PERTANYAAN REFLEKSI
Setelah mengetahui dan
memahami konsep SEL, Anda selanjutnya diminta menjawab pertanyaan berikut :
a. Pemahaman baru apa
yang Anda dapatkan setelah mempelajari konsep SEL?
Jawab:
Saya mendapatkan
pemahaman tentang komponen-komponen pada pembelajaran sosial emosional dan
mengajarkannya dengan rinci dan aplikatif, terutama pembelajaran sosial
emosional berbasis Emphaty, Mindfullness,
Compassion and Critical Inquiry (EMC2).
b. Apa saja
tantangan/hambatan dalam menerapkan pembelajaran sosial emosional?
Jawab:
Tantangan bagi saya
dalam menerapkan pembelajaran sosial emosional yaitu ketika mengintegrasikan
komponen yang diharapkan dapat muncul dengan langkah atau tahapan dalam metode
pembelajaran yang saya pilih. Selain itu, karena setiap diri peserta didik unik
dengan sosial emosional yang beragam maka diperlukan langkah awal untuk dapat
mengidentifikasi terlebih dahulu bagaimana kecerdasan sosial emosional peserta
didik dan dibutuhkan data atau kerjasama dari guru BK atau guru lain untuk
memperoleh data yang menunjang.
c. Buatlah program
untuk Anda sendiri sebagai guru, apa saja yang perlu Anda persiapkan untuk
mengajar? Apa kelebihan dan kekurangan Anda terkait masalah emosi? Bagaimana
Anda akan mengembangkan kemampuan sosial emosional Anda.
Jawab
:
Program
untuk diri saya sebagai guru yaitu check
feeling dan menulis jurnal refleksi. Check
feeling yaitu memastikan diri saya berada dalam kondisi yang sehat secara
jasmani dan rohani, mempersiapkan mental dan kesadaran yang penuh untuk dapat
mendidik peserta didik dengan sepenuh hati sehingga pembelajaran yang saya ampu
mampu untuk mencerdaskan sosial emosional peserta didik bukan hanya
mencerdaskan secara kognitif. Jurnal refleksi berisi muhasabah diri terkait
hal-hal yang sudah dilakukan di hari ini selama proses pembelajaran untuk
diambil hikmah dan mengevaluasi perkembangan kecerdasan sosial emosional diri
saya sebagai guru.
Kelebihan
saya terkait masalah adalah saya tidak mudah terbawa emosi dalam menghadapi
peserta didik yang memiliki perilaku unik dan saya menjadikan hal tersebut
sebagai motivasi dan tantangan untuk dapat membimbing peserta didik tersebut
agar lebih baik. Kekurangan saya
terkait emosi terkadang ketika saya ingin memberikan pengarahan atau teguran kepada
murid karena melakukan kesalahan berulang dan mengganggu kenyamanan iklim
kelas, kadang penyampaian saya yang ingin tegas namun kadang terkalahkan dengan
perasaan sedih atau kecewa saya sehigga kadang teguran tersebut kurang efektif
dan kurang berpower.
Saya akan mengembangkan kecerdasan sosial emosional saya dengan lebih memperkaya wawasan pengetahuan tentang kecerdasan sosial emosional dari berbagai referensi atau pelatihan, mendiskusikan permasalahan kecerdasan sosial emosional dengan rekan sejawat, dan senantiasa melakukan refleksi diri.
MasyaAllah, materi ini mengingatkan saya tentang pendekatan SEL dalam proses belajar-mengajar. Saya merasakan betul pentingnya memastikan kondisi sosial & emosional baik murid sebagai peserta didik maupun guru sebagai fasilitator agar tercapainya pembelajaran yamg berkualitas & mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri.
BalasHapusGuru sebagai pendidik memang memegang peranan penting untuk menjadi teladan bagi peserta didiknya. Jika guru sendiri belum memiliki kecerdasan sosial emosional maka akan cukup sulit bagi guru untuk dapat membimbing murid memiliki kecerdasan sosial emosional. Maka dimulai dulu dari gurunya.
BalasHapusPendekatan SEL membantu peserta didik dalam mengembangkan keterampilan sosial dan emosionalnya. Dan tentunya guru memiliki peranan penting sebagai fasilisator. Ada tiga kata mujarab yang selalu saya ajarkan kepada peserta didik dalam pendekatan SEL ini yaitu maaf, tolong, dan terima kasih.
BalasHapusTulisan yang sangat bermakna. Pembelajaran sosial emosional memang menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan suportif. Terima kasih telah berbagi praktik baik yang bisa menjadi inspirasi bagi rekan-rekan pendidik lainnya.
BalasHapus