalnya kuliah), dulu ku bilang “aku tidak melihat impianku di luar sana” dan dengan alibi bahwa orang tuaku tidak mau aku jauh (kecuali ada yang tanggung jawab, a.ka suami, hehe). Selanjutnya aku pun pada fase yang bilang, semoga Mekah adalah luar negeri yang pertama kali kupijak (dalam artian menunaikan ibadah umrah/haji), baru kemudian negara  lainnya (alhamdulillah Allah kabulkan untuk Mekah). Selanjutnya tahap dimana aku ingin “bisa ke luar negeri untuk mewakili atau dengan alasan pelatihan guru di Jepang, misalnya”. Sampai juga aku ingin double degree di upi dan hiroshima university dengan konsekuensi aku harus ambil pend. Ipa bukan pend. Fisika (maka aku pun sempat menjadi pejuang LPDP untuk pend. IPA), hehe... Sampai tahap sekarang sesederhana aku melihat gunung dari sepeda motor yang kukendarai ketika aku akan menuju ke sekolah tempatku mengajar, aku membayangkan bahwa suatu hari adalah gunung Fuji yang aku lihat, hehehe... Aku pun sempat sedikit terhenyak, seorang kakak tingkat ku bilang kepadaku bahwa salah satu negara yang akan ia ingin jadikan tempat melanjutkan studi adalah Mesir (disitu kenapa aku terhenyak karena dulu aku pun begitu ingin ke Mesir, ke Al-Azhar meski aku belum tau jurusan sainsnya disana bagaimana, tetapi aku ingin karena termotovasi a.k.a kebita dari novel-novelnya kang Abik, hehe). Benua biru, juga merupakan salah satu status seseorang yang dulu aku sering stalkingin medsosnya ketika aku SMA dan kuliah S1, hehe.. Bahkan Univ. Harvard dan MIT merupakan dua universitas yang diinginkan oleh kedua sahabat baikku. Dipikir-pikir mimpi-mimpi itu sempat terurai, meski belum kini kita sampai. Karena satu dan lain hal. Tapi aku percaya, bahwa Allah selalu menjawab do’a kita dan memberikan hikmah dibalik itu semua. Dari novel teman imaji bilang “jawaban do’a selalu iya: iya sekarang, iya tapi nanti, atau iya tapi yang lain”. Namun kesemua itu kuyakin intinya aku ingin “pergi untuk kembali”, kembali untuk negeriku, maka begitu pula dengan kampung halamanku. Semoga suatu saat aku pun dapat kembali ke kampung halamanku dengan membawa kemanfaatan dari ilmu dan pengalaman yang aku dapatkan dari luar kampung halamanku. Walau dengan apapun nanti caranya, baik cara yang besar ataupun cara yang sederhana. Karena motovasi terbesarku sebenarnya adalah dulu aku sekolah di daerah, aku merasa ketinggalan ini itu dan pada beberapa hal merasakan diskriminasi ketika lomba, hehe.. juga merasa amat gereget karena teman-temanku yang mencintai ilmu tetapi belum bisa kuliah, karena hal ini dan itu yang menurutku andai saja dari pihak sekolah ada yang membantu memperjuangkan atau memberikan jalan, mungkin insya Allah akan ada jalan yang lebih baik untuk pendidikan mereka. Maka dari dulu misi aku salah satunya adalah untuk hal itu, jika ku kembali ke kampung halamanku. Namun alhamdulillah, sepertinya sedikit banyak sekarang sekolah di daerah ku sudah semakin maju. Sehingga mungkin lahan aku untuk berbakti belum saatnya disana. Maka disinilah di sekolah ku yang sekarang, aku menemukan begitu banyak mutiara dan pengalaman yang tidak mungkin bisa ku temukan jika di tempat lain (insya Allah suatu hari kuceritakan). Maka, alhamdulillahi rabbil ‘alamiin... alhamdulillah ‘ala kulli hal...

Semoga Alllah senantiasa meridhoi langkah kita semua, dan senantiasa menjadikan kita hamba Allah yang tidak lelah menggapai impian-impian kita, aamiin....

(VT_OKTA)